Wanita Tangguh dan Alat Pelindung Diri Ramah Lingkungan

Wanita Tangguh dan Alat Pelindung Diri Ramah Lingkungan

Loading...

Halo sobat…. Bagaimana kabarnya…. Semoga sehat selalu ya. Mulai dari postingan ini saya akan membuat rubrik baru yang saya kasih nama “Cerita Lensa”. Pada tulisan perdana ini saya kasih judul “Wanita Tangguh dan Alat Pelindung Diri Ramah Lingkungan”.

Kenapa seri “Wanita Tangguh”? ya… karena saya akan membuat seri rangkaian tulisan yang mengangkat bagaimana kuat dan kokohnya seorang wanita dalam kehidupan di dunia ini. Bahkan masa depan sebuah negara bangsa sebenarnya ada di tangan wanita.

Saya berencana membuat beberapa seri tulisan berdasarkan jepretan kamera saya tentang tangguhnya para wanita. Mereka berjuang demi keluarga, demi anak-anak mereka agar dapat hidup lebih layak dan mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi.

Nah, kali ini saya akan membahas hasil jepretan kamera saya di atas. Yaitu sosok dua orang ibu yang sedang sarapan yang sebentar lagi akan memulai pekerjaan mulianya. Lengkap dengan alat pelindung diri (APD).

Walaupun bagi sebagian besar orang baru mengenal APD baru beberapa bulan terakhir ini setelah muncul pandemi covid-19, namun bagi orang-orang desa ini APD sudah mereka gunakan sejak dulu kala. Bahkan sejak waktu saya kecil saya sudah sering melihatnya.

Alat pelindung diri (APD) mereka ramah lingkungan dan bukan buatan China lho. Karena memang mereka yang membuatnya sendiri hehehe… Cukup murah, hanya butuh beberapa plastik bekas dan kain bekas pakai. Lihat saja kakinya terbungkus aman dan dijamin tidak akan kena virus atau kotoran selepas bekerja.

Mengapa mereka butuh APD? Jelas karena pekerjaan mereka penuh risiko. Akan banyak hal yang bisa melukai mereka. Oh ya, mereka ini mau kerja apasih? Bisa ditebak pastinya.

Mereka adalah petani, tepatnya adalah buruh tani tebu. Seperti bisa dilihat di belakang mereka ada sebuah kebun tebu yang sudah saatnya kulitnya dibersihkan, atau kalau didaerah ami dinamakan “kelonthok” atau “kelenthek”. Yaitu sebuah kegiatan mengelupas daun tebu yang sudah tua atau berwarna coklat.

Daun-daun tua ini harus dibersihkan untuk memaksimalkan pertumbuhan tebu dan kebun jadi bersih. Akhirnya tanaman yang ada di tengah bisa diakses dengan mudah untuk pemeriksaan, pengairan, atau pemberian pupuk.

Dulu pekerjaan ini sering dilakukan oleh kaum muda atau para buruh tani pemula. Belakangan pekerjaan ini sudah kehilangan sumber daya tenaga kerja idealnya. Para pemuda lebih memilih hijrah ke kota untuk mengadu nasib.

Sekarang hanya tinggal pekerja tua dan para wanita. Kalaupun ada pemuda, jumlahnya hanya tinggal satu atau dua. Sebenarnya sama seperti saya yang sudah berpuluh tahun lalu meninggalkan desa untuk merantau ke kota, dan hanya sesekali pulang ke desa untuk menjenguk orang tua.

Suasana desa yang sudah mulai tersentuh oleh teknologi modern ini membuat saya betah berlama-lama bercengkerama dengan mereka. Apalagi sarapan dengan modus ini nikmatnya bukan kepalang. Walau menu makan seadanya tapi nikmatnya luar biasa.

Kebanyakan dari mereka membawa sendiri dari rumah dengan bungkus daun pisang yang alami. Namun, terkadang juga sudah disediakan oleh pemilik sawah dengan menu yang juga tak jauh dari unsur alami. Urap-urap dedaunan dan telur dadar ayam kampung adalah menu favorit saya. Hemm…. enaknya.

Para wanita tangguh ini sarapan dengan lahap untuk modal kerja mereka. Mereka pun telah siap dengan alat kerja dan alat pelindung diri ramah lingkungan yang akan melindungi mereka dari irisan daun tebu yang tajam. Sehingga setelah pulang nanti ia akan tetap sehat dan tetap tampil cantik untuk para suami, juga bugar dan tangan tetap halus untuk membelai anak-anak mereka sambil menemani mereka belajar dari rumah.

Sekian cerita lensa kali ini semoga ada manfaatnya. Salam belajar menyenangkan (maglearning.id)

Loading...

Tinggalkan Balasan