Masalah Masalah Dalam Penerapan Teknologi Pendidikan

Masalah Masalah Dalam Penerapan Teknologi Pendidikan

Masalah Masalah Dalam Penerapan Teknologi Pendidikan – Mengajar semakin hari semakin menantang bagi guru karena terjadi dalam lingkungan yang mencerminkan ​​beberapa masalah masyarakat. Menggunakan teknologi digital dalam pembelajaran membuat situasinya semakin kompleks.

Apalagi ternyata banyak sekali dampak negatif teknologi yang diterapkan dalam pendidikan. Terlepas dari manfaat positif yang memang harus kita akui, setiap guru atau siapa pun yang terkait wajib tahu masalah masalah apa saja yang mungkin muncul dalam penerapan teknologi pendidikan.

Untuk mengintegrasikan teknologi dengan sukses ke dalam pembelajaran peserta didik, pendidik harus mengenali dan bersiap untuk bekerja di lingkungan ini dengan semua seluk-beluk dan kompleksitasnya. Beberapa masalah penting yang mungkin dan implikasinya terhadap tren teknologi dalam pendidikan akan kita bahas secara ringkas di sini. Setidaknya ada empat bidang masalah penerapan teknologi dalam pendidikan, yaitu bidang: sosial, pendidikan, budaya, dan hukum.

MASALAH-MASALAH SOSIAL

Penggunaan teknologi memang sangat bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan dan menyelesaikan masalah masyarakat, namun sekaligus juga menciptakan serangkaian masalah baru. Sistem sekolah telah menyadari bahwa masalah sosial berdampak pada misi setiap sekolah dan suasana kelas serta harus ditangani dengan kebijakan dan program pendidikan yang terencana dan berkelanjutan. Langkah ini penting untuk membuat guru dan siswa menyadari masalah ini dan untuk membatasi kemungkinan dampak negatifnya. Masalah masalah sosial dalam penerapan teknologi pendidikan meliputi:

Masalah Privasi

Teknologi Global Positioning System (GPS) yang dikombinasikan dengan fitur perangkat lunak ponsel memungkinkan untuk menunjukkan dengan tepat lokasi siapa pun secara tepat dan dapat mengkomunikasikan banyak informasi pribadi kepada orang lain, biasanya tanpa sepengetahuan pengguna. Beberapa pihak telah mengecam penggunaan identifikasi frekuensi radio (RFID) oleh sekolah untuk melacak kehadiran dan keberadaan siswa sebagai gangguan terhadap privasi.

Selain itu, jaringan sosial, yang secara keliru diyakini sebagai sesuatu pribadi, sering kali membuat informasi pribadi terekspose ke publik. Teknologi baru seperti Google Glass adalah perangkat yang memungkinkan digunakan untuk merekam video atau gambar tanpa sepengetahuan orang lain.

Masalah Kesehatan

Potensi masalah seperti gangguan pendengaran akibat penggunaan headphone yang berlebihan atau ketegangan mata karena terlalu lama menatap layar digital harus dipelajari dampak negatifnya pada siswa. Waktu yang dihabiskan untuk bermain video game dan kerja menggunakan komputer sudah pasti mengurangi waktu aktivitas fisik yang lebih kompleks, yang dapat menyebabkan obesitas dan penurunan kebugaran.

Ketakutan Penyalahgunaan Teknologi

Kaum muda merasa bahwa mereka unggul dalam multitasking, atau melakukan beberapa aktivitas (pada saat yang bersamaan. Namun, penelitian telah menunjukkan bahwa praktik tersebut berdampak negatif pada keakuratan dan retensi informasi.

Terlebih bisa mengakibatkan sesuatu yang sangat berbahaya atau berisiko tinggi. Misalnya mengirim pesan SMS atau bertelepon saat mengemudi telah terbukti menjadi ancaman serius bagi keselamatan publik.

Penggunaan ponsel selama sekolah dapat mengganggu kegiatan belajar dan bahkan dapat digunakan untuk menyontek saat mengerjakan tugas sekolah atau ujian. Kaum muda sering kali tidak menyadari bahwa penggunaan ponsel mereka tidak bersifat pribadi dan, oleh karena itu, tidak ragu untuk mengirimkan foto atau pesan eksplisit, sebuah praktik yang dikenal sebagai sexting.

Risiko perilaku online.

Waktu yang dihabiskan di jejaring sosial sering kali mengurangi waktu belajar. Siswa sering kali tidak menyadari bahwa panitia penerimaan perguruan tinggi meninjau dan mempertimbangkan informasi di situs jejaring sosial siswa. Di dunia kerja pun demikian, panitia procurement sudah pasti mempertimbangkan jejak digital calon karyawan.

Guru yang memiliki akun media sosial (misalnya Facebook) sangat terbuka kemungkinannya akan mendapat kritik atas kiriman pribadi dan komunikasi yang keliru dengan siswa. Cyberbullying, atau pelecehan online di jejaring sosial, juga sangat mungkin dialami oleh siswa maupun guru.

Malware, Virus, Spam, dan Peretasan

Masalah masalah penerapan teknologi pendidikan juga bisa datang dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan menggunakan celah-celah teknologi digital. Misalnya menggunakan malware atau peretasan.

Malware adalah perangkat lunak berbahaya yang dapat merusak, menghancurkan, mengganggu operasi, atau memata-matai pengoperasian komputer. Sedangkan Virus merupakan sejenis malware, yaitu program yang ditulis secara khusus untuk merusak atau merusak program, data, dan / atau perangkat keras.  Termasuk di dalamnya adalah worm dan trojan horse.

Spyware adalah malware yang secara diam-diam mengumpulkan informasi yang disimpan di komputer seseorang dan dapat mengumpulkan alamat, sandi, dan nomor kartu kredit untuk digunakan untuk pencurian identitas. Komputer dapat ditanamkan dengan program yang memungkinkan kontrol dari luar tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Spam adalah pesan email yang tidak diminta atau postingan situs web, datang dengan frekuensi sedemikian rupa sehingga mengganggu kerja komputer. Sekolah dan perguruan tinggi telah mendedikasikan sumber daya yang cukup besar untuk memblokirnya.

Pengguna komputer terkadang tanpa disadari menanggapi upaya phishing, atau email yang secara tidak benar mengklaim sebagai bisnis yang sah untuk mengumpulkan informasi pribadi yang akan digunakan untuk pencurian identitas. Misalnya, seorang guru mungkin mendapatkan pesan yang mengaku dari departemen teknologi informasi distrik sekolah, meminta semua pengguna untuk memperbarui catatan mereka dengan kata sandi dan informasi lainnya.

Jika guru memberikan informasi ini ke lokasi yang ditentukan, “phisher” mendapatkan akses ke akun guru, yang mungkin berisi banyak informasi pribadi. Kasus ini sudah sering dilaporkan terjadi di Indonesia. Para penjahat bisa saja meretas akun media sosial guru atau pejabat lembaga pendidikan untuk menipu korbannya dengan menggunakan nama orang lain.

MASALAH PENDIDIKAN

Tren sistem pendidikan terkait dengan tren teknologi dan masyarakat. Beberapa jenis masalah masalah dalam penerapan teknologi pendidikan memiliki implikasi khusus pada bagaimana teknologi digunakan dalam pengajaran dan pembelajaran. Di antaranya adalah:

Kurangnya Pendanaan Teknologi

Kemerosotan ekonomi belakangan, baik karena Covid-19 atau siklus ekonomi sama-sama mengakibatkan berkurangnya dana pendidikan, yang juga berarti lebih sedikit dana yang tersedia untuk perangkat keras teknologi, perangkat lunak, dan pelatihan. Penurunan ini terjadi pada saat biaya teknologi sedang meningkat.

Penerapan teknologi dalam pendidikan tentu saja membutuhkan dana, dan terkadang tidak sedikit. Terutama dalam pengaplikasian teknologi terbaru atau penggunaan yang lebih masif. Misalnya saja pembelajaran online akibat pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai ini telah memaksa semua pihak menyisihkan dana untuk kebutuhan teknologi pendidikan.

Akuntabilitas Guru Dan Siswa

Penekanan akuntabilitas mendorong tren ke arah penggunaan teknologi dengan cara yang membantu guru dan siswa lulus ujian dan memenuhi standar yang disyaratkan (KKM), daripada mendukung strategi pengajaran yang lebih inovatif. Guru ragu untuk menggunakan teknologi kecuali jika memang tidak mendukung peningkatan capaian pembelajaran.

Literasi Digital

Meningkatnya peran teknologi di semua bidang masyarakat kita membuatnya semakin penting bagi siswa untuk menjadi konsumen sumber daya teknologi yang cerdas dan menunjukkan digital citizenship atau penggunaan sumber daya teknologi dengan cara yang aman, bertanggung jawab, dan legal. Tanggung jawab untuk pengajaran ini biasanya berada di sekolah.

Perdebatan Tentang Penerapan Terbaik

Para pendidik masih saja terus memperdebatkan peran yang tepat dari metode tradisional yang diarahkan oleh guru versus metode berbasis inkuiri yang berpusat pada siswa. Penggunaan teknologi yang diarahkan oleh guru yang telah lama digunakan dan tervalidasi dengan baik dapat memenuhi standar konten, tetapi banyak pendidik yang melihatnya sebagai ketinggalan jaman.

Metode konstruktivis berbasis inkuiri dianggap lebih modern dan inovatif, tetapi kurang jelas bagaimana metode tersebut dapat digunakan sesuai standar yang diperlukan untuk menunjukkan akuntabilitas guru dan siswa.

Ketergantungan Pada Pembelajaran Online

Semakin banyak pembelajaran virtual yang ditawarkan, dan sekolah virtual sudah mulai menjadi bagian utama dari pendidikan di dunia. Meskipun gerakan ini telah meningkatkan akses ke pembelajaran dan perkuliahan berkualitas tinggi, tidak semua siswa memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk menggunakannya, bahkan jika mereka mendapatkan akses.

Ke Halaman Selanjutnya… (masalah masalah dalam teknologi pendidikan)

%%footer%%
Pages ( 1 of 2 ): 1 2Lanjut »

Tinggalkan Balasan