Analisis Tujuan Pembelajaran

Dalam setiap metode pengembangan pembelajaran, analisis pembelajaran selalu ada dan yang kali pertama dilakukan sebelum tahapan-tahapan yang lain. Baik pengembangan desain pembelajaran, perangkat pembelajaran, maupun pengembangan media pembelajaran tahapan analisis pembelajaran adalah kuncinya. Tahapan desain selalu tergantung pada hasil analisis ini, sedangkan tahapan desain sendiri menentukan tahapan pengembangan (develop). Untuk membandingkan bagaimana pentingnya peran analisis tujuan pembelajaran ini silakan baca tentang metode pengembangan 4D, ADDIE, dan ASSURE.

Analisis pembelajaran adalah seperangkat prosedur yang diterapkan untuk mengetahui tujuan pembelajaran, mengidentifikasi langkah-langkah yang relevan untuk mencapai tujuan, dan keterampilan/kompetensi dasar yang harus dicapai siswa dalam mencapai tujuannya. Keterampilan/kompetensi dasar adalah keterampilan yang harus dicapai untuk mempelajari tingkat keterampilan yang lebih tinggi, dengan memfasilitasi atau memberikan transfer positif untuk pembelajaran tingkat keterampilan yang lebih tinggi.

Analisis tujuan pembelajaran mencakup dua langkah mendasar. Pertama, adalah untuk mengklasifikasikan pernyataan tujuan sesuai dengan jenis pembelajaran yang akan terjadi. Kedua, adalah mengidentifikasi dan mengurutkan langkah-langkah utama yang diperlukan untuk mencapai tujuan.

Masing-masing tujuan ini dapat berfungsi sebagai titik awal desain pembelajaran, dan pertanyaannya kemudian menjadi, “Bagaimana kita menentukan keterampilan apa yang harus dipelajari untuk mencapai tujuan tersebut?”. Langkah pertama adalah mengelompokkan tujuan pembelajaran ke dalam salah satu domain pembelajaran, misalnya keterampilan intelektual, keterampilan psikomotor, dan sikap. Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi tujuan pembelajaran dalam informasi verbal.

Informasi verbal tentang tujuan pembelajaran mengharuskan siswa untuk memberikan respons spesifik terhadap pertanyaan yang relatif spesifik. Biasanya tujuan pembelajaran dituliskan menggunakan kata kerja, dimana siswa harus menyatakan, mendaftar, menggambarkan, atau membandingkan. Diasumsikan bahwa informasi yang dinyatakan akan diajarkan dalam pembelajaran.

Keterampilan Intelektual (Intellectual Skills)

Keterampilan intelektual merupakan keterampilan yang mengharuskan siswa untuk melakukan beberapa aktivitas kognitif yang unik. Unik dalam arti bahwa siswa harus mampu menyelesaikan masalah atau melakukan aktivitas dengan informasi atau contoh yang sebelumnya tidak tidak ada atau tidak diajarkan.

Empat jenis keterampilan intelektual yang paling umum adalah: membuat diskriminasi, membentuk konsep, menerapkan aturan, dan menyelesaikan masalah. Dengan keterampilan ini, siswa dapat mengklasifikasikan hal atau sesuatu sesuai dengan label dan karakteristiknya, dapat menerapkan aturan, dan dapat memilih dan menerapkan berbagai aturan untuk menyelesaikan masalah.

Setiap tujuan yang membutuhkan manipulasi informasi simbolik dalam beberapa cara juga termasuk keterampilan intelektual. Jadi, selain tujuan pemecahan masalah, berikut ini juga diklasifikasikan sebagai keterampilan intelektual: mampu menerapkan aturan untuk menghitung pajak penjualan dan mampu mengklasifikasikan berbagai makhluk hidup sebagai mamalia atau reptil.

Mengidentifikasi berbagai tingkat keterampilan intelektual juga cukup penting. Diskriminasi tingkatan pada dasarnya sederhana, pembelajaran tingkat rendah yang dengannya kita tahu apakah segala sesuatunya sama atau berbeda. Kita bisa secara aktif mengajar anak-anak untuk membedakan antara warna, bentuk, tekstur, suara, suhu, selera, dan sebagainya.

