BELAJAR MELALUI KOLABORASI

Pembelajaran kolaboratif belakangan ini banyak menjadi perhatian dari para peneliti pendidikan maupun para guru. Sebenarnya belum ada semacam kesepakatan umum yang menyatakan secara eksplisit tentang definisi pembelajaran melalui kolaborasi (Collaborative Learning).

Pembelajaran ini sering dipandang sebagai pembelajaran di mana dua orang atau lebih belajar bersama atau mencoba belajar tentang sesuatu secara bersama-sama. Ada juga yang berpendapat bahwa pembelajaran kolaboratif merupakan pendekatan pembelajaran dimana siswa secara berkelompok bekerja bersama untuk menyelesaikan masalah, tugas, atau membuat sebuah produk. Menurut Gerlach (2004) pembelajaran kolaboratif didasarkan pada pemikiran bahwa belajar adalah tindakan sosial yang alami di mana para siswa berkomunikasi di antara mereka sendiri.

Ada sedikit perbedaan anatar pembelajaran kolaboratif dan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif lebih menekankan dimana individu memainkan peran yang berbeda dalam sebuah tim, dimana masing-masing individu memiliki tanggung jawab pada bagiannya (tertentu) saja dari keseluruhan pekerjaan (tugas) kelompok. Sebaliknya, pembelajaran kolaborasi lebih menekankan bagaimana siswa membangun pengetahuan bersama.

Ada beberapa asumsi yang mendasari pembelajaran kolaborasi menurut Smith dan MacGregor (1992). Asumsi-asumsi itu diantaranya adalah:

  • Belajar adalah proses aktif dimana siswa mengasimilasi informasi dan menghubungkan pengetahuan baru ini dengan kerangka pengetahuan sebelumnya.
  • Belajar membutuhkan tantangan yang membuka peluang bagi setiap siswa untuk secara aktif melibatkan rekan-rekannya, dan untuk memproses dan mensintesis informasi daripada hanya menghafal dan mengulang.
  • Siswa mendapat manfaat ketika dihadapkan pada beberapa sudut pandang dari orang-orang dengan latar belakang yang beragam.
  • Belajar berkembang di lingkungan sosial di mana dialog antar siswa terjadi. Selama proses intelektual ini, siswa menciptakan kerangka kerja dan makna pembelajaran.
  • Dalam lingkungan belajar melalui kolaborasi, para siswa ditantang baik secara sosial maupun emosional ketika mereka berhadapan dengan perspektif yang berbeda, dan diminta untuk mengartikulasikan dan mempertahankan ide-ide mereka. Dengan melakukan hal itu, siswa mulai bisa membuat kerangka kerja konseptual mereka sendiri yang unik dan tidak hanya bergantung pada kerangka ahli, guru, atau teks.

Dengan demikian, dalam lingkungan pembelajaran kolaboratif, siswa memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dengan teman sebaya, mempresentasikan dan mempertahankan ide, bertukar pandangan yang beragam, mempertanyakan kerangka kerja konseptual siswa lain, dan terlibat aktif.

Loading...

Belajar melalui kolaborasi merupakan bagian tersendiri yang berbeda dengan belajar melalui akuisisi, inkuiri, atau diskusi, karena meskipun di dalamnya ada proses inkuiri dan seringkali terjadi diskusi dalam kelompok sebagai dalam proses membangun pengetahuan, namun melalui partisipasi bukan akuisisi. Sedangkan perbedaannya dengan belajar melalui praktik/latihan adalah meskipun membangun sesuatu hal perlu dilakukan melalui partisipasi dan negosiasi dengan teman sebaya.

Berdasar penjelasan di atas pembelajaran melalui kolaborasi dapat dianggap bernilai pedagogis, dimana koordinasi membantu mengelola proses sampai pada kesimpulannya, upaya berkelanjutan mengarahkan pada iterasi, untuk membangun pemahaman bersama berarti siswa harus mengembangkan ide-ide dan konsepsi mereka bersama, serta mereka harus setuju atau mencapai kesepakatan rasional. Hal inilah yang mendorong terjadinya iterasi.

Luaran dari pembelajaran melalui kolaborasi ini bisa berupa teks sederhana, kesepakatan bersama, atau bisa juga produk-produk tertentu, misalnya diagram, animasi, video, desain atau alat peraga.  Perkembangan teknologi digital membuat pembelajaran ini semakin mengasyikkan dan berjalan dinamis, mampu menyediakan saluran komunikasi dan diskusi yang cepat dan terbuka serta berbagai alat desain untuk membuat luaran.

Loading...

Luaran sangat penting sebagai pendorong utama siklus belajar, proses inilah yang membuat pembelajaran terjadi. Jadi untuk memahami cara terbaik untuk mendukung pembelajaran melalui kolaborasi, kita harus melihat fitur pedagogis apa yang mendorong kolaborasi yang baik. Lingkungan dapat berupa ruang kelas atau lab konvensional, dengan kelompok kecil siswa bekerja bersama di bawah bimbingan guru untuk membuat sesuatu untuk ditunjukkan pada akhir sesi. Apakah itu sudah cukup? dan ketika kolaborasi berjalan secara online, fitur-fitur online apa saja mampu mengarahkan para siswa memperoleh hasil belajar maksimal? Bila Anda tertarik untuk mengetahui jawabannya ikuti terus blog ini dengan cara klik tombol “Follow”.

Gerlach, J. M. (1994). “Is this collaboration?” In Bosworth, K. and Hamilton, S. J. (Eds.), Collaborative Learning: Underlying Processes and Effective Techniques, New Directions for Teaching and Learning No. 59.

Smith, B. L., and MacGregor, J. T. (1992). “What is collaborative learning?” In Goodsell, A. S., Maher, M. R., and Tinto, V. (Eds.), Collaborative Learning: A Sourcebook for Higher Education. National Center on Postsecondary Teaching, Learning, & Assessment, Syracuse University.

Tinggalkan Balasan