Macam-macam Feedback dalam pembelajaran

Bagi sebagian siswa atau guru mungkin ada kurang familiar dengan istilah umpan balik (feedback) dalam pembelajaran. Di Indonesia lebih familiar sekaligus lebih “sakti” kata nilai dan ranking, terutama bagi para orang tua. Hal ini sangat wajar, di dunia pendidikan negara maju seperti Amerika Serikat pun kata ‘umpan balik’ baru banyak digunakan baru di dekade terakhir ini. Di AS juga dulunya lebih familiar dengan istilah ‘penilaian’ yang mencakup apa yang sudah dan saat ini dikuasai siswa. ‘Penilaian’ dianggap sebagai cara paling konvensional untuk memberikan semacam respons kepada siswa tentang pekerjaan atau pembelajaran yang telah mereka lakukan.

Di Inggris dan negara-negara lain, istilah grading digunakan untuk menggambarkan nilai atau komentar maupun keduanya. Umpan balik dalam skema ini cenderung sumatif dan dari guru ke siswa saja. Bukan umpan balik formatif, lisan, langsung, siswa ke guru dan siswa ke siswa.
Penandaan (marking) dan penilaian (grading) mendapat banyak kritikan dalam berbagai penelitian. Misalnya, penelitian yang dilakukan Ruth Butler pada tahun 1988, di mana tiga kelompok siswa diberikan:

a) nilai
b) komentar
c) nilai dan komentar

Loading...

Hasil penelitian ini menemukan bahwa siswa yang berada di kelompok b (komentar saja) memiliki peningkatan kemajuan yang lebih besar daripada siswa di dua kelompok lainnya. Hasil wawancara dengan siswa di kelompok c (nilai dan komentar) mengungkapkan bahwa mereka cenderung mengabaikan komentar dan lebih fokus pada nilai. Mereka menambahkan bahwa komentar positif dari guru hanya dianggap sebagai upaya untuk menghibur mereka.

Hal ini mendorong siswa untuk mengembangkan pola pikir terkait ego daripada pola pikir terkait tugas. Dengan demikian siswa lebih sering diberi tahu siswa bahwa ‘pekerjaan sudah selesai atau belum’.
Sebanyak ribuan guru diminta untuk menjawab pertanyaan “Apa yang Anda maksud dengan umpan balik?”. Hasilnya, inilah sepuluh tipikal umpan balik menurut mereka:

  1. Komentar (comment) – guru memberikan komentar tentang cara siswa melakukan sesuatu dalam proses pembelajaran.
  2. Klarifikasi (clarification) – menjawab pertanyaan siswa di kelas.
  3. Kritik (criticism) – ketika guru memberikan kritik yang membangun kepada siswa
  4. Konfirmasi (confirmation) – guru memberitahu bahwa siswa telah melakukan pekerjaannya dengan benar
  5. Pengembangan konten (content development) – guru bertanya tentang komentar yang diberikan oleh siswa
  6. Refleksi konstruktif (constructive reflection) – guru memberi refleksi positif dan konstruktif pada pekerjaan siswa.
  7. Koreksi (correction)- menunjukkan apalah pekerjaan yang dilakukan siswa benar atau salah, sehingga membantu kinerja siswa.
  8. Pro dan Kontra (cons and pros) – guru memberi tahu sisi kelebihan dan kelemahan tentang pekerjaan siswa
  9. Komentar (commentary) – guru mengomentari pekerjaan siswa
  10. Kriteria (criterion) – guru memberi nilai relatif dibandingkan dengan standar yang ditentukan
Loading...

Ketika siswa ditanya tentang umpan balik, sebagian besar dari mereka mengaku bahwa umpan balik membantu mereka mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan selanjutnya. Sepuluh C bentuk umpan balik tersebut walau bagaimanapun telah berperan dalam membantu siswa untuk tetap belajar atau terus bergerak maju.

Gunakan Penilaian dan Umpan Balik dengan Tepat

Komentar merupakan bentuk umpan balik yang paling umum. Selanjutnya yang paling penting adalah memastikan bahwa komentar itu cukup spesifik dan membantu siswa dalam pembelajaran. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar umpan balik tersebut signifikan dalam membuat perbedaan, diantaranya adalah:

  • Penandaan (marking) biasanya lebih diperhatikan oleh siswa tetapi seringkali gagal memberikan panduan bagaimana pekerjaan dapat ditingkatkan. Dalam beberapa kasus penandaan memperkuat under achievement dan under expectation karena diberikan terlalu murah hati atau tidak fokus.
  • Umpan balik yang paling berharga selalu berfokus pada membantu peningkatan siswa. Jika komentar tidak memberikan informasi ‘ke mana selanjutnya’ atau ‘bagaimana cara meningkatkan pekerjaan’ maka nilai mungkin menjadi satu-satunya indikator yang berharga. tetapi jika nilai diberikan tanpa informasi lain, mungkin tidak mengarah pada interpretasi apa yang dapat dipertahankan untuk perbaikan saat ini atau di masa depan.
  • Guru umumnya memberikan nilai, komentar, atau dua-duanya, kepada siswa setelah pelajaran, dan ini dipandang sebagai bentuk umpan balik yang paling penting dan diharapkan. Ditemukan juga bahwa sebagian besar komentar, kecuali jika mereka memerlukan respons siswa, sering diabaikan oleh siswa jika komentar tidak disertai dengan alokasi waktu bagi siswa untuk membaca komentar, sehingga tidak ada kesempatan untuk menggunakannya dalam meningkatkan pembelajaran, atau sampai mana mereka belajar.

Tinggalkan Balasan