Apa Yang Dimaksud Dengan Estetika

Apa Yang Dimaksud Dengan Estetika ?

Apa Yang Dimaksud Dengan Estetika ? – Membicarakan seni tak bisa lepas dari apa yang dinamakan Estetika, atau Keindahan, yaitu keindahan yang sesuai dengan sebuah pengalaman seseorang bersentuhan dengan kesenian. Oleh sebab itu tak ada seorang pun memiliki kesamaan dalam memaknai keindahan terhadap obyek seni.

 

Apa Yang Dimaksud Estetika ?

Estetika tidak bisa dipungkiri merupakan jantungnya seni. Istilah estetika berasal dari bahasa latin “aestheticus” atau bahasa Yunani “aestheticos” yang bersumber dari kata “aithe” yang berarti merasa.

Mari kita perhatikan definisi berikut :

Estetika adalah salah satu cabang filsafat. Secara sederhana, estetika adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya.

Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni.

“Estetika dapat didefinisikan sebagai susunan bagian dari sesuatu yang mengandung pola. Pola mana mempersatukan bagian-bagian tersebut yang mengandung keselarasan dari unsur-unsurnya, sehingga menimbulkan keindahan.” (Effendy, 1993)

 

Terdapat beragam ajaran klasik mengenai estetika diantaranya adalah pandangan Plato tentang keindahan dapat dibagi menjadi dua. Yang satu tentang dunia idea, sedangkan yang lain tampaknya lebih membatasi diri pada dunia yang nyata. Pandangan kedua menyatakan bahwa yang indah dan sumber segala keindahan adalah yang paling sederhana, yang dimaksud “sederhana” adalah bentuk dan ukuran yang tidak diberi batasan lebih lanjut berdasarkan sesuatu yang “lebih sederhana” lagi.

Oleh karena itu, keindahan semacam itu bersifat terpilah-pilah. Keindahan semacam itu hanya dapat ditunjukkan, misalnya warna merah. Kendati begitu, yang majemuk juga dapat dialami sebagai sesuatu yang indah, jika tersusun secara harmonis berdasarkan sesuatu yang betul-betul sederhana. Pandangan yang kedua ini punya keistimewaan karena tidak melepaskan diri dari pengalaman inderawi yang merupakan unsur konstitusi dari pengalaman estetis dan keindahan dalam pengertian sehari-hari.

Pandangan lainnya yang mendekati pandangan kedua dari Plato tersebut adalah dari Aristoteles yang menyebutkan bahwa keindahan menyangkut keseimbangan dan keteraturan ukuran, yakni ukuran material. Pandangan ini, menurut Aristoteles, berlaku untuk benda-benda alam ataupun untuk karya seni buatan manusia.

Karya seni yang dibicarakan Aristoteles terutama karya sastra dan drama. Ia membicarakan karya drama terutama dalam bentuk tragedi seperti dipentaskan dalam peran-peran diiringi dengan musik dan tarian, titik pangkal pandangan Aristoteles ialah bahwa karya seni harus dinilai sebagai suatu tiruan dunia alamiah dan dunia manusia. Aristoteles tidak menyetujui penilaian negatif Plato atas karya seni, atas dasar penolakannya terhadap teori idea. Dengan karya tiruan, Aristoteles tidak memaksudkan sekedar “tiruan belaka”.

 

Sejarah Estetika

Esetetika pertama kali digunakan oleh filsuf Alexander Gottlieb Baumgarten pada 1735 untuk pengertian ilmu tentang hal yang bisa dirasakan lewat perasaan. Pada masa kini estetika bisa diartikan tiga hal, yaitu:

  • Studi mengenai fenomena estetis
  • Studi mengenai fenomena persepsi
  • Studi mengenai seni sebagai hasil pengalaman estetis

Meskipun awalnya sesuatu yang indah dinilai dari aspek teknis dalam membentuk suatu karya, namun perubahan pola pikir dalam masyarakat akan turut mempengaruhi penilaian terhadap keindahan. Misalnya pada masa romantisme di Perancis, keindahan berarti kemampuan menyajikan sebuah keagungan.

Pada masa realisme, keindahan berarti kemampuan menyajikan sesuatu dalam keadaan apa adanya. Pada masa maraknya de Stijl di Belanda, keindahan berarti kemampuan mengomposisikan warna dan ruang dan kemampuan mengabstraksi benda.

 

Konsep the Beauty and the Ugly

Lebihlanjut tentang apa yang dimaksud dengan estetika, dimana perkembangan lebih lanjut menyadarkan bahwa keindahan tidak selalu memiliki rumusan tertentu. Ia berkembang sesuai penerimaan masyarakat terhadap ide yang dimunculkan oleh pembuat karya.

Walaupun dalam dunia visual ada teori warna, ada pula teori-teori komposisi, namun semua itu tidak menjamin pembentukan sebuah estetika yang sempurna. Pun demikian tanpa teori-teori atau rumusan-rumusan tertentu, bisa jadi sangat estetik.

Karena itulah selalu dikenal dua hal dalam penilaian keindahan, yaitu the beauty, suatu karya yang memang diakui banyak pihak memenuhi standar keindahan dan the ugly, suatu karya yang sama sekali tidak memenuhi standar keindahan dan oleh masyarakat banyak biasanya dinilai buruk, namun jika dipandang dari banyak hal ternyata memperlihatkan keindahan.

Apa yang tergambarkan dalam benak Anda melihat karya foto di atas? (Dikutip dari World Press) Dimana sudut estetika dari foto pemenang World Presss tersebut?

Jadi dengan demikian tak semua yang ‘bagus’ lantas serta merta kita menyebut karya seni. Bahkan obyek yang makin memberikan kesan abstrak, keindahan itu makin memberi makna pada para penikmatnya.

 

Lantas apa yang dimaksud dengan estetika ? Jika kita tarik sebuah kesimpulan, estetika adalah segala hal yang mampu membangkitkan berubahnya perasaan manusia ketika bersentuhan dengan karya seni.

Akhir kata, Semoga tulisan ini bermanfaat dan sampai jumpa lagi di lain kesempatan. Selamat berkarya (maglearning.id).

%%footer%%

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan