Uang: Definisi dan Sejarah Perkembangannya

Definisi dan pengertian dari uang selalu berubah-ubah secara dinamis sesuai dengan perkembangan masyarakat atau perekonomian. Pada masyarakat yang perekonomiannya sudah relatif maju, definisi dan pengertian uang lebih luas dan kompleks. Bahkan, saat ini sudah zamannya e-money dan uang digital.

Namun, para ahli ekonomi umumnya sepakat bahwa definisi paling umum tentang uang adalah ”segala sesuatu (benda) yang diterima secara umum dalam proses pertukaran barang dan jasa”. Pengertian ini mengandung dua unsur terpenting, yaitu sesuatu benda dan diterima secara umum.

Uang dapat berbentuk segala sesuatu (benda), tetapi tidak semua benda merupakan uang. Syarat berikutnya adalah diterima secara umum. Biasanya benda yang digunakan adalah benda-benda yang bernilai ekonomis (economic goods), misalkan pisau yang dipakai oleh masyarakat Cina pada ± 3.000-5.000 tahun yang lalu, garam dipakai oleh kekaisaran Romawi, emas, dan logam-logam mulia lain selain emas.

Perkembangan Bentuk-Bentuk Uang

Perkembangan bentuk-bentuk uang sejalan dengan perkembangan peradapan manusia itu sendiri. Secara garis besar, perkembangan perekonomian dapat dibedakan menjadi dua tahap, yaitu perekonomian barter (barter economies) dan perekonomian uang (monetary economies).

Nama BendaMasyarakat Pengguna/Periode Penggunaan
PisauCina, ± 3.000 – 5.000 tahun yang lalu
Biji CokelatIndian Kuno, ± 3.000 – 5.000 tahun yang lalu
EmasSelain Timur Tengah, pusat-pusat kebudayaan kuno di Asia (Cina dan India), di wilayah Timur Kuno, ± 6.000 tahun yang lalu
GaramKekaisaran Romawi
Logam-logam mulia selain emasHampir seluruh wilayah di dunia
Batu besarMasyarakat Polinesia
Benda-Benda Yang Pernah Digunakan Sebagai Uang

Sistem Perekonomian Barter (Barter Economies)

Dalam perekonomian barter, peningkatan kesejahteraan dilakukan dengan tukar-menukar secara langsung komoditas-komoditas yang dibutuhkan. Sebagai syarat dari pertukaran tersebut adalah adanya dua keinginan yang saling bertemu atau ”kehendak ganda yang selaras” (double concidence of wants). Jika syarat tersebut tidak dipenuhi, maka proses pertukaran tidak akan berlangsung dan hal ini merupakan salah satu kelemahan dari perekonomian barter.

Kelemahan-kelemahan lain dari sistem perekonomian barter adalah sebagai berikut:

  1. Tidak adanya metode penyimpanan daya beli yang dapta diterima secara umum. Daya beli hanya dapat disimpan dalam benda-benda tertentu saja dan sering kali hanya berlaku di satu tempat tertentu, sehingga wilayah penggunaannya juga relatif sempit. Selain itu, benda-benda yang dipakai sebagai penyimpan daya beli cepat rusak, sehingga nilainya menurun.
  2. Tidak adanya standar ukuran dan nilai. Karena harga suatu barang diukur dengan barang lain, maka dalam perekonomian akan ada begitu banyak nilai tukar. Makin banyak barang/jasa yang diproduksi akan makin banyak nilai tukar yang harus ditetapkan.
  3. Tidak adanya alat pembayaran untuk transaksi-transaksi di masa mendatang. Sistem barter menyebabkan transaksi hanya dilakukan untuk sesuatu yang dibutuhkan pada saat transaksi dilakukan saja. Jika seseorang menunda dan menunggu waktu lain, sangat besar kemungkinan dia tidak akan mendapat kesempatan lagi. Sebab di waktu lain, kebutuhan orang-orang juga berubah.

Sistem Perekonomian Pasca Barter (Post Trading Economies)

Dalam sistem perekonomian pasca barter, kegiatan pertukaran masih dilakukan dengan sistem barter. Tetapi barter tidak lagi dilakukan antar individu, tetapi sudah ditentukan tempat khusus untuk pertemuan barter sehingga koordinasi transaksi menjadi lebih murah dan mudah.

Masalah double concidence of wants dapat dikurangi, demikian juga informasi tentang pembeli atau penjual potensial suatu komoditas lebih mudah diperoleh. Namun, dengan perkembangan perekonomian, dimana jumlah produksi barang/jasa makin besar serta variasi produk makin banyak/beragam, maka sistem perekonomian pasca barter juga menemukan keterbatasan-keterbatasan, antara lain adalah biaya transaksi yang tinggi dan kemungkinan kegagalan transaksi karena tidak terjadinya double concidence of wants.

Sistem Perekonomian Uang (Monetary Economies)

Loading...

