PKM Tari Boranan Unesa

Inovasi Etnofisika: Tim PKM UNESA Digitalisasikan Tari Boranan Lamongan Lewat Aplikasi Dhysning untuk Pembelajaran Fisika Berkelanjutan

LAMONGAN, 11 Oktober 2026 — Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pendidikan dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) sukses menggelar kegiatan pelatihan inovatif bertajuk “Pelatihan Aplikasi Dhysning dalam Pembelajaran Fisika sebagai Upaya Pelestarian Tari Boranan Lamongan: Digitalisasi Seni Budaya dalam Mendukung Pendidikan Berkelanjutan (SDG 4)” di Lamongan Jawa Timur.

Kegiatan yang berlangsung di Kabupaten Lamongan ini merupakan bentuk kolaborasi strategis antara UNESA dengan tiga satuan pendidikan tingkat menengah di Lamongan, yakni MAN 1 Lamongan, SMAN 1 Ngimbang, dan SMAN 1 Mantup. Pelatihan ini tentunya didukung penuh oleh skema DIKTISAINTEK Berdampak dan berfokus pada penguatan pembelajaran fisika bermakna (deep learning) berbasis kearifan lokal.

Program PKM Pendidikan ini digawangi oleh tim tim pakar multidisiplin Universitas Negeri Surabaya yang terdiri dari Dr. Binar Kurnia Prahani, S.Pd., M.Pd., Prof. Dr. Trisakti, M.Si., Muhammad Abdul Ghofur, S.E., M.Pd., serta Hanan Zaki Alhusni, S.Pd., M.Pd.

Membumikan Konsep Fisika Melalui Etnofisika Tari Boranan

Pembelajaran Fisika selama ini sering kali dipersepsikan oleh peserta didik sebagai materi yang abstrak dan penuh dengan rumus matematis yang rumit. Mengubah paradigma tersebut, tim pengabdi UNESA mengusung pendekatan etnofisika—yakni mengintegrasikan sains dengan nilai budaya dan tradisi lokal.

Dalam program ini, seni budaya yang diangkat adalah Tari Boranan, tarian khas Kabupaten Lamongan yang diciptakan pada tahun 2006 oleh Tri Kristiani, S.Sn., Ninin Desinta Yustikasari, S.Sn., dan Purnomo, S.Sn., M.M. Tarian yang pernah meraih Juara Umum tingkat Provinsi Jawa Timur dan Tingkat Nasional pada tahun 2007 ini menggambarkan kehidupan para penjual nasi boran khas Lamongan, mulai dari persiapan subuh, aktivitas berjualan, hingga dinamika interaksi sosial di pasar.

Ciri khas utama dari Tari Boranan terletak pada penggunaan boran (wadah anyaman bambu) sebagai properti tari. Penari melakukan berbagai gerakan energik dan anggun sembari menyeimbangkan boran di atas kepala, dipegang dengan tangan, atau diletakkan di bagian tubuh lainnya tanpa terjatuh. Fenomena seni ini menyimpan prinsip-prinsip dasar fisika mekanika, khususnya materi Kesetimbangan Benda Tegar.

Sains di Balik Keanggunan Penari Boran

Dalam materi pelatihan dan bahan ajar yang dikembangkan, para guru dan siswa diajak mengupas secara ilmiah alasan mengapa boran tidak mudah tergelincir atau jatuh saat dibawa menari.

Secara konsep fisika, boran dikategorikan sebagai benda tegar, yaitu benda yang tidak mengalami perubahan bentuk ketika dikenai gaya luar. Pada pergerakannya, terjadi dua jenis dinamika gerak:

  1. Gerak Translasi: Perpindahan posisi boran dari satu titik ke titik lain bersama pergerakan penari.
  2. Gerak Rotasi: Kecenderungan boran untuk berputar atau miring terhadap titik tumpu (kepala atau tangan penari).

Agar boran berada dalam keadaan setimbang (equilibrium) saat dibawa menari, dua syarat utama kesetimbangan benda tegar harus terpenuhi, yaitu: Kesetimbangan Translasi, dimana resultan gaya yang bekerja pada sistem bernilai nol, dan Kesetimbangan Rotasi, dimana resultan momen gaya atau torsi terhadap titik tumpu harus sama dengan nol.

