maglearning.id

Pembelajaran Daring dan Student Centered Learning

Beberapa hari lalu saya membaca status media sosial teman saya yang seorang guru. Di status itu ia mengeluhkan bahwa sebagian besar peserta didiknya kurang aktif dalam pembelajaran online. Padahal ia sudah mencoba berbagai strategi dan pendekatan. Ia juga sudah berusaha maksimal dalam memenuhi tuntutan peserta didiknya tersebut. Mulai dari membuat tutorial sampai penggunaan berbagai moda yang disukai oleh peserta didik.

Namun, segala upaya itu seakan sia-sia belaka. Paling tidak ini yang mengawali diskusi kami yang cukup panjang. Mengatasi masalah ini bukan perkara mudah. Menyalahkan keadaan karena terpaksa menggunakan pembelajaran online juga menurut saya terlalu terburu-buru.

Ya, pembelajaran online atau pembelajaran dalam jejaring (daring) saat ini menjadi pilihan utama. Pandemi Covid-19 yang masih belum sepenuhnya mereda membuat guru mengambil keputusan ini. Adanya risiko yang masih sangat besar untuk menggelar pembelajaran tatap muka tidak sebanding dengan manfaat yang didapatkan.

Banyak sekali suara minor yang dialamatkan pada pembelajaran daring ini. Tidak hanya orang tua, peserta didik atau orang awam, bahkan guru berpengalaman pun sering mengkambinghitamkan pembelajaran daring yang menyebabkan ketidakaktifan peserta didik mereka. Tapi tunggu dulu, kita juga perlu melihat bagaimana pembelajaran tatap muka berjalan sebelum pembelajaran daring menjadi pilihan utama.

Bisa jadi berbagai masalah yang muncul dalam pembelajaran daring saat ini adalah kelanjutan dari masalah di pembelajaran tatap muka yang telah dilakukan, hanya saja mungkin belum tampak dengan jelas. Misalnya saat ini hanya sebagian kecil peserta didik saja yang aktif dalam pembelajaran daring. Bagaimana ketika pembelaran tatap muka? Apakah semua peserta didik juga nampak aktif?.

Sudah bukan menjadi masalah klise, ketika kita melaksanakan pembelajaran di dalam kelas biasanya hanya beberapa peserta didik saja yang aktif, terutama peserta didik yang duduk di barisan depan. Apalagi masih banyak rombongan belajar dengan jumlah yang besar, hal ini sudah pasti terjadi. Nah, di pembelajaran daring pun biasanya berlanjut. Jadi, bila ini yang terjadi jangan disalahkan pembelajaran daring. Yang ada justru di pembelajaran daring ini berpotensi untuk membuka ruang komunikasi peserta didik dengan guru yang kurang nyaman dengan komunikasi tatap muka atau tidak tersedianya waktu dan ruang yang cukup bagi mereka untuk berinteraksi dengan gurunya.

Pembelajaran Berpusat Pada Peserta Didik

Ketidakaktifan peserta didik ini sebenarnya tidak melulu kesalahan lingkungan atau kealahan guru dalam memilih pendekatan pembelajaran. Peserta didik saat ini sebagaian besar sudah memiliki pemikiran yang rasional. Bila kita menggunakan pendekatan konstruktivistik, pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik sepenuhnya dikendalikan oleh mereka sendiri. Bila menggunakan pendekatan behavioristik pun hanya akan berlaku pada lingkungan tertentu dan sudah tidak banyak bekerja pada pembelajaran peserta didik di era modern ini, kecuali pada kondisi tertentu yang sudah semakin tidak populer.

Belajar sepenuhnya ada dalam kendali peserta didik, apalagi mereka yang sudah dewasa. Mereka tidak akan belajar bila mereka beranggapan bahwa tindakan ini tidak ada gunanya. Peserta didik tidak akan lebih termotivasi secara internal dari pada dari luar dirinya, mereka juga akan membawa pengalaman hidup dan pengetahuan ke pengalaman belajar. Belajar bagi pserta didik ini lebih berorientasi pada tujuan dan cenderung bersifat praktis. Dengan demikian mereka akan melihat relevansi dari proses pembelajaran dengan manfaat praktis serta tujuan yang ingin dicapai.

Melihat aspek-aspek tersebut diatas maka sangat penting untuk menggunakan pendekatan pembelajaran berpusat pada peserta didik. Istilah pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered learning) muncul sebagai respons terhadap kondisi pendidikan yang tidak sepenuhnya memperhatikan apa yang perlu diketahui peserta didik atau metode apa yang paling efektif dalam memfasilitasi pembelajaran untuk peserta didik baik secara kelompok ataupun secara individu.

