Pendidikan Seks Untuk Remaja, Perlukah

Pendidikan Seks Untuk Remaja, Perlukah ?

Pendidikan Seks Untuk Remaja, Perlukah ? – Pertanyaan mengenai hal tersebut sengaja saya ajukan dalam artikel ini sebagai bentuk kegalauan hati. Banyak pakar membicarakan tentang pendidikan sex (sex education) dengan mengaitkan pada perilaku sex pra nikah. Mereka menganggap penting hal itu dan seakan-akan yakin pendidikan sex adalah solusi bagi masalah sex di luar nikah.

Saya menulis artikel Pendidikan Sex Untuk Anak, Perlukah? dengan sudut pandang saya yang dari orang awam namun terkadang dimintai tolong untuk memberikan nasehat kepada beberapa kalangan, termasuk remaja dan pelajar. Dari sudut pandang saya tadi, tentu saya tidak kuasa menjawab pertanyaan, “kenapa banyak terjadi perzinaan?” dengan jawaban “karena tidak mendapatkan pendidikan sex”.

Sebagian orang memang menganggap pendidikan sex sejak dini adalah solusi. Di berbagai forum hal tersebut disinggung. Tidak terkecuali dalam diskusi kecil sampai ilmiah.

 

Pendidikan Sex, Sex Education

Sebuah diskusi kecil terjadi saat teman saya, mempertanyakan, “Fenomena hamil di luar nikah, mengapa ini terus terjadi?”. Ternyata tema tersebut menarik dan mengundang komentar. Saat artikel ini di tulis, komentar pada tema diskusi itu masih berlangsung. Dan yang menarik, di antara sekian komentar ada yang memberikan solusi dengan pendidikan seks untuk remaja sejak dini. Bagi sebagian orang, pendidikan sex sejak dini adalah solusi. Tetapi bagi saya dengan latar belakang orang desa dan guru, balik bertanya, “apa iya, pendidikan sex solusinya?” terhadap masalah hamil di luar nikah.

 

Substansi Masalah

Terjadinya praktik sex di luar nikah, dari sudut pandang saya, substansi masalahnya bukan karena sudah pernah mendapatkan pendidikan sex atau belum. Atau sudah lulus dari pendidikan sex atau belum?. Menurut saya, memberikan solusi dengan pendidikan sex sejak dini sama halnya membagikan kndm gratis ketika memecahkan masalah sex di luar nikah. Keduanya sama-sama tidak menyentuh akar masalahnya.

Sebagai ilustrasi, seseorang yang melanggar hukum tentu masalahnya bukan terletak pada apakah pelakunya sudah pernah mendapat pendidikan hukum atau belum? Bagi pelanggar hukum tentu solusinya tidak dengan diberi pendidikan hukum, apalagi sekolah hukum.

Terjadinya hamil dan praktik sex di luar nikah, sekali lagi dari sudut pandang saya, masalah sebenarnya adalah :

  • Melonggarnya pranata sosial atau aturan tak tertulis yang berlaku di masyarakat. Aturan tak tertulis berupa etika atau moral sepertinya sudah tidak berlaku lagi.
  • Kontrol dan sanksi sosial tak pernah ada. Apapun yang terjadi di lingkungannya dianggap sebagai urusan pribadi dan orang lain tidak boleh mengharu biru. Perzinaan terjadi di dekatnya pun didiamkan karena bukan urusannya
  • Hilangnya unsur malu dari diri seseorang. Malu adalah senjata utama untuk menjaga kehormatan dan harga diri. Malu juga merupakan rem ampuh guna menghentikan berbagai tindakan amoral. Kalau malu sudah tidak lagi melekat dan menghiasi hidup seseorang, apa yang terjadi pastilah dapat diperkirakan
  • Orang tua yang tidak menerapkan aturan ketat terhadap persoalan akhlak bagi anak-anaknya. Nasehat orang tua berupa kalimat pendek untuk mengingatkan bahwa yang dilakukan anaknya adalah tidak pantas, “huss…ora elok” dan “huss…saru” sudah tidak pernah terdengar lagi.
  • Orang tua banyak mendiamkan perilaku salah anak-anaknya, baik berpakaian, berbicara ataupun saat bergaul dengan teman lawan jenisnya. Orang tua tak lagi menganggap penting menanamkan sikap malu pada anak-anaknya meskipun malu merupakan benteng kehormatan keluarganya.
  • Guru yang terlalu fokus pada mata pelajaran dan sama sekali tidak menyentuh budi pekerti luhur juga turut memberikan andil.

Dalam konteks Agama, perzinaan adalah bentuk ketidaktaatan terhadap syari’at oleh individu.

 

Solusi Pendidikan Seks Untuk Remaja ?

Terjadinya hamil atau sex di luar nikah, yang dalam bahasa Agamanya disebut zina, masalah pokoknya adalah hilangnya rasa malu dari diri seseorang dan dan rendahnya tingkat ketaatan menjalankan syariat Agama yang dianut.

 

Oleh karena itu hal-hal yang perlu dilakukan adalah :

  • Siapa pun harus terlibat, tidak hanya da’i, dalam menanamkan pentingnya ketaatan dalam menjalankan ajaran Agama. Masing-masing pihak harus menjalankan fungsi taushiyah (saling mengingatkan). Perzinaan adalah masalah bersama dan harus ditanggulangi bersama;
  • Membudayakan sikap malu bertindak amoral di rumah, di masyarakat atau di manapun baik ketika sedang bersama orang lain ataupun saat sendirian. Dalam konteks ini, orang tua adalah orang pertama yang harus mengambil peran;
  • Semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan harus mengambil peran dalam upaya menanamkan malu. Jadikan sikap malu sebagai bagian dari proses pembentukan karakter.

Lalu apakah pendidikan sex masih perlu ? Jawabannya sangat subyektif tergantung bagaimana Anda mengambil sudut pandang.

Pendidikan sex untuk anak atau siswa menjadi sangat penting bila:

  • Bisa menyadarkan siapa pun bahwa sex di luar nikah (zina) adalah sangat berbahaya, salah satunya adalah meningkatkan risiko tertularnya penyakit-penyakit berbahaya dan mematikan.
  • Seks di luar nikah juga bisa berakibat pada rusaknya organ-organ reproduksi manusia di masa pertumbuhan.

 

Demikianlah artikel tentang Pendidikan Seks Untuk Remaja, Perlukah? semoga bermanfaat. Sampai jumpa lagi di lain diskusi (maglearning.id).

%%footer%%

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan