Komunikasi dalam Sistem Saraf (Struktur Neuron)

Komunikasi dalam Sistem Saraf (Struktur Neuron)

Komunikasi dalam Sistem Saraf (Struktur Neuron) – Sistem saraf tersusun oleh sel-sel saraf atau yang disebut dengan Neuron. Neuron adalah spesialis komunikasi otak yang berfungsi sebagai pengirim sinyal-sinyal informasi ke, dari, serta intra sistem saraf pusat. Neuron dilapisi oleh Glia atau sel-sel Glia, dan Glia ini menyusun sekitar 90 persen dari sel-sel otak.

Sel-sel Glia berfungsi sebagai pembungkus, pelindung, serta penyekat neuron-neuron penting. Ia pun memberikan gizi pada neuron, melindungi otak dari zat beracun, serta menyingkirkan sisa Neuron yang telah mati. Namun tidak hanya itu saja, sel-sel Glia juga berkomunikasi satu sama lain secara kimiawi. Mungkin, tanpa sel-sel Glia neuro tidak dapat bekerja secara aktif.

Neuron pada manusia memiliki bentuk mikroskopis (amat sangat kecil). Tak ada seorang pun yang dapat memastikan berapa banyak neuron yang berada dalam otak manusia. Neuron memiliki ukuran serta bentuk yang bervariasi, tergantung pada lokasi setra fungsinya.

Struktur Neuron

Neuron terdiri dari 3 bagian utama yaitu :

  1. Dendrit. Dendrit adalah cabang dari neuron yang menerima informasi dari neuron lainnya serta mengantarkan informasi tersebut ke badan sel.
  2. Badan sel. Badan sel memainkan peran inti dalam menentukan apakah neuron seharusnya aktif. Mengirimkan pesan ke neuron-neuron lainnya, hal ini tergantung dari input dari neuron lainnya.
  3. Akson. Akson berfungsi untuk mengirimkan pesan dari badan sel ke neuron lainnya, atau kew otot dan kesel kelenjar. Umumnya ujung akson bercabang menjadi ranting, yang disebut dengan Terminal akson.

Dendrit dan akson memberikan peran ganda pada neuron. Akson dibungkus dengan lapisan berlemak yang disebut dengan Selubung Mielin yang terbentuk dari sel-sel Glia. Batas-batas pinggir selubung mielin disebut dengan Node.

Selubung mielin berfungsi sebagai pencegah terjadinya gangguan signal di antara sel-sel yang letaknya berdekatan. Selain itu juga bertujuan mempercepat konduksi dari impuls saraf. Hilangnya mielin dapat menyebabkan sinyal saraf menjadi tidak beraturan, sehingga menimbulkan hilangnya sensasi, lumpuh, kurang koordinasi, atau bahkan menyebabkan masalah penglihatan.

Dalam sistem saraf perifer, setiap serabut neuron bergabung dengan sebuah berkas yang disebut dengan saraf, yang memiliki bentuk seperti jaringan kabel telepon.

Sampai saat ini para ilmuwan neurologi beranggapan bahwa apabila neuron di dalam sistem saraf pusat terluka atau cedera, neuron tersebut tidak akan dapat tumbuh lagi. Namun di awal tahun 90an seorang ahli nuerologi Kanada berasumsi bahwa pernyataan di atas adalah salah. Ia telah melakukan penelitian terhadap sebuah tikus dan membenamkan sel-sel sistem saraf pusat yang belum matang dari otak hewan tersebut ke dalam protein yang dapat meningkatkan pertumbuhan.

Ternyata, sel-sel ini dapat melahirkan neuron-neuron baru yang disebut dengan proses neurogenesis. Sejak saat itu para ilmuwan menemukan bahwa otak manusia dan organ lainnya juga mengandung sel-sel semacam itu yang disebut sebagai sel induk.