Selain itu, posisi titik berat (pusat massa) sangat krusial. Penari secara alami mengatur posisi tubuh dan penopangan agar pusat massa boran berada tepat tegak lurus di atas titik tumpu. Jika pusat massa bergeser terlalu jauh, timbul momen gaya yang menyebabkan boran miring dan jatuh. Keberadaan gaya gesek statis antara boran dan permukaan kepala/tangan penari juga membantu menahan boran agar tidak tergelincir selama gerakan menari.

Digitalisasi dan Perangkat Ajar Terintegrasi

Untuk memperkuat pemahaman peserta didik pada era digital, tim UNESA mengenalkan Aplikasi Dhysning, sebuah platform digitalisasi seni budaya dan simulasi interaktif fisika. Melalui aplikasi ini, siswa dapat memvisualisasikan vektor gaya, menghitung resultan torsi, hingga mensimulasikan perubahan titik berat pada boran secara real-time.

Tidak hanya aplikasi, tim PKM UNESA juga menyerahkan perangkat pembelajaran utuh yang disesuaikan dengan Kurikulum Merdeka (Fase F Kelas XI SMA/MA), yang meliputi:

  • Modul Ajar Pembelajaran Mendalam (Deep Learning): Dilengkapi identitas, rancangan lintas disiplin ilmu, desain pedagogis, asesmen diagnostik, formatif, hingga sumatif.
  • Bahan Ajar Berbasis Kearifan Lokal: Buku panduan siswa komprehensif yang memuat sejarah budaya, fakta sains, apersepsi kontekstual, hingga contoh soal mekanika.
  • Lembar Kerja Murid (LKM): Panduan eksperimen berbasis penyelidikan ilmiah (merumuskan masalah, menentukan variabel manipulasi/respon/kontrol, mengumpulkan data, dan merumuskan kesimpulan).
  • Instrumen Penilaian Literasi Sains: Soal tes berbasis indikator PISA (Programme for International Student Assessment) guna mengukur kemampuan siswa dalam menjelaskan fenomena ilmiah, merancang penyelidikan, dan menginterpretasikan data secara kritis.

Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Local Wisdom

Pelatihan ini membekali para pendidik untuk menerapkan Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Kearifan Lokal, yang terdiri dari lima tahapan utama:

  1. Local Phenomena Identification: Guru menyajikan fenomena kearifan lokal Tari Boranan untuk memicu pertanyaan kritis.
  2. Concept Analyzing: Siswa menganalisis konsep fisika (gaya, torsi, titik berat) yang tersembunyi di dalam tradisi tersebut.
  3. Scientific Inquiry: Siswa merancang dan melakukan eksperimen langsung mengukur kesetimbangan menggunakan alat peraga boran, neraca, dinamometer, busur, dan penggaris.
  4. Discussion and Decision Making: Siswa mendiskusikan data ilmiah dan mengambil keputusan berdasarkan bukti kredibel.
  5. Reflection: Evaluasi terhadap proses belajar, refleksi pemahaman konsep, serta penguatan rasa bangga terhadap budaya daerah.

Mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan Berkelanjutan

Ketua Tim PKM, Dr. Binar Kurnia Prahani, S.Pd., M.Pd., menyatakan bahwa program ini dirancang sebagai wujud nyata akselerasi Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yaitu menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata serta meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat untuk semua.

“Pembelajaran sains tidak boleh terpisah dari akar kebudayaan peserta didik. Melalui integrasi Tari Boranan Lamongan dan Aplikasi Dhysning, kami ingin membuktikan bahwa fisika tidak hanya ada di dalam laboratorium atau buku teks, tetapi hidup di tengah masyarakat kita. Ini adalah langkah konkrit melestarikan warisan budaya lokal sekaligus meningkatkan kecakapan literasi sains siswa SMA/MA di Lamongan,” ujar Dr. Binar di sela-sela kegiatan.

Perwakilan guru dari sekolah mitra menyampaikan apresiasi tinggi atas penyelenggaraan workshop ini. Kehadiran modul ajar, LKM, dan aplikasi digital Dhysning dinilai sangat membantu guru dalam menyusun pembelajaran fisika kontekstual yang interaktif dan menyenangkan bagi siswa.

Tinggalkan Balasan