Meyakini Kitab-kitab Allah

PAI Kelas 8 BAB 1: Meyakini Kitab-kitab Allah, Mencintai Al-Qur’an

Meyakini Kitab-kitab Allah adalah adalah bagian rukun iman bagi setiap umat Islam, tepatnya adalah rukun iman ketiga. Setiap muslim pasti mencintai kitab sucinya yaitu Al-Qur’an.

Makna beriman kepada kitab-kitab Allah Swt.

Kitab ialah wahyu allah Swt. yang disampaikan kepada para rosul untuk diajarkan kepada manusia sebagai petunjuk dan pedoman hidup.

Suhuf ialah wahyu allah swt yang disampaikan kepada para rosul, yang merupakan dasar atau nasehat secara umum, tetapi tidak wajib disampaikam diajarkan kepada umat manusia. Suhuf dapat pula diartikan dengan lembaran-lembaran yang tertulis.

Meyakini kitab-kitab allah swt berarti mempercayai dan menyakini dengan sepenuhnya hati bahwa Allah Swt. telah menurunkan kitab-kitab-Nya kepada rosul yang berarti wahyu untuk disampaikan dan diajarkan kepada umat manusia.

Beriman kepada kitab-kitab Allah SWT merupakan rukun iman yang ketiga. Umat islam wajib percaya dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa semua kitab yang telah diturunkan Allah Swt. kepada Rosul itu pasti benar.   

Nama-nama kitab Allah Swt. dan rosul yang menerimanya

Kitab-kitab allah Swt yang wajib kita yakini ada 4 yaitu sebagai berikut:

1. Kitab Taurat

Dalam bahasa Ibrani, Taurat disebut dengan Thora. Taurat adalah kitab yang diturunkan oleh Allah Swt. kepada Nabi Musa as. untuk dijadikan petunjuk dan bimbingan baginya dan bagi kaum Bani Israil.

Sejarah Kitab Taurat

Sejarah turunnya Kitab Taurat bermula dari peristiwa pemukulan yang dilakukan Nabi Musa ‘alaihis salam terhadap seorang pemuda suku Qibthi. Pemukulan ini berdampak pada kematian Karena itu, Raja Fir’aun berupaya menangkap dan membunuh Nabi Musa ‘alaihis salam yang melarikan diri ke negeri Madyan.

Di negeri ini, Nabi Musa ‘alaihis salam bertemu dengan Nabi Syu’aib ‘alaihis salam dan dijodohkan dengan salah satu anak perempuannya. Setelah tinggal di Madyan cukup lama, Nabi Musa ‘alaihis salam meminta izin kepada Nabi Syu’aib untuk kembali ke Mesir guna mengunjungi orang tuanya.

Di tengah perjalanan, tepatnya di atas bukit yang bernama bukit Thuwa (bukit Thursina), Nabi Musa ‘alaihis salam melihat api. Beliaupun meminta izin kepada anak istrinya untuk mendatangi api tersebut.

Sesampainya di sana, beliau melihat sebuah sinar yang sangat terang. Itulah pertanda dari Allah subhanahu wa ta’ala bahwa Nabi Musa ‘alaihis salam menerima wahyu pertama dan diangkat menjadi rasul.

Di saat itu pula, Nabi Musa ‘alaihis salam diberikan beberapa mukjizat yaitu tongkat yang bisa menjadi ular dan tangan yang mengeluarkan cahaya putih cemerlang.

Kedua mukjizat tersebut diberikan kepada Nabi Musa ‘alahis salam untuk menghadapi Fir’aun yang telah melampaui batas. Karena kesombongannya, Fir’aun tetap tidak mau beriman setelah diberikan nasehat.

Loading...

Fir’aun beserta bala tentaranya akhirnya ditenggelamkan di laut ketika mengejar Nabi Musa ‘alaihis salam beserta kaum Bani Israil yang tengah berupaya meninggalkan Mesir.

2. Kitab Zabur

Kata Zabur berasal dari kata zabaro-yazburu-zabrun yang berarti tulisan. Dengan demikian, Zabur berarti kitab tertulis.

Dalam Islam, Kitab Zabur adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Daud ‘alaihis salam sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat An Nisaa’ ayat 163.

Kitab Zabur diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada Nabi Daud ‘alaihis salam sebagai petunjuk dan bimbingan bagi beliau beserta umatnya yakni kaum Bani Israil.