Dulu pembelajaran di sekolah sering dianggap “berpusat pada sekolah” atau “berpusat pada guru”, karena sekolah sering kali diatur dan dikelola dengan mengikuti aturan-aturan operasi organisasi karena dianggap sebagai cara yang paling efektif untuk mendidik. Sekolah menjadi jauh lebih mudah dikelola dari perspektif kelembagaan, administratif, atau logistik jika semua peserta didik diajar di ruang kelas di bawah pengawasan guru, jika mereka diberi serangkaian pilihan matapelajaran, jika mereka semua menggunakan buku teks dan sumber belajar yang sama, atau jika pembelajaran berlangsung sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan sebelumnya.

Di era tahun 1930-an, di dunia pendidikan sudah mulai muncul istilah “berpusat pada guru” dan “berpusat pada peserta didik” untuk menggambarkan dua pendekatan berbeda dalam pembelajaran. Berpusat pada guru biasanya mengacu pada situasi pembelajaran di mana guru menegaskan kendali atas materi yang dipelajari peserta didik dan cara mereka mempelajarinya, yaitu: kapan, di mana, bagaimana, dan dengan kecepatan apa mereka mempelajarinya. Di kelas pembelajaran berpusat pada guru, guru cenderung menjadi orang yang paling aktif di ruangan itu dan melakukan sebagian besar pembicaraan (misalnya, dengan memberi ceramah, mendemonstrasikan konsep, membaca dengan lantang, atau mengeluarkan instruksi), sementara peserta didik menghabiskan sebagian besar waktu waktu mereka duduk di meja, mendengarkan, mencatat, memberikan jawaban singkat atas pertanyaan yang diajukan guru, atau menyelesaikan tugas dan tes. Selain itu, di kelas yang berpusat pada guru, guru juga dapat memutuskan untuk mengajar peserta didik dengan cara yang mudah, akrab, atau disukai secara pribadi, tetapi itu mungkin tidak bekerja dengan baik untuk beberapa peserta didik atau menggunakan teknik instruksional yang terbukti paling efektif untuk meningkatkan pembelajaran.

Sebaliknya, pembelajaran berpusat pada peserta didik biasanya mengacu pada bentuk pembelajaran yang misalnya memberi peserta didik kesempatan untuk memimpin kegiatan pembelajaran, berpartisipasi lebih aktif dalam diskusi, merancang proyek pembelajaran mereka sendiri, mengeksplorasi topik yang menarik bagi mereka, dan umumnya berkontribusi pada desain pembelajaran. Selain itu, pembelajaran yang berpusat pada peserta didik sering dikaitkan dengan ruang kelas yang memiliki meja yang diatur dalam lingkaran atau kelompok kecil (bukan deretan meja yang menghadap guru), dengan pembelajaran “mandiri”, atau dengan pengalaman belajar yang terjadi di luar pengaturan ruang kelas tradisional atau gedung sekolah, seperti magang,  proyek penelitian independen, kelas online, pengalaman perjalanan, proyek layanan masyarakat, atau bentuk-bentuk lain yang lebih sesuai dengan keinginan peserta didik.

Walaupun banyak konsep tentang pembelajaran yang berpusat pada peserta didik ini namun ada beberapa karakteristik mendasar yang perlu diperhatikan. Diantaranya adalah:

Nah, sekarang kita bisa meraba bagaimana pembelajaran yang telah kita terapkan pada peserta didik kita. Sebagai orang tua kita juga tentunya bisa merasakan bagaimana anak kita belajar di sekolah dan bagaimana perilaku mereka di rumah. Apakah mereka lebih proaktif dalam belajar ataukah masih mengandalkan lingkungan?.

Pembelajaran daring sebenarnya bisa menjadi sebuah jawaban bagaimana peserta didik bisa belajar kapan saja dan dimana saja. Mereka juga bisa dengan merdeka memilih sumber belajar mana yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang mereka hadapi. Namun, pembelajaran daring saja tidak cukup bila sistem pembalajaran tidak dibuat berpusat pada mereka. Sekarang kita bisa menilai apakah pembelajaran daring ini merupakan manifestasi dari “merdeka belajar” yang sesungguhnya, ataukah hanya sekedar “boyong” dari kelas tradisional menjadi kelas daring tanpa mengubah esensinya, dari belajar berpusat pada guru menjadi berpusat pada peserta didik?.

Exit mobile version