Prinsip Prinsip Komunikasi Pendidikan

Prinsip Prinsip Komunikasi Pendidikan

Prinsip Prinsip Komunikasi Pendidikan – Komunikasi adalah keniscayaan dalam pendidikan, sebab bagaimanapun juga setiap proses pembelajaran adalah proses komunikasi. Tidak peduli bagaimana siswa itu belajar dan dengan pendekatan teori apa kita memandang mereka belajar.

Misalnya pembelajaran melalui akuisisi, di mana siswa mengakuisisi dari guru mereka atau dari sumber-sumber belajar yang mampu diakses oleh siswa. Sebenarnya yang terjadi adalah proses komunikasi, walaupun komunikasi itu dominan berlangsung secara searah. Yaitu dari guru ke siswa atau dari pengembang sumber belajar (bahan ajar) kepada siswa melalui sebuah media pembelajaran.

Belajar melalui inkuiri pun demikian adanya. Apa lagi belajar melalui diskusi atau kolaborasi, di mana kedua cara belajar tersebut akan lebih dominan terjadi komunikasi dua arah.

Nah, komunikasi dalam pendidikan ini amat penting. Oleh sebab itu memahami prinsip prinsip komunikasi pendidikan adalah sebuah keharusan bagi seorang guru maupun calon guru. Ini adalah modal dasar bagi setiap pendidik, agar tidak terjadi miskomunikasi yang akan mengganggu proses pembelajaran.

Komunikasi yang efektif akan menjamin setiap pesan tersampaikan dengan baik dan lebih mudah diterjemahkan oleh siswa dan guru untuk memberikan umpan balik (feedback) yang tepat. Jadi komunikasi ini adalah nyawa dari setiap proses pembelajaran.

Apa saja Prinsip prinsip Komunikasi Pendidikan ?

Hampir di seluruh kegiatan manusia, di mana pun berada, selalu tersentuh oleh komunikasi. Bidang pendidikan tak terkecuali. Belajar tidak akan bisa berjalan tanpa dukungan komunikasi, artinya pendidikan hanya bisa berjalan melalui komunikasi (Jourdan, 1984). Dengan kata lain, tidak ada perilaku pendidikan yang tidak dilahirkan oleh komunikasi.

Bagaimana mungkin mendidik manusia tanpa berkomunikasi, mengajar orang tanpa berkomunikasi, atau memberi kuliah tanpa berbicara. Semuanya membutuhkan komunikasi.

Di samping itu, komunikasi juga berfungsi mendidik masyarakat, mendidik setiap orang dalam menuju pencapaian kedewasaannya bermandiri. Seseorang bisa banyak tahu karena banyak mendengar, banyak membaca, dan banyak berkomunikasi.

Terdapat 12 prinsip komunikasi sebagai pedoman dari prinsip prinsip komunikasi pendidikan yang dikatakan sebagai penjabaran lebih jauh dari definisi dan hakikat komunikasi yaitu :

Prinsip 1 : Komunikasi adalah suatu proses simbolik

Komunikasi adalah sesuatu yang bersifat dinamis, sirkuler dan tidak berakhir pada suatu titik, tetapi terus berkelanjutan.

Prinsip 2 : Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi

Setiap orang tidak bebas nilai, pada saat orang tersebut tidak bermaksud mengkomunikasikan sesuatu, tetapi dimaknai oleh orang lain maka orang tersebut sudah terlibat dalam proses berkomunikasi. Gerak tubuh, ekspresi wajah (komunikasi non verbal) seseorang dapat dimaknai oleh orang lain menjadi suatu stimulus.

Prinsip 3 : Komunikasi punya dimensi isi dan hubungan

Setiap pesan komunikasi mempunyai dimensi isi di mana dari dimensi isi tersebut kita bisa memprediksi dimensi hubungan yang ada di antara pihak-pihak yang melakukan proses komunikasi. Percakapan di antara dua orang sahabat dan antara dosen dan mahasiswa di kelas berbeda memiliki dimensi isi yang berbeda.

Prinsip 4 : Komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan

Setiap tindakan komunikasi yang dilakukan oleh seseorang bisa terjadi mulai dari tingkat kesengajaan yang rendah artinya tindakan komunikasi yang tidak direncanakan (apa saja yang akan dikatakan atau apa saja yang akan dilakukan secara rinci dan detail), sampai pada tindakan komunikasi yang betul-betul disengaja (pihak komunikan mengharapkan respons dan berharap tujuannya tercapai)

Prinsip 5 : Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu

Pesan komunikasi yang dikirimkan oleh pihak komunikan baik secara verbal maupun non-verbal disesuaikan dengan tempat, di mana proses komunikasi itu berlangsung, kepada siapa pesan itu dikirimkan dan kapan komunikasi itu berlangsung.

Prinsip 6 : Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi

Tidak dapat dibayangkan jika orang melakukan tindakan komunikasi di luar norma yang berlaku di masyarakat. Jika kita tersenyum maka kita dapat memprediksi bahwa pihak penerima akan membalas dengan senyuman, jika kita menyapa seseorang maka orang tersebut akan membalas sapaan kita. Prediksi seperti itu akan membuat seseorang menjadi tenang dalam melakukan proses komunikasi.