Untuk mengatasi keterbatasan dalam sistem perekonomian barter dan pasca barter, maka mulai ditetapkanlah satu komoditas atau benda yang diterima secara luas sebagai alat tukar. Dengan demikian perekonomian memasuki masa perekonomian uang. Pada awalnya, benda yang dijadikan sebagai alat tukar merupakan benda yang relatif berharga (economic good) dan diterima secara luas. Perkembangan uang selanjutnya mengikuti perkembangan kemajuan ekonomi dan teknologi.

  1. Uang Komoditas (Money Commodities). Pada tahap ini uang yang digunakan adalah berupa komoditas berharga pada masanya. Perkembangan selanjutnya, disepakati bahwa uang yang terbuat dari logam mulia, seperti emas, perak, dan perunggu, digunakan sebagai uang.
  2. Representatif Uang Komoditas (Money Commodities Representative). Penggunaan uang komoditas menimbulkan kesulitan, baik untuk kegiatan transaksi berskala sangat kecil maupun transaksi sangat besar. Jika transaksi yang dilakukan dalam jumlah yang sangat besar, maka logam mulia yang dibutuhkan juga sangat besar sehingga akan sangat riskan dalam hal keamanan serta merepotkan. Kesulitan ini mendorong diberlakukannya penggunaan uang kertas sebagai alat tukar. Namun karena nilai nominal dari uang kertas jauh lebih besar daripada nilai kertas yang digunakan sebagai uang, maka setiap uang kertas yang dikeluarkan dijamin dengan logam mulia senilai nominal uang kertas yang dikeluarkan.
  3. Uang Fiat (Token Money). Kelemahan dari sistem standar emas adalah ekspansi moneter akan menyebabkan pemerintah harus meningkatkan jumlah emas yang dicadangkan, yang berarti makin banyak kekayaan nasional yang kurang produktif. Selain itu, bagi Negara yang mengalami defisit neraca pembayaran, akan mengalami kebangkrutan. Dengan kelemahan ini maka, penjaminan uang kertas dengan logam mulia tidak lagi dipakai dan diganti dengan keputusan resmi dari pemerintah, sehingga masyarakat menjadi percaya dengan uang kertas tersebut meskipun nilai nominalnya lebih besar daripada nilai kertasnya (nilai nominal lebih besar dari nilai intrinsik). 

Sejarah Perkembangan Uang di Indonesia

Pada abad ke-7 di Indonesia beredar uang berbentuk seperempat bulatan yang terbuat dari perak dengan gambar sebuah jambangan bunga padma dan kepulan asap. Pada sisi lain uang tersebut terdapat gambar bintang dengan bunga padma ditengahnya. Dalam perkembangan selanjutnya, beredar mata uang yang berbentuk segi empat dan bulat kancing dari bahan perak dengan sisi muka bertuliskan bahasa Sansekerta.

Pada Zaman kerajaan Kediri (abad 11-13), beredar mata uang Krishnala yang berbentuk seperti butiran jagung dan terbuat dari emas murni, dengan gambar semacam linggam. Sedangkan pada zaman Majapahit beredar mata uang dengan ornamen pada kedua sisinya yang menggambarkan cerita rakyat dan seri mata uang yang bertuliskan huruf arab di satu sisi dan gambar wayang di sisi lainnya. Pada abad ke-14 dari Kerajaan Samudra Pasai, digunakan uang Dirham yang berbentuk bulat pipih dan terbuat dari emas yang pada kedua sisinya bertuliskan huruf arab.

”Oeang Repoeblik Indonesia” disingkat ORI, emisi pertamanya diterbitkan pada 30 Oktober 1946, namun demikian, tanggal emisi yang tercantum dalam mata uang tersebut adalah 17 Oktober 1945, dengan pecahan 1, 5, 10, dan 50 sen, serta 1, 5, 10, dan 100 rupiah. Bersamaan dengan diterbitkannya ORI, mata uang Gulden Hindia Belanda dan uang kertas pendudukan Jepang masih digunakan dengan kualitas dan penampilan yang jauh lebih baik dari ORI. Pada tahun 1950, dengan terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS), Indonesia mengeluarkan uang pecahan Rp. 5 dan Rp. 10 dengan tanggal emisi 1 Januari 1950 dengan hasil cetakan yang berkualitas dan berpenampilan baik (dicetak pada percetakan di kota London, Inggris). Setelah emisi pertama RIS, kemudian berturut-turut, pada tahun 1951 pemerintah mengeluarkan emisi uang kertas dengan pecahan 1 dan 2,5 rupiah, dan pada tahun 1952 Bank Indonesia mengedarkan uang kertas Seri Pahlawan dan Kebudayaan dengan nilai 5, 10, 25, 50, 500, dan 1.000 rupiah.

Media Interaktif Belajar Ekonomi Moneter

Loading...

Silakan gunakan salah satu platform media interaktif Ekonomi Moneter yang sudah saya sediakan di bawah ini. Ada yang berbasis HTML dan berbasis Google presentation. Bila Anda ingin menggunakan dalam versi Android juga sudah saya sediakan unduhan file APK-nya di bagian bawah tulisan ini.

EkoMon Versi Web:

Ekonomi Moneter

Bila sulit dibuka silakan gunakan Yang INI.

EkoMon Versi Android:

Ekonomi Moneter

Tinggalkan Balasan