Paham Tingkah Laku dalam Teori Belajar (Behavioristik)

Paham Tingkah Laku dalam Teori Belajar (Behavioristik)

Paham Tingkah Laku dalam Teori Belajar Gredler dan Margaret Bell dalam Teori Paham Belajar Behavioristik. Aliran behavioristik dalam Bahasa Indonesia disebut sebagai aliran tingkah laku, yaitu perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respons, sebagaimana yang disebutkan oleh Gredler dan Margaret Bell pada tahun 1986.

R.G Bouring juga berpendapat bahwa, reaksi yang begitu kompleks akan menimbulkan tingkah laku. Prinsip-prinsip behaviorisme (Riyanto, 2008) adalah:

  • Obyek psikologi adalah tingkah laku.
  • Semua bentuk tingkah laku dikembalikan pada refleks.
  • Mementingkan terbentuknya kebiasaan.

Dalam teori connectionisme, Edward L. Thorndike menyatakan bahwa dasar dari belajar adalah asosiasi antara kesan panca indera dan impuls untuk bertindak atau dengan kata lain adanya hubungan antara stimulus dan respons atau disebut BOND. Hal ini melahirkan teori S-R BOND.

Terdapat dua hukum dalam belajar, yaitu hukum primer dan hukum sekunder.

Hukum Primer terdiri atas:

  • Law of Effect adalah perbuatan yang diikuti dengan pengaruh yang memuaskan cenderung ingin diulangi, namun sebaliknya, jika tidak mendatangkan kepuasan, maka akan ditinggalkan.
  • Law of Exercise and Repetition, berlatih dengan berulang untuk mendapatkan suatu kekuatan.
  • Law of Readiness adalah kesiapan untuk bertindak itu terjadi karena adanya penyesuaian diri dengan sekitarnya.

Hukum Sekunder terdiri atas:

  • Law of Assimilation, yaitu kemampuan penyesuaian diri seseorang terhadap situasi yang baru dan situasi tersebut mempunyai kesamaan unsur.
  • Law of Partial Activity, seseorang dapat beraksi secara selektif terhadap kemungkinan yang ada di dalam situasi tertentu.
  • Law of Multiple Response, yaitu sesuatu yang dilaksanakan dengan berbagai variasi uji coba atau yang biasa disebut dengan trial and error untuk mengatasi masalah.

Thorndike menyebutkan bahwa belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respons. Stimulus dapat berupa sesuatu yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti perasaan maupun pikiran, dan hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui panca indra. Respons adalah aksi yang ditimbulkan dari pelajar ketika dalam proses belajar, yang bisa juga berupa perasan, pikiran, atau gerakan. Jadi, paham tingkah laku dalam teori belajar mulai dilihat dari sini.

Watson mengemukakan bahwa stimulus dan respons harus secara behavioral atau berupa tingkah laku yang dapat diamati, dia mengesampingkan berbagai perubahan mental yang barangkali terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai faktor yang tidak perlu diketahui, namun tidak berarti semua perubahan mental yang terjadi pada pelajar adalah tidak penting.

Beberapa faktor tersebut tidak mampu menjelaskan apakah proses belajar sudah terjadi atau belum. Semua hal-hal yang tidak diukur lebih suka dianut oleh yang memahami aliran behavioristik ini.

Clarh Hull mengemukakan bahwa behavioristik seseorang berfungsi dalam menjaga kelangsungan hidup, karena dalam teorinya, kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan menempati posisi utama yang dikonsepkan sebagai dorongan. Clarh Hull ini juga menganut teori evolusi Darwin.

Erwin Gutrie menganut hukum kontiguiti dalam asas belajar, yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai gerakan, yang kemudian akan diikuti gerakan yang sama ketika waktu timbul kembali, hal itu cenderung akan terjadi. Diperlukan pemberian stimulus sesering mungkin supaya hubungan antara stimulus dan respons berjalan lebih langgeng.

Sementara itu, suatu respons akan lebih kuat dan bisa jadi menjadi sebuah kebiasaan bila respons tersebut berhubungan dengan bermacam-macam stimulus, contohnya: seseorang yang terbiasa meminum-minuman keras atau jenis narkoba lainnya akan cenderung berbuat tindak kejahatan dan merasa dunia ini miliknya saja, gagah, dan arogan.

Seorang pengajar harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat, pelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari, dalam mengatur kelas, pengajar tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh seorang anak (Bell, Greder, 1991).

Demikianlah sedikit ulasan kami mengenai paham tingkah laku dalam teori belajar (behavioristik). Semoga bermanfaat dan selamat belajar sepanjang hayat dan berkelanjutan secara menyenangkan (maglearning.id).

Loading...