Tiga Kriteria Utama Pada Evaluasi Penelitian Sosial

Tiga kriteria yang paling menonjol untuk evaluasi penelitian sosial adalah reliabilitas, replikasi, dan validitas. Kali ini kita akan mencoba membahas tiga kriteria ini tentang bagaimana mereka bisa bisa menentukan kualitas sebuah penelitian.

Reliabilitas

Reliabilitas atau keandalan berkaitan dengan pertanyaan apakah hasil penelitian dapat diulang. Istilah ini umumnya digunakan dalam kaitannya dengan pertanyaan apakah langkah-langkah yang dirancang untuk menyelidiki konsep dalam ilmu sosial (seperti kemiskinan, motivasi, kepercayaan, kebahagiaan dll.) adalah konsisten.

Reliabilitas ini lebih banyak diperhatikan dalam penelitian kuantitatif. Peneliti dalam penelitian kuantitatif cenderung khawatir dengan pertanyaan apakah suatu ukuran stabil atau tidak.
Misalnya, jika sebuah tes IQ yang dirancang sebagai ukuran kecerdasan, hasilnya ditemukan berfluktuasi, sehingga skor IQ seseorang bisa sangat berbeda bila diberikan pada dua atau lebih kesempatan. Dengan demikian kita patut khawatir tentang reliabilitas ukuran tersebut. Bila ini yang terjadi maka banyak pihak akan menganggapnya sebagai tindakan (penelitian) yang tidak dapat diandalkan, atau kita tidak memiliki keyakinan dalam hal konsistensi.

Replikasi

Gagasan reliabilitas sangat dekat dengan kriteria penelitian lain, khususnya replikasi. Sering kali peneliti memilih untuk meniru, mengulangi, dan memverifikasi temuan orang lain. Ada sejumlah alasan berbeda untuk melakukannya, seperti perasaan bahwa hasilnya tidak sesuai dengan bukti lain yang relevan dengan domain yang dimaksud, atau menemukan fenomena yang hampir sama namun dengan kondisi yang baru atau berbeda.

Agar replikasi dapat dilakukan, sebuah penelitian harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Diantara beberapa syarat itu adalah: jika seorang peneliti tidak menguraikan prosedurnya dengan sangat rinci, maka replikasi tidak mungkin dilakukan. Demikian pula, agar kita dapat menilai reliabilitas suatu konsep, prosedur yang membentuk ukuran tersebut harus ditiru oleh orang lain.

Ironisnya, replikasi dalam penelitian sosial tidak umum. Bahkan, mungkin lebih benar untuk mengatakan bahwa itu sangat jarang. Rendahnya status replikasi dalam dunia akademik juga turut berkontribusi. Dunia akademis lebih menghargai orisinalitas daripada replikasi. Meskipun demikian, kapasitas investigasi agar penelitian bisa direplikasi dihargai sangat tinggi oleh banyak peneliti sosial yang bekerja dalam tradisi penelitian kuantitatif.

Validitas

Kriteria penelitian yang penting lainnya adalah validitas. Validitas berkaitan dengan integritas kesimpulan yang dihasilkan dari sebuah penelitian. Ada beberapa jenis validitas dalam dunia penelitian. Jenis validitas penelitian biasanya dibedakan sebagai berikut:

Loading...

Validitas pengukuran. Validitas pengukuran berlaku terutama untuk penelitian kuantitatif dan langkah-langkah pengukuran konsep penelitian sosial. Validitas pengukuran juga sering disebut sebagai validitas konstruk. Pada dasarnya, ini berkaitan dengan pertanyaan apakah ukuran yang dirancang dari suatu konsep benar-benar mencerminkan konsep yang dimaksud. Apakah tes IQ benar-benar mengukur variasi dalam kecerdasan?, Apakah langkah-langkah pengukuran benar-benar mewakili konsep? Jika tidak, temuan penelitian akan dipertanyakan. Validitas pengukuran terkait dengan reliabilitas: jika suatu ukuran konsep tidak stabil karena berfluktuasi dan tidak dapat diandalkan, ia tidak dapat memberikan ukuran yang valid dari konsep tersebut.

Validitas internal. Validitas internal terutama berkaitan dengan masalah kausalitas. Validitas ini berkaitan dengan pertanyaan apakah kesimpulan yang menyelidiki hubungan kausal antara dua atau lebih benar-benar bisa dipercaya. Jika kita menyatakan bahwa X menyebabkan Y, dapatkah kita yakin bahwa X yang bertanggung jawab atas variasi Y dan bukan hal lain. Dalam membahas masalah-masalah kausalitas, faktor yang memiliki dampak kausal umumnya disebut sebagai variabel independen dan efeknya sebagai variabel dependen. Dengan demikian, validitas internal memunculkan pertanyaan : seberapa yakin kah kita bahwa variabel independen setidaknya memiliki sebagian tanggung jawab atas variasi dari variabel dependen?. Pada analisis kuantitatif biasanya ditentukan dari koefisien determinasi.

