Peran Logika Dalam Filsafat, Bagaimana Penjelasannya ?

Peran Logika Dalam Filsafat – Popkrin dan Stroll menguraikan lebih dahulu perbedaan-perbedaan antara etika metafisika lalu masuk logika sebagai bagian dari pada filsafat. Bila seorang memikirkan persoalan tingkah laku , maka ia akan masuk filsafat dalam bidang fisika, tetapi jika memperhatikan tentang cara berpikir itu sendiri maka yang dimasukinya adalah dunia filsafat dalam bidang logika.

Logika merupakan suatu percobaan pada pertanyaan-pertanyaan. Apakah yang dimaksud dengan  pendapat yang benar? Apakah metode yang digunakan untuk meneliti kekeliruan pendapat?

Memperhatikan pendapat tersebut popkin dan stroll berkesimpulan bahwa logika merupakan salah satu cabang filsafat yang penting, semua atau cabang filsafat yang tak dapat lepas dari pada penggunaan pikiran atau cara berpikir : apakah pikiran itu benar atau keliru akan tergantung pada asasasas logika. Di situlah letak logis diperlukan sebagai dasar penggunaan pikiran.

Lalu,

  1. Bagaimanakah peran logika dalam filsafat?
  2. Apa perbedaan antara logika deduktif dan logika induktif ?
  3. Apa yang dimaksud dengan penalaran ?

Logika adalah sarana untuk berpikir sistematis ,valid dan dapat dipertanggungjawabkan karena itu , berpikir logis adalah berpikir sesuai dengan aturan-aturan berpikir, seperti setengah tidak boleh lebih besar daripada satu.

Aturan cara berpikir yang benar

Kondisi adalah hal-hal yang harus ada supaya sesuatu dapat terwujud , dapat terlaksana. Untuk berpikir baik, benar, logis dialektis, juga dibutuhkan kondisi-kondisi tertentu :

  • Mencintai kebenaran

Sikap ini sangat fundamental untuk berpikir yang baik, sebab sikap ini senantiasa menggerakkan si pemikir untuk mencari, mengusut , meningkatkan mutu berpikir dan penalarannya. Menggerakkan si pemikir untuk senantiasa mewaspadai ruh-ruh yang akan menyelewengkannya dari yang benar. Misalnya menyederhanakan kenyataan, menyempitkan cakrawala/ perspektif, berpikir terkotak-kotak, memutlakkan titik berdiri atau suatu profil dan sebagainya.

  • Ketahuilah dengan sadar apa yang sedang anda kerjakan

Kegiatan yang sedang dikerjakan adalah kegiatan berpikir. Seluruh aktivitas intlek kita adalah suatu usaha terus menerus mengerjakan kebenaran yang diselingi dengan diperolehnya pengetahuan tentang kebenaran tetapi bersifat parsial.

  • Ketahuilah dengan sadar apa yang sedang anda katakan

Pikiran diungkapkan kedalam kata-kata, kecermatan pikiran terungkap ke dalam kecermatan kata-kata, karenanya kecermatan ungkapan pikiran ke dalam kata merupakan sesuatu yang tidak boleh ditawar lagi.

  • Buatlah distingsi (pembeda) dan pembagian (klasifikasi) yang semestinya

Jika ada dua hal yang tidak memiliki bentuk yang sama , hal itu jelas berbeda .tetapi banyak kejadian di mana dua hal atau lebih mempunyai bentuk sama, namun tidak identik. Di sinilah perlunya membuat distingsi ,suatu berbedaan.

  • Cintailah definisi yang tepat

Penggunaan bahasa sebagai ungkapan sesuatu kemungkinan tidak ditangkap sebagaimana yang di ungkapkan atau yang dimaksud. Karenanya jangan segan membuat definisi. Definisi harus diburu hingga tertangkap .Definisi adalah pembatasan yakni membuat jelas batas-batas sesuatu.

  • Ketahuilah dengan sadar mengapa anda menyimpulkan begini atau begitu

Ketahuilah mengapa anda berkata begini atau begitu. Anda harus bisa dan biasa melihat asumsi-asumsi, implikasi-implikasi, dan dan konsekuensi-konsekuensi dari suatu penuturan. Pernyataan atau kesimpulan yang dibuat.

  • Hindarilah kesalahan-kesalahan dengan segala usaha dan tenaga, serta sangguplah mengenali jenis, macam dan nama kesalahan, demikian juga mengenali sebab-sebab kesalahan pemikiran (penalaran).

Menurut Irving yang dimaksud dengan logika ialah suatu studi sistematis mengenai metode dan dasar-dasar yang digunakan untuk memberi perbedaan antara pendapat yang benar dengan pendapat yang keliru. Logisian melakukan penelitian mengenai hubungan nyata yang terjadi antara premis dan konklus di dalam suatu argumentasi jalan dengan premis atau tercantum di dalam premis maka pendapat adalah benar.

