Pembelajaran Era Disruptive

Hampir semua siswa di Indonesia saat ini merupakan generasi digital native. Mulai siswa pendidikan usia dini sampai mahasiswa telah melampaui generasi milenial. Hanya sebagian kecil dari mahasiswa Pascasarjana saja yang bukan generasi digital native.

Teknologi digital juga sudah banyak mewarnai pembelajaran di Indonesia. Setiap siswa sudah terbiasa memanfaatkan gawai digital untuk menunjang pembelajarannya.

Namun, para siswa yang sekolah saat ini sedang diajar oleh para guru dalam kategori imigran digital. Guru- guru mereka sebagian besar terlahir di era teknologi analog. Bahkan sebagian dari mereka masih kesulitan dalam menggunakan berbagai teknologi pembelajaran digital.

Paradoksi ini diperkirakan oleh banyak pengamat pendidikan akan masih berlangsung hingga 5-10 tahun mendatang. Fase ini akan menjadi perjalanan yang bergelombang bagi hampir setiap institusi pendidikan. Mereka wajib menyesuaikan dengan berbagai tuntutan stakeholder-nya.

Sebagai sebuah sistem, institusi pendidikan tidak terstruktur untuk perubahan cepat, dan akan ada banyak gesekan budaya dan kepentingan ketika teknologi pendidikan yang didukung investasi bersinggungan dengan struktur pendidikan konservatif. Struktur ini bisa dipastikan berjalan lambat. Tidak seperti perusahaan komersial yang lebih cepat dalam merespons perubahan.

Era disruption sudah menjadi banyak perhatian bagi dunia usaha, baik skala nasional maupun internasional. Kekacauan hukum ekonomi dan strategi bisnis yang tidak efektif akibat perubahan yang masif dan cepat juga menjalar ke dunia pendidikan.

Siswa sudah terbiasa belajar dari manapun, dengan siapapun, dan kapanpun. Guru bukan lagi menjadi menjadi sumber informasi dominan dalam pembelajaran siswa. Hal ini sebenarnya bagus bagi kepentingan pembelajaran siswa, namun bisa menjadi masalah tersendiri jika guru tidak mampu mengikuti pola pembelajaran mereka.

Walau bagaimanapun karakteristik kognitif dan emosi siswa dan guru harus selaras dengan pembelajaran. Bagaimana lembaga pendidikan memiliki visi dan menentukan misi utama mereka yaitu menciptakan lingkungan belajar yang optimal adalah kunci keberhasilan pendidikan.

Loading...

Pertumbuhan teknologi online digital yang semakin masif ini membuat sekolah dan universitas harus secara langsung menghadapi:

  1. Beberapa model penyampaian (delivery);
  2. Disonansi dalam kebijakan dan praktik karena model penyampaian lama dan baru mempunyai banyak perbedaan;
  3. Program pembelajaran online harus lebih murah dan tidak membebankan biaya pada siswa;
  4. Pembelajaran online membuka bidang kompetitif yang berpotensi meratakan kompetensi institusi komprehensif serta meningkatnya penyedia pembelajaran alternatif.

Fenomena pembelajaran jarak jauh yang kemudian diikuti dengan berkembangnya pembelajaran hibrida menjadi salah satu tanda perubahan yang signifikan dalam hal penyampaian. Tentunya ini membawa dampak positif dalam hal peningkatan kompetensi kognitif siswa. Namun tidak sedikit yang menghawatirkan bahwa pembelajaran semacam ini akan menggerus nilai-nilai lokal dimana siswa tinggal.

Banyak sekali kegagapan institusi pendidikan dalam merespons hal ini, sehingga sering lupa substansi dari kebijakan yang diterapkan. Sebagian besar kebijakan-kebijakan ini dirancang dengan buru-buru dan hanya mampu menyentuh permukaan dari komponen-komponen pembelajaran.

Yang paling cepat merespons berbagai persoalan ini biasanya adalah sektor swasta. Kita bisa melihat bagaimana menjamurnya penyedia jasa pembelajaran baik berbasis offline maupun online. Terutama online, setidaknya kita bisa merasakan bagaimana pendidikan digital ini sudah menjadi ladang bisnis yang menjanjikan banyak keuntungan finansial.

Menariknya justru keahlian penyedia layanan pendidikan ini sebenarnya tidak istimewa dalam kacamata pendidikan. Mereka justru lebih pada mengikuti kemauan pasar dalam membangun layanan-layanan mereka.

Loading...

Tulisan ini tidak bermaksud mengkritisi hal ini, namun lebih pada bagaimana kita bisa mendiskusikan tentang apa yang bisa kita lakukan untuk mengambil beberapa peran dalam peningkatan pembelajaran, terutama di Indonesia. Banyak hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan di era disruption ini.

Terutama untuk guru atau calon guru, banyak hal yang bisa kita eksplorasi terkait dengan pembelajaran modern. Berbagai jalan pembelajaran bisa kita inisiasi, minimal untuk tetap mendapat ruang dalam pembelajaran siswa.

Hal yang paling masuk akal adalah dengan menggalang kerjasama antar komponen dalam sistem pendidikan nasional. Guru tidak bisa sendiri dalam menciptakan teknologi pembelajaran yang mumpuni. Guru harus bisa berkolaborasi dengan ahli teknologi digital juga ahli audio maupun visual dalam menyediakan berbagai konten pembelajaran untuk siswanya.

Jadi, jangan sampai peran ini diambil swasta an sich. Para pendidik”asli” harus terlibat bila tidak mau ditinggal oleh siswanya secara gradual.

Tinggalkan Balasan