TEORI METAKOGNITIF

Metakognitif didefinisikan dalam istilah yang paling sederhana adalah “berpikir tentang berpikir“. Kata “meta” berarti “di luar,” jadi istilah ini mengacu pada “di luar kognisi”. Secara khusus, metakognitif ini mencakup proses perencanaan, pelacakan, dan penilaian pemahaman atau kinerja kita sendiri.

Istilah metakognitif kali pertama diperkenalkan oleh ahli psikologi perkembangan Amerika John H. Flavell pada tahun 1979. Teori ini berkembang pesat di tahun 1980-an.

John H. Flavell mendefinisikan kata metakognisi sebagai “kognisi tentang fenomena kognitif”. Cross dan Paris (1988) mendefinisikannya sebagai “pengetahuan dan kontrol yang dimiliki oleh anak-anak atas kegiatan berpikir dan belajar mereka sendiri”. Sedangkan menurut Hennessey (1999), metakognitif adalah “kesadaran akan pemikiran kita sendiri, kesadaran akan isi konsepsi seseorang, sebagaimana pemantauan aktif proses kognitif seseorang, upaya untuk mengatur proses kognitif seseorang dalam hubungannya dengan pembelajaran lebih lanjut, dan penerapan serangkaian heuristik sebagai perangkat yang efektif untuk membantu orang mengatur metode tindakan mereka secara umum”.

Metakognisi menjelaskan pemikiran mendalam di mana proses kognitif yang terlibat dalam pembelajaran dikendalikan secara aktif. Hal ini termasuk perencanaan bagaimana menyelesaikan tugas belajar yang diberikan, memantau pemahaman, dan memperkirakan kemajuan penyelesaian tugas.

Loading...

Siswa dapat dikatakan memiliki kemampuan yang lebih besar untuk mengontrol tujuan, disposisi, dan perhatian, ketika mereka lebih sadar akan proses berpikir mereka saat mereka belajar. Dengan demikian pengaturan diri adalah hasil dari kesadaran diri.

Jika seorang siswa menyadari betapa berdedikasi dirinya untuk mencapai tujuan, tentang seberapa kuat ketekunannya, dan seberapa fokus perhatiannya pada tugas, ia dapat mengatur dedikasi, disposisi, dan perhatiannya. Misalnya, ketika seorang mahasiswa menyadari kurangnya komitmen untuk menyelesaikan skripsi, dan memiliki pengetahuan bahwa ia menunda-nunda dan membiarkan dirinya terganggu oleh hal-hal lain yang kurang penting, maka ia dapat mengambil tindakan untuk segera memulai mengerjakan skripsinya. Hal ini hanya mungkin terjadi jika mahasiswa sadar akan penundaan dan mengambil kendali dalam perencanaan tentang cara menyelesaikan skripsinya.

Komponen Metakognisi

Loading...

Menurut Flavell metakognitif ini memiliki tiga komponen, yaitu : Pengetahuan metakognitif, regulasi metakognitif, dan pengalaman metakognitif.

  1. Pengetahuan metakognitif mengacu pada kesadaran yang dimiliki individu tentang diri mereka sendiri dan orang lain sebagai pemroses kognitif.
  2. Regulasi metakognitif berkaitan dengan kontrol individu atas pengalaman kognitif dan pembelajaran melalui serangkaian metode yang membantu individu tersebut mengatur pembelajarannya.
  3. Pengalaman metakognitif terkait dengan upaya kognitif yang saat ini sedang berlangsung.

Jenis Pengetahuan Metakognitif

Selain tiga komponen tersebut di atas, metakognisi juga memiliki tiga jenis pengetahuan metakognitif yang berbeda, yaitu: Pengetahuan Deklaratif, Pengetahuan Prosedural, dan Pengetahuan Strategi.

  1. Pengetahuan Deklaratif atau Pengetahuan Personal mengacu pada informasi faktual yang diketahui seseorang, dan dapat diucapkan atau ditulis. Termasuk di dalamnya pengetahuan tentang diri sendiri sebagai pembelajar dan tentang faktor-faktor apa yang dapat memengaruhi kinerja seseorang. Jenis pengetahuan metakognitif ini tidak selalu akurat, karena penilaian individual seseorang sering tidak reliabel.
  2. Pengetahuan Prosedural atau Pengetahuan Tugas terdiri dari informasi tentang bagaimana melakukan sesuatu atau bagaimana melakukan langkah-langkah prosedural dalam menyelesaikan tugas. Pengetahuan ini terkait dengan seberapa sulit seseorang memahami tugas yang harus dilakukan, juga untuk kepercayaan diri mereka. Pengetahuan prosedural tingkat tinggi memungkinkan individu untuk menyelesaikan tugas secara lebih otomatis melalui berbagai strategi.
  3. Pengetahuan Strategi atau Pengetahuan Kondisional mengacu pada pengetahuan tentang kapan harus menggunakan prosedur, keterampilan, atau strategi dan kapan tidak menggunakannya, informasi tentang mengapa suatu prosedur bekerja dan dalam kondisi apa itu bekerja, di samping mengapa satu prosedur lebih baik dari yang lain. Dengan kata lain kemampuan strategi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan strategi untuk mempelajari informasi, serta untuk mengadaptasi strategi ini dengan situasi baru.  Pengetahuan tersebut membuat individu mempunyai peluang untuk menentukan atau memilih sumber daya saat menggunakan strategi.

Tinggalkan Balasan