Sejarah turunnya Kitab Zabur

Sejarah turunnya Kitab Zabur tidak dapat dilepaskan dari peristiwa yang terjadi sebelumnya yaitu keberhasilan Nabi Daud ‘alaihis salam membunuh Jalut. Atas keberhasilannya tersebut, beliau menjadi terkenal di tengah-tengah kaumnya.       

Namun, keberhasilan ini tidak lantas membuat Nabi Daud’ alaihis salam gembira karena tujuannya membunuh Jalut adalah karena cintanya pada agama dan Allah subhanahu wa ta’ala. Jalut sendiri merupakan lelaki yang sombong dan tidak beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Karena itulah, Nabi Daud ‘alaihis salam kemudian memutuskan untuk bersembunyi dan mengasingkan diri serta bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Suatu hari, ketika Daud duduk di masa pengasingannya, beliau bertasbih kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan memuliakan-Nya. Saat itulah, Allah subhanahu wa ta’ala memilih Daud sebagai Nabi dan memberinya Kitab Zabur.

Adapun isi Kitab Zabur adalah kumpulan mazmur atau nyanyian rohani yang dianggap suci yang berasal dari Nabi Daud ‘alaihis salam. Jumlahnya mencapai 150 nyanyian.

Nyanyian-nyanyian tersebut menceritakan tentang seluruh peristiwa dan pengalaman hidup yang dialami Nabi Daud ‘alaihi salam hingga kemuliaan Mesias yang akan datang.

Kitab Zabur sama sekali tidak mengandung hukum-hukum atau syariat karena Nabi Daud ‘alaihis salam diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala mengikuti peraturan yang dibawa oleh Nabi Musa ‘alaihis salam.

3. Kitab Injil

Kitab Injil adalah kitab yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Nabi Isa ‘alaihis salam sebagai pedoman dan petunjuk hidup bagi Bani Israil.

Sejarah turunnya Kitab Injil

Ketika Nabi Isa ‘alaihis salam berusia tiga belas tahun, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepadanya untuk kembali dari negeri Mesir menuju Baitu Ilya (Yerusalem, Palestina).

Beliau bersama ibunya kemudian menemui Yusuf, sepupunya, dengan menunggang keledai hingga mereka sampai di Ilya. Merekapun tinggal di Ilya untuk beberapa waktu lamanya.

Ketika Nabi Isa ‘alaihis salam berumur tiga puluh tahun, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan Kitab Injil kepadanya. Mengacu pada kisah Nabi Isa diangkat ke langit, Injil tetap turun kepadanya hingga Allah mengangkatnya ke langit.

Hal ini disebutkan Ibnu Jarir dalam kitabnya at Taarikh sebagaimana dinyatakan oleh al Hafizh Ibnu Katsir dalam bukunya Kisah Para Nabi dan Rasul.

Tidak hanya menurunkan Injil, di tempat ini pulalah Allah subhanahu wa ta’ala mengajarkan Taurat kepada Nabi Isa ‘alaihis salam serta memberinya berbagai macam mukjizat.

Kitab Injil berisi antara lain tentang perintah untuk kembali mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala, membenarkan Kitab Taurat dan menghapus beberapa hukum dalam Kitab Taurat yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman.

Selain itu, sebagaimana halnya Kitab Taurat, Kitab Injil juga menjelaskan tentang akan datangnya seorang Rasul terakhir setelah Nabi Isa ’alaihis salam yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

4. Kitab al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang dengan membacanya merupakan suatu ibadah. Al-Qur’an merupakan kitab suci yang mulia, tidak ada satu kitab sucipun di dunia ini yang mendapat perhatian banyak orang dan sedemikian serius melebihi kitab suci Al-Qur’an.

Wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW ini dikaji dari banyak segi, tidak hanya tertuju kepada hal-hal global dan umum, tetapi juga rincian persoalan secara lengkap.

Sejarah Singkat Diturunkannya AlQuran

Allah SWT menurunkan ayat pertama Al-Qur’an pada bulan Ramadan. Meski ada sejumlah perbedaan, namun mayoritas ulama berpendapat 17 Ramadan atau 13 tahun sebelum hijriah dipercaya sebagai malam nuzulul qur’an (turunnya Al-Qur’an). Sebagian meyakini tanggal tersebut bertepatan dengan 10 Agustus 610 masehi.