Ujung neuron yang satu dengan ujung neuron yang lainnya tidak saling bersentuhan karena dipisahkan oleh ruang yang amat sangat kecil yang disebut dengan celah sinapsis, suatu terminal dimana ujung sebuah neuron hampir bersentuhan dengan dendrit atau badan sel lainnya. Keseluruhan terminal ini dari ujung akson, celah, serta membran yang menyelubungi dendrit atau badan sel disebut sinapsis.

Neuron-neuron saling berbicara satu dengan yang lainnya (Komunikasi Sistem Saraf), dan ketika sel saraf dirangsang pada sisi dalam dan sisi luar sel terjadi perubahan tenaga listrik. Secara fisika, proses ini melibatkan mengalir masuknya ion-ion sodium bermuatan positif ke dalam membran sel, yang terjadi secara mendadak dan berlangsung sesaat. Kemudian diikuti dengan mengalir keluarnya ion-ion potasium yang bermuatan positif, hasilnya adalah perubahan tenaga listrik yang berlangsung singkat, yang disebut potensi aksi dan menghasilkan arus listrik atau impuls.

Jika sebuah akson tidak diselubungi dengan nielin, potensi aksi di setiap ujung akson akan membangkitkan potensi akson pada ujung lainnya. Dengan demikian impuls-impuls akan terus mengalir ke akson lainnya. Namun akson yang diselubungi nielin melakukan yang sedikit berbeda. Konduksi dari impuls saraf yang terletak dibalik membran menjadi tidak mungkin disebabkan karena ion-ion sodium dan ion-ion potasium tidak dapat melewati membran sel kecuali pada node antara selubung nielin.

Ketika impuls saraf mencapai terminal akson yang bentuknya seperti ujung kancing, ujung saraf itu harus memperoleh pesan ketika melintasi celah sinapsis ke sel lainnya. Pada titik ini, gelembung sinapsis yang terletak di ujung terminal akson akan terbuka dan melepaskan beberapa ribu molekul dari sebuah bahan kimia yang disebut dengan neurotransmiter.

Neurotransmitter

Neurotransmiter memungkinkan satu neuron untuk dapat membangkitkan ataupun menghambat kerja neuron lainnya. Neuorotransmiter tidak hanya terdapat di otak, namun terdapat juga di saraf tulang belakang, saraf perifer, serta di beberapa kelenjar. Melalui efek yang ditimbulkan pada jaringan saraf tertentu, zat ini mempengaruhi suasana hati, ingatan, serta kesejahteraan.

Sifat dasar dari efek yang ditimbulkannya tergantung pada tingkat neurotransmiter, lokasinya, serta jenis reseptor yang diikatnya. Ada ratusan zat yang dikenal ataupun diduga sebagai neurotransmiter dan jumlahnya akan terus bertambah. Berikut ini terdapat beberapa neurotranmiter yang sudah dikenal dan beberapa efeknya yang sudah diketahui :

  1. Serotonin. Serotonin mempengaruhi neuron yang berkaitan dengan tidur, nafsu makan, persepsi sensoris, pengaturan suhu, penahanan rasa sakit, serta suasana hati.
  2. Dopamin. Dopamin mempengaruhi neuron yang berkaitan dengan gerakan yang disengaja, belajar, ingatan, emosi, kenikmatan, serta respon terhadap hal-hal baru.
  3. Asetilkolin. Asetilkolin mempengaruhi neuron yang berkaitan dengan aksi otot, funsi kognitif, ingatan, emosi.
  4. Norepinefrin. Norepinefrin mempengaruhi neuron yang dapat mempercepat detak jantung serta menurunkan aktifitas usus ketika berada dalam kondisi stres.
  5. GABA. GABA atan Gamma Aminobutyric Acid berfungsi sebagai neurotrensmiter inhibitor utama dari otak.
  6. Glutamat. Glutamat berfungsi sebagai penggerak utama neurotransmiter di otak.

 

Demikianlah bahasan sederhana kami mengenai Komunikasi dalam Sistem Saraf (Struktur Neuron). Semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi di lain bahasan (maglearning.id).

 

Loading...

One comment

Tinggalkan Balasan