Bila suatu premis dianggap benar, tidak meragukan dan bersifat demonstratif sebagai dasar konklusi yang benar, pendapat demikian disebut logika deduktif. Logika deduktif erat kaitannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum.

Menurut popkrin dan stroll, logika deduktif adalah hubungan dengan usaha untuk menetapkan suatu pendapat yang tidak diragukan, misalnya: pada dasarnya semua manusia akan mati, maka kita sebagai manusia pun akan mati juga dan kebalikan dari deduktif adalah logika induktif. Logika induktif adalah suatu kesimpulan yang diambil dari hal-hal yang khusus dan diarahkan pada masalah yang umum, misalnya: saya pasti akan mati sebab semua manusia harus mati.

Dalam hubungan itu popkrin dan stroll menjelaskan dengan menggunakan contoh sebagai berikut.

  1. Semua orang Amerika adalah manusia
  2. Semua manusia pasti mati

Metode yang digunakan pada contoh di atas disebut pendapat deduktif , mungkin ada yang meragukan kebenarannya itu ”semua manusia pasti mati” maka untuk membenarkan kalimat “semua orang Amerika pasti mati, untuk menentukan kebenarannya harus menggunakan jalan lain yaitu .

  1. Semua orang Amerika yang lahir pada tahun 1830 telah mati
  2. Orang-orang Amerika akan mati.

Kebenaran kalimat (1) dan (2) merupakan suatu kemungkinan, bahwa kalimat tersebut benar atau keliru, penalaran seperti ini memungkinkan disusunnya pengetahuan secara sistematis yang mengarah pada pernyataan-pernyataan yang makin lama makin bersifat fundamental.

Penalaran deduktif adalah kegiatan berpikir yang sebaliknya penalaran induktif . penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogisme. Silogisme disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan, misalnya :

  1. semua makhluk mempunyai mata ( premis 1 )
  2. si pulan adalah seorang makhluk ( premis 2 )
  3. jadi si pulan mempunyai mata ( premis 3 )

Kesimpulan yang diambil bahwa si pulan mempunyai mata adalah sah, sebab kesimpulan ditarik secara logis dari kedua premis yang mendukung, ketetapan penarikan kesimpulan tergantung dari 3 hal yaitu, kebenaran premis mayor, dan premis minor serta keabsahan pengambilan kesimpulan. Sekiranya salah satu unsur tersebut persyaratan tidak memenuhi maka kesimpulan yang ditarik akan salah maka logika induktif tidak ada.

Induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang  diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. Umpamanya kita mempunyai pakta bahwa kambing, gajah mempunyai mata, demikian juga dengan singa, kucing dan binatang lainya. Dari pernyataan-pernyataan ini kita dapat menarik kesimpulan yang sifatnya umum yaitu semua binatang mempunyai mata.

Menurut popklin dan stroll, memiliki suatu hal yang sangat rentang dalam hubungan dengan ilmu pengetahuan. Bila kita berpaling dari di dalam isi buku klauser dan kunez di dalam bukunya philosofhy the study of alternative beliefs, maka dalam menjawab pertanyaan ”apa itu logika?” Sebagai berikut: logika adalah suatu studi mengenai kebenaran atau kekeliruan suatu pendapat dalam hubungan kebenaran dan kekeliruan pendapat yang lain. Oleh karena itu penalaran adalah suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan.

Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran, maka proses berpikir itu harus dilakukan suatu cara tertentu.

 

Ringkasan Peran Logika dalam Filsafat

Dari hasil pembahasan yang di atas dan berdasarkan dari berbagai macam nara sumber sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa logika adalah merupakan peran akal yang memanfaatkan kebebasan yang dimilikinya menganggap sebagai kebenaran bahwa segala sesuatu yang ada paling kurang diragukan pun berarti tidak, mengakui bahwa bagaimanapun juga ditinjau secara mutlak, mustahil bawa ini merupakan peristiwa terpenting, karena secara demikian dapatlah dengan mudah ditarik perbedaan antara hal-hal yang termasuk akal.

Untuk memperoleh kepastian bahwa segala sesuatu yang kita pahami secara terang dan tegas memang benar menurut cara berpikir kita.

Logika ada dua (2) macam

a. Logika Deduktif

Logika yang membicarakan cara-cara untuk menyampaikan kesimpulan lebih dahulu diajukan pernyataan-pernyataan mengenai semua atau sejumlah ini diantara satu kelompok sesuatu.

 

b. Logika Induktif

Logika yang membantu kita dalam menarik kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi khusus yang bersifat individualis (khusus).

Terdapat dua penalaran  yaitu penalaran deduktif dan induktif

  1. Penalaran deduktif adalah silogisme adalah suatu argumentasi yang terdiri dari dua buah premis dan dari premis itu ditarik kesimpulan.
  2. Penalaran induktif. Misalnya: saya pasti akan mati sebab semua manusia harus mati.

 

Semoga bermanfaat (maglearning.id).

Tinggalkan Balasan