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT melalui Malaikat Jibril kepada Muhammad SAW di Gua Hiro, Mekkah, Arab Saudi. Setelah itu Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Sebagian meriwayatkan Al-Qur’an turun selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Selama itu, Al-Qur’an difirmankan Allah SWT kepada Muhammad sebanyak 30 juz atau 114 surat atau sekitar 6666 ayat. Al-Qur’an sendiri turun di dua tempat, yaitu di Mekah (yang kemudian ayatnya disebut Makkiyah) dan Madinah (disebut ayat Madaniyah).

Periode Diturunkannya Al-Qur’an

Periode Mekah pertama selama 4 sampai dengan 5 tahun. Pada masa ini, dakwah Islam masih terbatas pada ruang lingkup yang kecil, dan ayat yang diturunkan pun pada umumnya membahas tentang pelajaran bagi Rasulullah SAW untuk membentuk kepribadiannya, pembahasan tentang dasar-dasar akhlak Islamiah, pengetahuan tentang sifat Allah serta bantahan mengenai pandangan hidup di masyarakat Jahiliah.

Periode Mekah kedua selama 4 sampai dengan 9 tahun. Pada masa ini dakwah Islam sudah mulai terbuka. Masyarakat Mekah sudah mulai berfikir untuk menghalangi dakwah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa ini umumnya tentang kewajiban sebagai seorang muslim, pembatasan tentang ke esaan Allah, pembahasan tentang hari kiamat, serta ancaman dan kecaman kepada orang musyrik yang mempunyai perilaku buruk.

Loading...

Periode Madinah selama 10 tahun. Rasulullah mulai hijrah dari Mekah ke Madinah, dan masyarakat sekitar mulai terbentuk keimanannya. Disana, masyarakat Yahudi dan Islam hidup berdampingan, namun seiring berjalannya waktu, kaum Yahudi pun mulai ikut menentang dakwah Nabi Muhammad SAW.

Awal Mula Dibukukannya Al-Qur’an

Pada saat itu, kertas belum ada di Arab, meskipun sudah ditemukan di China. Karena Nabi Muhammad SAW tidak bisa membaca dan menulis, maka ketika menerima Wahyu, beliau langsung menyampaikannya kepada para sahabat.

Para sahabat lalu menghafalkan-nya di luar kepala. Bagi yang bisa menulis, diminta untuk menuliskannya di atas kulit pohon, batu, kain, kulit hewan dan lain sebagainya. Untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an, setiap tahun malaikat Jibril bersama Rasulullah SAW selalu mengulang hafalan Al-Qur’an. Bahkan di tahun terakhir menjelang wafatnya, Nabi Muhammad SAW bersama malaikat jibril mengulangi hafalannya sebanyak dua kali.

Pembukuan Al-Qur’an pertama kali dilakukan pada masa Abu Bakar Ash Shiddiq atas usulan dari Umar bin Khaththab. Hal ini terjadi karena Umar khawatir atas kemurnian Al-Qur’an karena tidak sedikit dari para penghafal yang mati Syahid karena ikut berperang.

Pembukuan itu dipimpin oleh Zaid bin Tsabit dengan cara mengumpulkan ayat-ayat yang sudah pernah dituliskan oleh para sahabat di batu, kain, kulit pohon, kulit hewan dan lain sebagainya. Hasil dari hal tersebut adalah pembukuan resmi Al-Qur’an yang pertama kalinya.

Al-Qur’an yang sudah disatukan menjadi buku tersebut lalu disimpan oleh Abu Bakar sampai ia meninggal dunia. Setelahnya, di simpan oleh Umar sampai ia meninggal, dan diteruskan oleh anaknya yaitu Hafsah.

Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, Al Quran pertama kalinya di gandakan dan di distribusikan. Hal ini terjadi karena Islam sudah tersebar luas sampai ke Iran. Setelah itu, penggandaan dan pendistribusian Al-Qur’an kembali dilanjutkan oleh Huzaifah bin Yaman.

Hikmah Al-Qur’an Diturunkan Berangsur – angsur

Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun, 2 bulan, 22 hari atau 23 tahun, 13 tahun di Mekah dan 10 di Madinah.