Diskriminasi jarang dijadikan sebagai tujuan pembelajaran siswa yang lebih mahir atau dewasa kecuali dalam kasus khusus seperti suara dalam bahasa asing atau bidang musik, warna dan bau dalam kimia, dan “rasa” kinestetik dalam atletik. Namun, diskriminasi adalah blok bangunan penting yang kita kumpulkan ketika kita mempelajari konsep.

Penguasaan konsep pada dasarnya berarti siswa mampu mengidentifikasi contoh anggota klasifikasi tertentu. Jika konsepnya adalah peralatan baseball, maka pelajar harus bisa menentukan apakah benda-benda yang menjadi peralatan baseball atau tidak. Mungkin siswa diminta untuk mengidentifikasi objek nyata, atau bahkan gambar atau deskripsi objek. Siswa harus menguasai konsep dengan mempelajari karakteristik peralatan baseball yang membedakannya dari semua peralatan olahraga lainnya dan dari benda-benda lain.

Konsep digabungkan untuk menghasilkan aturan. Contoh dari aturan adalah “a2 + b2 = c2”. Dalam aturan ini, siswa harus memiliki konsep a, b, dan c, mengkuadratkan, menambahkan, dan akar kuadrat. Aturan menunjukkan hubungan di antara konsep-konsep ini. Pengetahuan tentang aturan ini diuji dengan memberikan siswa berbagai nilai untuk a dan b dan meminta berapa nilai c. Siswa harus mengikuti serangkaian langkah untuk menghasilkan jawaban yang benar.

Tingkat keterampilan intelektual tertinggi adalah pemecahan masalah. Secara umum ada dua jenis pemecahan masalah, yaitu: pemecahan masalah yang terstruktur dan pemecahan masalah yang tidak terstruktur.

Loading...

Masalah yang terstruktur lebih khas dan biasanya dianggap sebagai masalah aplikasi. Siswa diminta untuk menerapkan sejumlah konsep dan aturan untuk memecahkan masalah yang terdefinisi dengan baik. Biasanya, cara yang lebih disukai untuk menentukan apa solusi yang seharusnya adalah dengan diberikan banyak detail tentang suatu situasi, saran tentang aturan dan konsep yang mungkin berlaku, dan indikasi tentang karakteristik dari solusinya. Misalnya, masalah aljabar adalah masalah terstruktur dengan proses relatif jelas, melibatkan berbagai konsep dan aturan, dan memiliki jawaban “benar”.

Masalah yang tidak terstruktur adalah di mana tidak semua data yang diperlukan untuk mencari solusi tersedia atau bahkan sifat tujuan juga tidak jelas. Berbagai proses dapat digunakan untuk mencapai solusi, dan tidak ada satu solusi pun yang dianggap “benar”, meskipun sifat umum dari sebuah solusi yang memadai dapat diketahui.

Proses desain pembelajaran juga merupakan salah satu contoh masalah tidak terstruktur. Kita jarang tahu semua elemen kritis yang berkaitan dengan perumusan kebutuhan pembelajaran atau siswa sesuai dengan harapan (ideal). Ada berbagai metode analisis dan strategi pembelajaran dapat digunakan untuk menilai dan mencapai efektivitas pembelajaran.

Sebagian besar tujuan pembelajaran adalah penguasaan keterampilan intelektual (Intellectual Skills). Adalah penting untuk dapat mengklasifikasikan hasil belajar dalam berbagai tingkat keterampilan. Hal ini sangat berguna untuk menentukan apakah tujuan pembelajaran dapat ditingkatkan atau disesuaikan dengan karakteristik siswa dalam upaya penguasaan keterampilan intelektual yang lebih tinggi.

