MENGAPA MEDIA PEMBELAJARAN KARYA GURU KURANG KEREN?

Walaupun mengembangkan media pembelajaran merupakan hal yang biasa dilakukan guru, namun sebagian karya mereka kurang keren, termasuk karya saya hehehehe….. mau bukti? Cek aja di Android PlayStore di SINI atau di SINI dan di SINI.

Hal ini bukan berarti karya guru tidak ada yang keren lho…. tapi jujur saja jarang bisa kita temukan.

Sebelum kita membahas mengapa itu bisa terjadi, padahal sebagian besar guru sudah belajar pengembangan media sedari kuliah, ada baiknya kita lihat dulu bagaimana media pembelajaran dikembangkan.

Pertama, media pembelajaran dikembangkan melalui proses yang panjang. Biasanya dimulai dari analisis, desain, pengembangan, uji coba, dan evaluasi, kemudian baru diaplikasikan.

Kedua, banyak ahli terlibat didalamnya. Guru tidak bisa bekerja sendiri dalam mengembangkan media pembelajaran. Walaupun mereka ahli dalam hal materi pembelajaran tapi sangat jarang yang juga ahli secara teknis terkait pengembangan. Misalnya untuk mengembangkan media interaktif atau multimedia dibutuhkan seorang programmer. Selain itu, walaupun guru dan programmer bekerjasama masih belum menjamin menghasilkan produk yang menarik dan nyaman digunakan karena ketidakhadiran seniman atau siapa saja yang berjiwa seni.

Loading...

Adanya seniman akan membuat perwajahan media menarik dilihat, layoutnya berkarakter, suaranya enak didengar, dan lainnya.

Selain proses yang panjang, ketiga ahli ini harus mampu bekerjasama sama secara harmonis untuk menghasilkan karya media pembelajaran yang berkualitas.

Nah, sudah ketebak kan apa kekurangan kita? Ya secara umum ada banyak kekurangan kita yang harus dicari jalan keluarnya. Diantaranya menurut saya adalah sebagai berikut:

  • Kemampuan Terbatas. Sepandai apapun kita adalah guru bukan programmer sekaligus seniman. Pengalaman kita adalah pengalaman mengajar dan mendidik.
  • Enggan Bekerjasama. Sudah sering muncul dalam diskusi-diskusi, baik formal maupun informal bahwa kelemahan orang Indonesia adalah rendahnya tingkat kerjasama. Saya tidak tahu persis apa penyebabnya, entah karena faktor internal individu, lingkungan eksternal, atau malah kombinasi dari keduanya. Apalagi seorang guru zaman now yang nota bene banyak tugas dan tuntutan pekerjaan “di luar” tugas utamanya sebagai pendidik dan pengajar. Hehehe sedikit curhat jadinya kan…..
  • Berfikir Instan. Membuat media pembelajaran membutuhkan waktu lama, prosesnya pun cukup panjang. Bila kita berfikir instan bahwa media yang baik bisa dibuat dalam hitungan hari atau minggu pastilah akan ada banyak kelemahan di sana-sini. Menyatukan ide-ide tim bukan masalah mudah, ketajaman analisis kebutuhan dan karakter siswa membutuhkan keceratan dan ketekunan. Menyiapkan materi juga butuh kesabaran dan kesegaran ide-ide.
  • Kurang Sabar. Di sela-sela kesibukan menjadi guru yang sibuknya kadang-kadang mengalahkan CEO sebuah perusahaan, masih sempat membuat media pembelajaran untuk siswanya adalah suatu hal besar. Walaupun terkadang berhenti ditengah jalan karena bosan atau hal lain. Kita hanya perlu sabar dan telaten agar ide-ide kita terwujud.
Loading...

Sebagai perbandingan pengembang media pembelajaran profesional biasanya melibatkan orang-orang dengan peran sebagai berikut:

  • Author (Publisher, Materials Developer, Teacher)
  • Audio Producer, Video Producer
  • Creative Director
  • Editor
  • Evaluation Specialist
  • Graphic Artist
  • Graphic Designer
  • Implementation Representative
  • Interactive Designer, Instructional Designer
  • Performance Analyst
  • Project Manager, Project Leader
  • Quality Reviewer
  • Sponsor
  • Subject-Matter Expert
  • Systems Designer
  • Systems Engineer, Application Developer

Cukup banyak bukan…. nah, satu-satunya jalan agar media kita keren bin kece adalah dengan kerja sama. Yuks…….

Tinggalkan Balasan