Mengembangkan Media Pembelajaran Menggunakan Kerangka 4D

Model tahapan pengembangan media pembelajaran yang paling terkenal dan paling simpel adalah model 4D. Walaupun sering dianggap lebih simpel dari model ADDIE maupun model ASSURE model pengembangan 4D ini tetap banyak peminatnya dan sebenarnya tidak sesimpel yang dibayangkan. Penamaan model pengembangan Four D (4D) ini diambil dari empat tahap pengembangan yang searah yaitu Define, Design, Develop, dan Disseminate. Penamaan ini diinisiasi langsung oleh pencetusnya yaitu Sivasailam Thiagarajan, Dorothy Semmel, dan Melvyn Semmel.

Model 4D ini sudah mulai mereka kembangkan sejak awal tahun 1970-an. Sebenarnya model ini merupakan pengembangan dari langkah-langkah umum yang sudah biasa dilakukan oleh para pengembang di eranya, yaitu analisis, desain, dan evaluasi. Model 4D ini kemudian disusun berdasarkan pada model tersebut dengan mempertimbangkan pengalaman aktual mereka di lapangan dalam merancang, mengembangkan, mengevaluasi, dan menyebarkan materi pelatihan untuk guru dalam pendidikan luar biasa (anak berkebutuhan khusus). Deskripsi singkat dari setiap tahapnya adalah sebagai berikut:

Tahap 1: Define

Tujuan dari tahap ini adalah untuk menetapkan dan merumuskan persyaratan pembelajaran. Fase ini hampir sama dengan tahapan analisis pada model-model pengembangan lainnya. Melalui sebuah analisis kita akan menentukan tujuan dan masalh-masalah media atau perangkat pembelajaran yang ada. Ada lima langkah yang biasanya dilakukan di tahap ini.

Front-end analysisis atau sering diterjemahkan dengan istilah analisis ujung depan adalah studi tentang masalah dasar yang dihadapi oleh guru atau siswa, untuk meningkatkan kinerja guru dan pembelajaran tersebut. Selama analisis ini, dilakukan identifikasi beberapa kemungkinan alternatif solusi yang lebih elegan dan efisien untuk pembelajaran. Alternatif-alternatif ini kemudian dipertimbangkan kelebihan dan kekurangannya serta bagaimana mereka dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Analisis kegagalan pembelajaran yang sudah dilakukan juga sangat penting sehingga kita mengetahui aspek-aspek mana yang sudah berjalan dengan baik dan bagian mana yang tidak bekerja sesuai dengan harapan. Jika ternyata hasil analisis tidak ditemukan alternatif lain atau bahan ajar (media pembelajaran) yang dibutuhkan tidak tersedia, maka perlu dilakukan pengembangan bahan ajar (media pembelajaran) yang sudah ada.

Learner analysis adalah studi tentang peserta didik yang akan melaksanakan proses pembelajaran. Beberapa karakteristik peserta didik yang relevan dengan desain dan pengembangan perlu diidentifikasi. Beberapa karakteristik yang penting untuk dianalisis adalah kompetensi yang sudah dimiliki siswa sebelum memasuki pembelajaran. Analisis ini terkait dengan persyaratan kompetensi dan kondisi riil siswa. Latar belakang pengalaman siswa juga perlu diidentifikasi selain sikap umum terhadap topik pembelajaran, dan preferensi media, format, warna, serta bahasa.

Task analysis adalah pengidentifikasian keterampilan utama yang harus diperoleh oleh peserta didik dan menganalisanya menjadi satu set subkill yang dibutuhkan dan memungkinkan untuk dicapai. Analisis ini juga dilakukan untuk memastikan cakupan peran yang komprehensif dari bahan ajar atau media pembelajaran yang akan dibangun. Hasil dari analisis ini yang akan menginisiasi setiap fitur-fitur yang harus ada di dalam produk yang dikembangkan.

Concept analysis adalah pengidentifikasian konsep-konsep utama yang akan diajarkan, mengaturnya dalam hierarki, dan memecah konsep-konsep menjadi atribut kritis dan memisahkan konsep-konsep yang tidak relevan. Analisis ini membantu mengidentifikasi serangkaian rasionalisasi yang akan digambarkan dalam pengembangan produk untuk menyelesaikan setiap masalah. Analisis ini membantu menggambarkan bagaimana setiap fitur-fitur yang akan dikembangkan dapat bekerja.

Specifying instructional objectives yaitu menentukan tujuan pembelajaran yang merupakan konversi dari hasil analisis tugas (task analysis) dan analisis konsep (concept analysis) menjadi tujuan yang dinyatakan dalam perilaku secara jelas dan terukur. Serangkaian tujuan ini akan menjadi dasar untuk membuat konstruksi pengujian (tes) dan desain instruksional. Tujuan ini kemudian diintegrasikan ke dalam bahan ajar (media pembelajaran) untuk digunakan oleh guru dan peserta didik.

Tahap 2: Design

Loading...

Tujuan dari tahap ini adalah untuk merancang prototipe bahan ajar (media pembelajaran) yang akan dikembangkan. Fase ini dapat dimulai setelah serangkaian tujuan perilaku peserta didik selesai dirumuskan. Seleksi materi, media, dan format untuk bahan dan pembuatan prototipe merupakan aspek utama dari tahap desain.