Prinsip 7 : Komunikasi itu bersifat sistemis

Dalam diri setiap orang mengandung sisi internal yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya, nilai, adat, pengalaman dan pendidikan. Bagaimana seseorang berkomunikasi dipengaruhi oleh beberapa hal internal tersebut. Sisi internal seperti lingkungan keluarga dan lingkungan di mana dia bersosialisasi mempengaruhi bagaimana dia melakukan tindakan komunikasi.

Prinsip 8 : Semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah komunikasi

Jika dua orang melakukan komunikasi berasal dari suku yang sama, pendidikan yang sama, maka ada kecenderungan dua pihak tersebut mempunyai bahan yang sama untuk saling dikomunikasikan. Kedua pihak mempunyai makna yang sama terhadap simbol-simbol yang saling dipertukarkan.

Prinsip 9 : Komunikasi bersifat nonsekuensial

Proses komunikasi bersifat sirkuler dalam arti tidak berlangsung satu arah. Melibatkan respons atau tanggapan sebagai bukti bahwa pesan yang dikirimkan itu diterima dan dimengerti.

Prinsip 10 : Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional

Konsekuensi dari prinsip bahwa komunikasi adalah sebuah proses adalah komunikasi itu dinamis dan transaksional. Ada proses saling memberi dan menerima informasi di antara pihak-pihak yang melakukan komunikasi.

Prinsip 11 : komunikasi bersifat irreversible

Setiap orang yang melakukan proses komunikasi tidak dapat mengontrol sedemikian rupa terhadap efek yang ditimbulkan oleh pesan yang dikirimkan. Komunikasi tidak dapat ditarik kembali, jika seseorang sudah berkata menyakiti orang lain, maka efek sakit hati tidak akan hilang begitu saja pada diri orang lain tersebut.

Prinsip 12 : Komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan berbagai masalah

Dalam arti bahwa komunikasi bukan satu-satunya obat mujarab yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah.

Menerapkan Prinsip Prinsip Komunikasi Efektif dalam Pendidikan

Dalam upaya meningkatkan minat belajar anak dan mendorong komunikasi yang efektif dalam pembelajaran guru perlu menerapkan prinsip-prinsip komunikasi yang efektif dalam pembelajaran yang dikelolanya. Berikut ini adalah contoh menerapkan prinsip-prinsip komunikasi dalam pembelajaran.

  1. Guru memberikan kebebasan anak untuk berkreasi, sehingga anak terpacu untuk membuat karya unik.
  2. Guru menerima berbagai jawaban anak terhadap pertanyaan tertentu, sehingga mendorong anak belajar berpikir luas.
  3. Guru menerangkan materi dengan sudut pandang yang unik, sehingga anak menjadi terpacu rasa ingin tahunya.
  4. Guru memberikan penjelasan awal secara jelas sebelum anak memulai pekerjaannya, dampaknya anak bisa mendapatkan pengetahuan awal secara efektif.
  5. Guru menggunakan alat peraga, sehingga anak mempunyai modal pengetahuan awal yang lebih nyata.
  6. Guru menerangkan dengan eksperimen, sehingga anak menjadi terpacu rasa ingin tahunya dan belajar mengamati terjadinya suatu fenomena.
  7. Guru memberikan ulasan dan kesimpulan terhadap apa yang dikerjakan anak, efeknya anak memahami maksud pekerjaan dan berpikir secara utuh.
  8. Guru mengaitkan isi cerita dengan fenomena yang pernah dilihat anak, sehingga membuat anak menjadi belajar berpikir mengaitkan satu hal dengan hal lain.
  9. Guru memberikan kesempatan anak untuk bercerita, manfaatnya anak bisa belajar mengungkapkan gagasan secara lebih terstruktur
  10. Guru membimbing anak tampil di depan forum, anak bisa belajar berani berkreasi di depan orang banyak
  11. Guru melakukan pendampingan secara pribadi kepada anak, sehingga anak memiliki keamanan psikologis untuk berkreasi.
  12. Guru melayani pertanyaan-pertanyaan anak, diharapkan anak menjadi nyaman untuk berpendapat dan terpuaskan rasa ingin tahunya.
  13. Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba lagi, anak belajar menyelesaikan pekerjaan dengan berbagai inovasi baru.
  14. Guru menjalin kedekatan, anak memiliki rasa aman secara psikologis untuk berkreasi.
  15. Guru melibatkan anak secara efektif dalam belajar, anak merasa ikut memiliki dan tumbuh minat belajarnya.
  16. Guru melibatkan diri dalam kegiatan anak, anak lebih bersemangat dalam berkreasi.
  17. Guru menciptakan suasana menyenangkan, diharapkan anak menyenangi materi dan memiliki kepuasan pribadi dalam berkreasi.
  18. Guru menciptakan suasana bersemangat dalam belajar, sehingga anak lebih bermotivasi.

Halaman Selanjutnya ……

%%footer%%
Pages ( 1 of 2 ): 1 2Lanjut »

Tinggalkan Balasan