Tujuan pembelajaran harus disajikan sebagai informasi verbal. Jadi, tujuan pembejalaran harus dituliskan menggunakan kata kerja dan mudah dikonfirmasi ketercapaiannya. Dengan demikian siapapun bisa mengidentifikasi apakah tujuan pembelajaran tercapai atau tidak.

Keterampilan Psikomotor (Psychomotor Skills)

Keterampilan psikomotor dikarakteristikkan oleh kemampuan siswa dalam melakukan tindakan fisik, dengan atau tanpa peralatan, untuk mencapai hasil yang ditentukan. Dalam situasi tertentu, mungkin ada banyak “psiko” dalam tujuan psikomotorik, yaitu mungkin ada banyak aktivitas mental atau kognitif yang menyertai aktivitas motorik. Namun, untuk keperluan analisis pembelajaran, jika pelajar harus belajar untuk mengeksekusi keterampilan motorik baru, nontrivial, atau kinerja tergantung pada pelaksanaan keterampilan fisik, kita bisa menyebutnya sebagai tujuan psikomotorik.

Misalnya, mampu melempar bola baseball adalah keterampilan psikomotorik yang membutuhkan latihan berulang untuk menguasainya. Panning dengan lancar dengan kamera video untuk mengikuti objek bergerak sambil mempertahankan komposisi ruang yang benar dalam bingkai video membutuhkan banyak latihan dalam menguasainya. Namun, memprogram VCR untuk merekam menggunakan mode malam secara otomatis, di mana menekan tombol adalah keterampilan motorik sepele bagi orang dewasa. Keterampilan terakhir ini tidak melibatkan banyak aktivitas mental atau kognitif.

Loading...

Kemampuan menggambar kurva penawaran dan permintaan juga mungkin bukan termasuk keterampilan psikomotor tingkat tinggi bagi seorang mahasiswa program studi ekonomi. Namun mengambarkan elastisitas permintaan akibat berubahan harga barang komplementer dengan cepat dan akurat merupakan keterampilan psikomotor tingkat tinggi, walaupun bagi mahasiswa S1 tingkat akhir.

Sikap (Attitudes)

Jika tujuan pembelajaran adalah meminta siswa untuk memilih melakukan sesuatu, seperti tentang memilih gaya hidup sehat, maka tujuan itu harus diklasifikasikan sebagai tujuan sikap. Sikap biasanya digambarkan sebagai kecenderungan untuk membuat pilihan atau keputusan tertentu. Sebagai contoh, kami ingin individu memilih menjadi karyawan yang baik, memilih untuk melindungi lingkungan, dan memilih untuk makan makanan bergizi.

Untuk mengidentifikasi tujuan sikap, tentukan apakah siswa memiliki pilihan untuk melakukan sesuatu, dan apakah tujuan menunjukkan arah di mana keputusan dipengaruhi. Jadi, sikap hanya bisa diketahui ketika siswa sudah menentukan pilihan tindakan.

Karakteristik lain dari tujuan sikap adalah bahwa penguasaan siswa mungkin tidak akan tercapai pada akhir pembelajaran. Sikap seringkali merupakan tujuan jangka panjang yang sangat penting, tetapi sangat sulit untuk dievaluasi dalam jangka pendek.

Ketika kita memeriksa tujuan sikap, kita harus memperhatikan bahwa satu-satunya cara kita dapat menentukan apakah siswa telah “mencapai” suatu sikap adalah dengan meminta mereka melakukan sesuatu menggunakan keterampilan psikomotorik, keterampilan intelektual, atau informasi verbal. Oleh karena itu, tujuan pembelajaran yang berfokus pada sikap dapat dipandang sebagai mempengaruhi pelajar untuk memilih, dalam keadaan tertentu, untuk melakukan keterampilan intelektual atau psikomotorik atau untuk menyatakan informasi verbal tertentu.

Pandangan tentang sikap ini selaras dengan pemikiran saat ini tentang disposisi mengajar sebagai tujuan pendidikan. Sangat dipahami bahwa ada perbedaan yang jelas antara mengetahui bagaimana melakukan sesuatu dan memilih untuk melakukannya.

Tinggalkan Balasan