Hikmah Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur diantaranya yaitu :

  • Agar lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan. Orang akan enggan melaksanakan suruhan, dan larangan sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak.
  • Di antara ayat-ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan kemaslahatan. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al-Qur’an diturunkan sekaligus
  • Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati.
  • Memudahkan penghafalan.
  • Di antara ayat-ayat itu ada yang merupakan jawaban dari pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan.

Dalil tentang beriman kepada kitab-kitab Allah

Al-Qur’an al-Karim adalah kitab yang teragung dari kitab-kitab lainnya, sebagai batu ujian bagi kitab-kitab yang lain itu dan menghapus semua ajaran dan hukum yang ada di dalamnya. Iman yang demikian itu karena adanya dalil-dalil naqli dan ‘aqli di bawah ini:

Dalil-dalil Naqli

Perintah Allah SWT agar beriman kepada kitab-kitabNya, seperti di dalam FirmanNya,

  • “Hai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, RasulNya dan Kitah (al-Qur’an) yang Allah turunkan kepada RasulNya, serta Kitab yang Allah turunkan sebelumnya.” (An-Nisa`: 136).
  • “Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya. Dia menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil sebelam (al-Qur’an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan al-Qur’an.” (Ali Imran: 2-4).
  • “Dan Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) al-Kitab (al-Qur’an) dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaita kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan batu ujian bagi kitab-kitab yang lain itu.” (Al-Ma`idah: 48).
  • “Dan telah Kami berikan Zabur kepada Dawud.” (An-Nisa`: 163).
  • “Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, ia dibawa turun oleh ar-Rah al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan Bahasa Arab yang jelas. Dan sesunggahnya al-Qur’an itu benar-benar (tersebut) di alalam Kitab-kitab orang yang dahulu.” (Asy-Syu’ara’: 192-196).
  • “Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (Al-A’la: 18-19).

Hadist Rasulullah SAW tentang Kitab-kitab Allah SWT di dalam banyak hadits, diantaranya:

“Sesungguhnya masa tinggal kalian dibanding orang-orang dahulu adalah tinggal seperti waktu antara Shalat Ashar hingga matahari terbenam. Ahli Taurat telah diberi kitab Taurat dan mereka pun mengamalkannya sampai setengah hari, lalu mereka lemah (tidak mampu mengamalkannya), maka mereka diberi pahala satu qirath-satu qirath. Kemudian Ahli Injil diberi kitab Injil, dan mereka pun mengamalkannya hingga waktu Shalat Ashar, kemudian mereka lemah (tidak mampu mengamalkannya), lalu mereka diberi pahala satu qirath-satu qirath. Kemudian kalian diberi al-Qur’an dan kalian pun mengamalkannya hingga matahari terbenam. Dan kalian diberi dua qirath-dua qirath pahala. Maka Ahli Kitab berkata, ‘Mereka lebih sedikit amalnya daripada kami (akan tetapi kenapa) mereka dibeli pahala lebih banyak?’ Allah SWT berfirman, ‘Apakah ada dari hak kalian yang Aku zhalimi?’ Mereka menjawab, ‘Tidak.’ Dia berfirman, ‘Itu adalah karuniaKu, Aku memberikannya kepada siapa saja yang Aku kehenalaki ‘.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 557]

“Nabi Dawud AS telah diberi kemudahan membaca. Ia hanya menyuruh agar hewan-hewannya diberi pelana, maka ia pan membaca Taurat atau Zabur sebelum hewan-hewannya selesai dipelanai, dan dia tidak makan kecuali dari hasil kerjanya sendiri.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3417]

“Tidak ada iri hati (yang dibenarkan) kecaali pada dua hal, yaitu terhadap seseorang yang dikaruniai Allah al-Qur’an, lalu ia selalu membacanya di malam dan di siang hari; dan terhadap seseorang yang Allah berikan harta, lalu ia menafkahkannya di malam dan di siang hari.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 7529]

“Aku tinggalkan pada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku, yaita Kitabullah (al-Qur’an) dan Sunnah RasulNya.” [Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak, 1/93. Hadits ini shahih; dan juga diriwayatkan oleh Imam Malik, no. 1661, dengan lafazh “balagha”]

“Janganlah kamu membenarkan Ahli Kitab dan jangan pula mendustakannya, akan tetapi katakanlah, ‘Kami beriman kepada apa yang telah diturankan kepada kami (al-Qur’an) dan apa yang telah diturunkan kepada kalian (Taurat dan Injil), Tuhan kami dan Tuhan kalian adalah satu dan hanya kepadaNya-lah kami berseruh diri’.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4485]

Dalil-dalil ‘Aqli

Lemahnya manusia dan ketergantungannya kepada Tuhannya untuk perbaikan jasad dan ruhnya mengharuskan diturunkannya Kitab-kitab suci yang di dalamnya mengandung ajaran-ajaran dan aturan-aturan yang dapat merealisasikan dan mewujudkan kesempurnaan manusia dan memenuhi tuntunan hidupnya di dunia dan di akhirat.

