Pemahaman Tentang Kewirausahaan yang Salah

Pemahaman Tentang Kewirausahaan yang Salah

Pemahaman Tentang Kewirausahaan yang Salah – Kesalahpahaman tentang dunia wirausaha (entrepreneurship) banyak beredar di luar sana. Tidak jarang asumsi-asumsi yang kurang berdasar ini membuat orang memiliki persepsi dan cara pandang yang kurang tepat dan menyeluruh mengenai entrepreneurship.

Entrepreneurship secara definisi dapat dijelaskan sebagai sebuah penciptaan manfaat/ nilai melalui inovasi. Menurut Peter F. Drucker, inovasi ialah instrumen spesifik entrepreneurship, sebuah tindakan yang memberikan sumber daya yang semula menganggur menjadi sesuatu yang memiliki kapasitas/ kemampuan untuk menghasilkan kekayaan dan memperbaiki keadaan.

Berikut ini adalah adalah 5 kesalahpahaman atau pemahaman tentang kewirausahaan yang salah dan perlu Anda ketahui agar tidak larut dalam kesalahan-kesalahan turunan lainnya:

 

Berwirausaha sama dengan berdagang

Tidak semua pemilik bisnis mikro dan kecil menengah (UMKM) adalah entrepreneur, menurut Peter F. Drucker. Mengapa? Karena inovasi adalah instrumen khusus entrepreneurship. Tidak semua pedagang adalah wirausaha/ entrepreneur.

Jika pedagang itu menerapkan inovasi dalam berbisnis, baru ia bisa disebut sebagai entrepreneur. Jika hanya menjalankan bisnis seperti biasa dan sudah lazim ditemui di kebanyakan orang, ia belum dapat disebut sebagai entrepreneur.

Entrepreneurship juga berkenaan dengan penciptaan nilai/ manfaat (value). Dalam berbisnis, menciptakan manfaat yang bisa dinikmati konsumen juga sama pentingnya dengan meraup untung.

 

Belajar entrepreneurship adalah belajar membuat

Seseorang tidak perlu menjadi produsen barang untuk menjadi entrepreneur. Ketrampilan memasak untuk seorang entrepreneur kuliner, contohnya, bisa jadi sangat berguna dalam mendirikan dan menjalankan bisnisnya sehari-hari. Akan tetapi, tanpa memiliki ketrampilan memasak yang tinggi pun, seseorang masih bisa menjalani bisnis kuliner dengan baik. Asal ia punya kreativitas dan inovasi!

 

Yang terpenting dalam memulai bisnis adalah modal

Pemahaman tentang kewirausahaan yang salah berikutnya adalah masalah modal dimana dana sering dijadikan hal utama. Dana bukan masalah utama. Saat Anda tidak memiliki modal yang berlimpah, anggap itu sebagai sebuah cambuk untuk berkreasi.

Kreativitas akan lebih terpacu saat batasan-batasan ada di sekitar kita. Dan itu terbukti dengan adanya banyak entrepreneur sukses yang memulai usaha dengan modal minim, bahkan nol. Syaratnya? Miliki integritas, tekad dan kesungguhan untuk bekerja keras dan yang pasti harus memiliki jejaring bisnis yang luas. Itu modal tak kasat mata yang tidak kalah pentingnya dengan modal uang.

Tengok saja kisah nyata seorang alumni Campus Entrepreneurship Program (kerja sama Universitas Ciputra Entrepreneurship Center dan program pascasarjana Universitas Gadjah Mada) yang bernama Anto Suswanto. Anto anak seorang mandor bangunan yang cerdas dan lulusan UGM yang bergengsi tetapi ia ingin menciptakan lapangan kerja bagi diri dan orang lain dengan menjadi entrepreneur. Ia bahkan tidak punya modal untuk mengikuti pelatihan entrepreneurship, toh ia kemudian dibantu oleh dosennya dan sanggup menjadi seorang pengembang properti yang lumayan sukses sekarang.

Proyek pertamanya senilai Rp 6 miliar di kota Bantul Yogyakarta didanai bukan dari modal Anto sendiri. Ia mengelola dana dari pihak lain untuk menjalankan proyek propertinya itu hingga selesai dan terjual. Jadi singkirkan asumsi bahwa dana harus ada sebelum mulai usaha. Yang penting tekad dan semangat yang tinggi!

 

Belajar entrepreneurship adalah belajar materi jurusan sekolah bisnis

Sebagai sebuah bidang keilmuan dan pilihan jurusan, ekonomi dan manajemen bisnis sering menjadi primadona di berbagai kampus baik di dalam dan luar negeri. Namun, sayangnya lulus dari sekolah bisnis atau jurusan ekonomi, manajemen dan sejenisnya tidak serta merta membuat seseorang bermental entrepreneur dan pasti bisa bekerja sebagai entrepreneur.

Dibutuhkan lebih dari sekadar gelar akademis dan kuliah dalam kelas sebanyak SKS tertentu. Ini sangat ironis, karena masih banyak orang mengira dengan belajar ekonomi dan manajemen bisnis, seseorang pasti bisa mendirikan dan menjalankan bisnisnya sendiri.

Bagaimana bisa? Karena entrepreneurship adalah sebuah ilmu yang harus diamalkan. Ia tidak bisa dipelajari secara teoretis saja. Tidak cukup mempelajari entrepreneurship hanya dengan mengetahuinya (tahapan “to know”) dari buku atau pemikiran orang lain. Anda harus turun ke lapangan, mempraktikkannya secara langsung (tahapan “to do”). Hingga akhirnya kelak, Anda bisa mencapai tahapan “to be”, menjadi seorang entrepreneur yang sebenarnya.

 

Saya adalah praktisi bisnis (karyawan) maka saya pasti mampu buka usaha

Andal menjalankan bisnis (business operation) belum menjamin seseorang pasti piawai dalam berwirausaha. Meski Anda seorang karyawan paling cemerlang dan berprestasi di perusahaan orang lain, Anda masih perlu belajar untuk mengubah pola pikir dan perilaku menjadi lebih entrepreneurial.

Sederhananya, pola pikir dan perilaku karyawan berbeda dari entrepreneur. Walaupun mengetahui dan memahami seluk beluk dijalankannya sebuah usaha, Anda masih harus bekerja keras mengubah cara pandang menjadi lebih entrepreneurial. Misalnya, lebih proaktif dalam menjemput peluang daripada menunggu instruksi dari atasan.

 

Demikianlah bahasan kami mengenai beberapa pemahaman tentang kewirausahaan yang salah. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi di laian bahasan (maglearning.id).

Loading...

Tinggalkan Balasan