Validitas eksternal. Validitas eksternal berkaitan berkaitan dengan pertanyaan apakah hasil penelitian dapat digeneralisasi di luar konteks penelitian. Misalnya bila sebuah penelitian menggunakan 473 sampel responden, jika penelitian itu tidak valid secara eksternal, simpulannya hanya berlaku untuk 473 responden saja. Jika dinyatakan valid secara eksternal, simpulan itu berlaku lebih umum yaitu populasinya. Dalam konteks inilah masalah bagaimana individu dipilih untuk berpartisipasi dalam penelitian (sebagai sampel) menjadi sangat penting. Ini adalah salah satu alasan utama mengapa peneliti kuantitatif sangat memperhatikan bagaimana metode untuk menghasilkan sampel yang representatif. Masalah penentuan sampel ini secara lengkap bisa Anda baca DI SINI.

Validitas ekologis. Validitas ekologis berkaitan dengan pertanyaan apakah temuan penelitian sosial berlaku untuk semua orang secara alamiah. Apakah instrumen kita menangkap kondisi kehidupan sehari-hari, pendapat, nilai, sikap, dan basis pengetahuan dari orang-orang yang kita pelajari sebagaimana diungkapkan dalam habitat alami mereka?. Kriteria ini berkaitan dengan pertanyaan apakah penelitian sosial bisa menghasilkan temuan yang secara teknis valid, tetapi tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Jika temuan penelitian secara ekologis tidak valid, maka hasilnya tidak akan memberikan kontribusi apa-apa. Semakin banyak peneliti melakukan intervensi dalam pengaturan alam atau menciptakan hal yang tidak alami, seperti laboratorium atau bahkan ruang khusus untuk melakukan wawancara, semakin besar kemungkinan bahwa temuan tersebut secara ekologis tidak valid.

Loading...

Temuan-temuan yang berasal dari penelitian menggunakan kuesioner mungkin memiliki validitas pengukuran dan tingkat validitas internal yang wajar, serta mungkin validitas eksternal juga tidak diragukan, dalam arti bahwa mereka dapat digeneralisasi untuk sampel lainnya dengan kuesioner yang sama, tetapi ketidakalamian karena intervensi atau pengkondisian karena harus menjawab kuesioner mungkin bisa membatasi validitas ekologis. Pada umumnya penelitian sosial tidak membutuhkan pengaturan-pengaturan itu sehingga mempunyai peluang yang lebih besar pada validitas ekologis.

Kriteria evaluasi penelitian kualitatif

Sejauh ini yang kita bahas tampaknya kriteria evaluasi lebih diarahkan untuk penelitian kuantitatif daripada penelitian kualitatif. Baik reliabilitas dan validitas pengukuran pada dasarnya berkaitan dengan kecukupan tindakan, yang jelas merupakan perhatian dalam penelitian kuantitatif. Validitas internal berkaitan dengan tingkat keyakinan temuan yang menyelidiki sebuah hubungan sebab-akibat, sebuah isu yang paling umum dari fokus penelitian kuantitatif. Validitas eksternal mungkin relevan dengan penelitian kualitatif, tetapi seluruh pertanyaan keterwakilan subjek penelitian yang berkaitan dengan masalah ini memiliki aplikasi yang lebih jelas pada bidang penelitian kuantitatif, dengan preokurasi dengan prosedur pengambilan sampel yang memaksimalkan peluang untuk menghasilkan suatu sampel yang representatif.

Masalah validitas ekologis berkaitan dengan kealamian pendekatan penelitian dan tampaknya memiliki relevansi yang cukup besar untuk penelitian kualitatif dan juga kuantitatif. Beberapa penulis telah berusaha menerapkan konsep reliabilitas dan validitas pada penelitian kualitatif, tetapi banyak juga yang berpendapat bahwa landasan reliabilitas dan validitas dalam penelitian kuantitatif tidak dapat diterapkan atau tidak cocok untuk penelitian kualitatif. Beberapa peneliti kualitatif mengusulkan agar penelitian yang mereka hasilkan harus dinilai atau dievaluasi sesuai dengan kriteria yang berbeda dari yang digunakan dalam penelitian kuantitatif. Lincoln dan Guba (1985) mengusulkan bahwa syarat dan cara alternatif untuk menilai penelitian kualitatif diperlukan. Sebagai contoh, mereka mengusulkan kepercayaan sebagai kriteria seberapa baik penelitian kualitatif mereka. Setiap aspek kepercayaan memiliki hubungan paralel dengan kriteria penelitian kuantitatif.

  • Credibility, yang sejajar dengan validitas internal. yaitu, seberapa dapat dipercaya temuan tersebut?
  • Transferability, yang sejajar dengan validitas eksternal. yaitu, apakah temuan itu berlaku untuk konteks lain?
  • Dependability, yang sejajar dengan reliabilitas. yaitu, apakah temuan-temuan mungkin berlaku di waktu lain?
  • Confirmability, yang sejajar dengan objektivitas. yaitu, apakah nilai-nilai investigator mengintervensi objek penelitian?

Tinggalkan Balasan