Media selection (pemilihan media) adalah pemilihan media yang sesuai untuk penyajian konten pembelajaran. Proses ini melibatkan pencocokan hasil analisis tugas dan konsep, karakteristik peserta didik, sumber daya produksi, dan rencana diseminasi dengan berbagai atribut media yang berbeda. Selanjutnya mengidentifikasi media atau kombinasi media yang paling tepat untuk digunakan setelah itu dilakukan penentuan pilihan yang paling cocok dengan kebutuhan.

Format selection (pemilihan format), dimana format yang berbeda diidentifikasi yang cocok untuk diterapkan dalam rancangan bahan ajar atau media pembelajaran. Pemilihan format ini tergantung pada sejumlah faktor yang telah dibahas di tahap analisis.

Initial design (desain awal) adalah desain awal yang telah dianggap layak untuk diterjemahkan oleh semua tim yang terlibat dalam pengembangan untuk dilakukan realisasi. Setiap fitur dari produk sudah didesain secara lengkap dan detail sesuai dengan fungsi dan urutannya. Desain ini juga sering dilengkapai dengan urutan pengerjaan (flowchart) atau kadang juga urutan cerita (story board) bila itu terkait dengan desain pembelajaran atau gim pembelajaran. Penyajian materi pembelajaran selalu penting untuk disajikan melalui media yang sesuai dan dalam urutan yang sesuai.

Tahap 3: Develop

Tujuan tahap develop adalah untuk mewujudkan desain yang telah ditetapkan, atau bisa juga dengan menyelesaikan prototipe yang telah dibangun sebelumnya. Misalnya meskipun banyak yang telah mulai dibangun sejak tahap Define, hasilnya harus dianggap sebagai versi awal dari bahan ajar (media pembelajaran) yang harus dimodifikasi sebelum dapat menjadi versi final yang efektif dan dapat diandalkan untuk menyelesaiakan masalah. Pada tahap develop ini biasanya umpan balik digali dan diterima melalui evaluasi formatif dan kemudian direvisi. Biasanya ada dua langkah utama dalam tahap ini.

Loading...

Expert appraisal (penilaian ahli) adalah tindakan untuk meminta saran untuk perbaikan materi dari sejumlah ahli yang berkompeten di bidangnya. Para ahli ini diminta untuk mengevaluasi materi dari sudut pandang pembelajaran dan teknis. Dari umpan balik yang mereka berikan, produk yang dibangun kemudian dimodifikasi untuk membuatnya lebih sesuai, efektif, dapat digunakan, serta berkualitas tinggi.

Developmental testing (pengujian terbatas) produk yang telah dikembangkan kemudian diuji pada peserta didik yang sebenarnya namun biasanya masih bersifat terbatas. Tahapan ini dilakukan untuk untuk menemukan bagian-bagian yang belum sempurna dan bisa direvisi. Atas dasar respons, reaksi, dan komentar para peserta didik tersebut kemudian dikaji kembali untuk dicari apa saja yang perlu diubah, dimodifikasi atau ditambah. Siklus pengujian, revisi, dan pengujian ulang ini dilakukan berkali-kali sampai produk yang dibangun terbukti mempunyai kinerja yang konsisten dan efektif.

Tahap 4: Disseminate

Produk sudah bisa dikatakan mencapai tahap akhir produksi (pengembangan) ketika pengujian di tahap develop menghasilkan produk yang mendapat penilaian positif dari para ahli dan mempunyai kinerja yang terbukti konsisten. Setelah terbukti layak untuk digunakan, maka produk siap untuk digunakan secara lebih luas. Ada tiga langkah yang dilakukan dalam tahap diseminasi ini, yaitu: tes validasi, pengemasan, serta difusi dan adopsi. Bila pada tahap develop dilakukan evaluasi yang bersifat formatif, maka di tahap ini dilakukan evaluasi sumatif. Dalam fase pengujian validasi ini sebaiknya dilakukan di situasi nyata dan melibatkan banyak pihak yang bersifat heterogen. Produk tersebut juga harus menjalani pemeriksaan profesional untuk mendapatkan pendapat yang objektif tentang kecukupan dan relevansinya. Produk yang sudah siap kemudian dilakukan pengemasan akhir. Tahap paling akhir adalah difusi dan adopsi dimana produsen dan distributor harus diajak bekerja sama untuk mengemas produk dalam bentuk yang dapat diterima serta memasarkannya secara luas. Diperlukan upaya khusus untuk mendistribusikan materi secara luas untuk mendorong adopsi dan pemanfaatan produk walaupun saat ini sudah banyak tersedia banyak jalur digital.

Demikianlah pembahasan singkat dari model pengembangan 4D ini yang saya ambil langsung dari buku Thiangarajan dkk. (1974) yang berjudul Instructional Development for Training Teachers of Expectional Children. Semoga bisa membantu Anda dalam menyelesaikan tugas akhir atau penelitian. Semoga bermanfaat….

One comment

Tinggalkan Balasan