Oleh karena para rasul (utusan-utusan) itu adalah perantara antara Allah sang Pencipta dengan hamba-hambaNya, sedangkan para rasul itu seperti manusia lainnya yang hidup dalam batas waktu tertentu, lalu mereka wafat, maka kalau risalah (ajaran dan misi) yang mereka bawa tidak termuat di dalam kitab-kitab khusus, niscaya ajaran dan misi yang mereka bawa itu sirna bersamaan dengan kematian mereka, dan sebagai akibatnya manusia hidup tanpa risalah dan tanpa perantara, maka dengan demikian lenyaplah tujuan asal dari wahyu dan risalah. Maka dari itu perlu adanya Kitab-kitab Suci dari Allah tanpa diragukan lagi.

Apabila seorang rasul yang mengajak manusia iman kepada Allah dan beribadah kepadaNya tidak membawa suatu Kitab Suci yang berasal dari Allah yang di dalamnya terdapat ajaran, petunjuk dan kebaikan, maka mudah sekali rasul itu didustakan oleh kaunmya dan diingkari risalahnya. Maka ini merupakan suatu kondisi yang mengharuskan diturunkannya Kitab-kitab Suci dari Allah untuk menegakkan hujjah (dalil dan penjelasan) kepada umat manusia

Meyakini kebenaran dan keutamaan Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Meyakini kebenaran Al-Qur’an adalah harga mati bagi keselamatan aqidah umat Islam. Sedangkan ragu terhadap kemurnian dan keaslian Al-Qur’an, termasuk salah satu penyebab kemurtadan.

Jangankan meragukan kemurnian dan kesucian Al-Qur’an secara keseluruhan 30 juz, orang yang ragu terhadap satu huruf dari huruf-huruf Al-Qur’an, misalnya ragu terhadap keaslian huruf WAU-nya ayat WAL-`ashri innal insaana lafii khusr, dengan mempertanyakan apakah WAU di awal ayat itu benar-benar dari Allah atau bukan, maka orang tersebut telah murtad, dan dihukumi keluar dari agama Islam.

Sekalipun orang tersebut merasa dirinya tetap Islam dan melakukan amalan kebajikan yang lainnya. Resikonya, seluruh amal ibadahnya seperti shalatnya, zakatnya, puasanya dan sebagainya dihukumi batal alias tidak sah.

Demikian juga perkawinannya dihukumi batal, sehingga saat dia berkumpul dengan istrinya, maka dihukumi zina, dan anak hasil hubungan dengan istrinya, yang statusnya menjadi tidak sah dinamakan anak haram.
Keyakinan terhadap Al-Qur’an adalah standar bagi kebaikan seseorang, semakin yakin seseorang terhadap Al-Qur’an, maka keimanannya semakin sempurna, dan semakin tipis keimanan seseorang terhadap Al-Qur’an, juga pertanda keimanannya sangat rapuh.

Salah satu cara untuk dapat meningkatkan kecintaan dan keyakinan kepada Al-Qur’an, antara lain dengan tekun belajar mendengar, membaca dan mengkaji Al-Qur’an, atau menghadiri majlis-majlis yang membahas dan mempelajari Al-Qur’an, atau ilmu-ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an

Latihan Soal Online

Setelah membaca rangkuman materi Pendidikan Agama Islam Kelas 8 Bab 1: Meyakini Kitab-kitab Allah, Mencintai Al-Qur’an di atas, ujilah pemahamanmu melalui kuis online berikut ini:

Latihan Soal Meyakini Kitab-kitab Allah

Demikianlah media pembelajaran PAI kelas 8 tentang Meyakini Kitab-kitab Allah, Mencintai Al-Qur’an. Semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan