Sedikit tentang Scopus

Monopoli WoS atas analisis bibliometrik skala besar berakhir pada tahun 2004, ketika penerbit ilmiah terbesar di dunia, Elsevier, merilis indeks sitasi Scopus. Sebelum pembuatan Scopus, para peneliti mencari artikel ilmiah menggunakan database lain (misalnya, WoS) untuk memperoleh informasi bibliografi, dan kemudian mengambilnya di Elsevier’s Science Direct.

Pendirian Scopus sering digembar-gemborkan sebagai contoh sukses integrasi vertikal, di mana perusahaan yang membuat indeks sitasi juga memiliki materi (sources) yang diindeks. Ini adalah perbedaan mendasar dari WoS, yang bergantung pada penerbit lain untuk menyimpan bahan dan kemudian mengekstraksi metadata yang diperlukan.

Elsevier, di sisi lain, sudah memiliki materi dan metadata yang sudah tersedia dalam satu rumah. Dengan demikian, Elsevier mengambil kesempatan untuk membuat indeks sitasi yang dibangun dari tulang punggung jurnal yang dimiliki oleh perusahaan, meskipun Elsevier memilih untuk tidak mengindeks seluruh katalog yang dimilikinya. Hal ini mungkin dilakukan untuk menghindari kekhawatiran bahwa indeks Scopus tidak cukup selektif. Pada 2016, sekitar 10% jurnal yang diindeks dalam database Scopus adalah dari Elsevier.

Integrasi vertikal, walaupun bermanfaat bagi perusahaan, juga rawan menimbulkan beberapa kekhawatiran tentang monopoli dalam komunikasi ilmiah mengingat bahwa Elsevier sekarang berfungsi sebagai pengindeks utama, penerbit, dan penyedia alat evaluasi penelitian. Karena aksesnya yang lebih ketat dan kebijakan pembelian data untuk penggunaan kembali data pihak ketiga, analisis penuh cakupan dan batasan Scopus lebih sulit untuk disediakan. Sedangkan WoS selalu mengklaim mengandalkan data kutipan,

Loading...

Scopus dulu awalnya lebih sulit dipahami dan kurang transparan dalam kriteria untuk masuk. Seleksi Konten dan Dewan Penasihat akhirnya dibuat, termasuk ilmuwan dan pustakawan, yang mengevaluasi jurnal untuk dimasukkan. Selain kriteria dasar (misalnya, peer-review, kevalidan ISSN), dewan pemilihan konten menilai jurnal berdasarkan lima kriteria: kebijakan editorial, konten, sitasi, keteraturan dalam penerbitan, dan ketersediaan online.

Jurnal yang diindeks juga akan dievaluasi ulang secara berkala, dan mungkin ditandai karena tingkat sitasi yang tinggi atau rendah berbanding dengan jumlah keseluruhan artikel, sitasi, dan klik pada full-text. Sudah banyak jurnal telah dihapus dari platform ini sejak pembuatannya dengan pertimbangan yang tidak begitu transparan. Walaupun demikian upaya ini dianggap sebagai langkah penting untuk menjaga reputasi Scopus.

Loading...

Untuk indeksasi buku sampai saat ini memang kurang jelas. Belum ada kriteria seperti reputasi penerbit, kualitas buku, kebijakan publikasi, atau operasionalisasi dari konsep-konsep. Paling tidak kriteria-kriteria ini belum dibuka untuk umum. Indeksasi didasarkan pada penerbit, bukan pada judul buku individual. Demikian pula, pengindeksan proses konferensi didasarkan pada kualitas konferensi, serta pada reputasi organisasi atau penerbit di belakangnya. Secara keseluruhan, kriteria seleksi tampaknya telah menghasilkan database yang lebih inklusif, dalam hal jenis dokumen, total judul, dan liputan jurnal nasional yang semuanya menyangkut penelitian dan komunitas bibliometrik dengan WoS.

Fitur penting lain dari Scopus adalah disambiguasi penulis bawaan, yang secara otomatis memberikan makalah kepada masing-masing peneliti dengan tingkat presisi yang tinggi, walaupun metodologi di balik algoritma ini belum diungkapkan. Pada 2016, Scopus mengindeks lebih dari 60 juta catatan di semua disiplin ilmu, yang berasal dari sekitar 23.000 judul jurnal, serta 6 juta makalah konferensi, dan 130.000 buku. Namun, Scopus adalah basis data yang jauh lebih muda dalam hal cakupan, dan hanya konsisten dalam pengindeksan sejak tahun 1996 dan seterusnya. Ini membuatnya menjadi sumber berkualitas tinggi untuk analisis kontemporer, tetapi berkualitas lebih rendah daripada WoS untuk analisis historis. Saat ini pun orang lebih mengenal Scopus ketimbang WoS.

Tinggalkan Balasan