Kerangka Portofolio SWOT

MANAJEMEN PORTOFOLIO KORPORASI: Kerangka Portofolio SWOT

Loading...

Kompartemen C

Unit bisnis pada kompartemen C memiliki daya saing yang kuat tetapi dihadapkan pada kondisi lingkungan dengan ancaman besar. Bagi beberapa korporasi dapat melaksanakan strategi diversifikasi industri-industri terkait.

Perusahaan Tembakau misalnya, menganggap meningkatnya ancaman sosial dan hukum-politik berpeluang menurunkan tingkat keuntungan dan pertumbuhan. Contohnya Philip Morris, melakukan diversifikasi bisnis terkait yaitu dibidang minuman bir (Miller) dan makanan (Kraft General Foods). Diversifikasi seperti ini menguntungkan Philip Morris dalam hal meningkatkan kompetensi pemasarannya. 

Dalam kasus lain, korporasi dapat menerapkan strategi lain yaitu diversifikasi horizontal industri-industri tidak terkait, atau dengan menerapkan strategi integrasi vertikal industri-industri tidak terkait. Philip Morris membeli korporasi pengemasan (packaging) untuk produk tembakau dan makanannya merupakan contoh kasus integrasi vertikal industri-industri tidak terkait.

Pada kasus lain Primerica sebuah korporasi pembuatan kontainer dan pengemasan material, setelah mengalami penurunan peluang di bisnis ini korporasi melaku-kan diversifikasi horizontal industri-industri tidak terkait dengan membangun bisnis pelayanan finansial dan spesial ritel. Dalam waktu singkat Primerica melepaskan bisnis manufakturnya dan sepenuhnya memasuki bisnis jasa.

Kompartemen D

Pada kompartemen D, suatu unit bisnis yang mempunyai kekuatan dan kelemahan persaingan yang seimbang dihadapkan pada kondisi lingkungan dengan peluang yang berlimpah. Dalam situasi seperti ini secara umum manajemen cenderung memilih mempertahankan industrinya, dengan upaya meningkatkan kekuatan persaingannya.

Unit bisnis memiliki daya saing yang moderat merupakan akibat dari unit bisnis hanya mempunyai kemampuan dasar yang moderat atau kekuatan unit bisnis sebanding dengan kelemahannya. Contoh kasus, sebuah korporasi mencoba meningkatkan prospek persaingannya dengan mengadopsi strategi –merger, integrasi horizontal, dan atau aliansi strategis– menyatukan unit-unit bisnis pada suatu organisasi dapat menyinergiskan kemampuan korporasi.

Sebagai contoh Nike dan Reebok yang mempunyai kekuatan dalam hal desain dan pemasaran tetapi memiliki kelemahan dalam masalah pabrikasi, membentuk aliansi strategis sehingga mampu menekan biaya produksi tetapi dapat menghasilkan produk dengan kualitas tinggi di Asia Tenggara.

Kompartemen E

Pada kompartemen E di mana unit bisnis dengan kekuatan dan kelemahan rata-rata dihadapkan pada lingkungan dengan peluang dan tantangan yang moderat. Ada beberapa strategi yang sesuai untuk unit bisnis ini. Jika unit bisnis mempunyai prospek keuntungan yang masuk akal, maka dapat memilih strategi stabilitas.

Loading...

Sebagai alternatif, apabila korporasi ingin meningkatkan posisi persaingannya dapat menerapkan strategi merger, integrasi horizontal atau aliansi strategis. Sedangkan apabila unit bisnis tidak dibuat lebih kompetitif, korporasi dapat mengambil keputusan divestasi, di mana alternatif lain tidak dapat terpenuhi karena korporasi tidak dapat menemukan partner yang layak untuk melakukan merger, integrasi horizontal atau aliansi strategis. Beberapa korporasi terkemuka, seperti General Electric misalnya, melepas unit bisnisnya yang tidak mencapai performa terbaik dalam jangka waktu tertentu.

Kompartemen F

Unit bisnis di kompartemen F memiliki kekuatan persaingan moderat pada kondisi lingkungan dengan ancaman kritis. Jika ancaman relatif permanen, strategi divestasi sesuai untuk diterapkan sebab mencapai performa puncak pada tingkat ancaman yang tinggi merupakan tantangan besar.

Alternatifnya, korporasi dapat didiversifikasi ke industri lain yang memberikan peluang lebih baik secara horizontal terkait maupun tidak. Apabila ancaman dianggap sementara, strategi stabilitas dapat dijadikan pilihan. Sebagai contoh beberapa lembaga keuangan bidang usaha simpan pinjam memilih stabilitas, di akhir tahun 1980-an sampai awal tahun 1990-an karena ada ancaman resesi ekonomi dan diharapkan kondisi ini akan berlangsung sebentar.

Kompartemen G

Strategi perubahan haluan sering diterapkan pada unit bisnis di kompartemen G. Unit bisnis di kompartemen ini memiliki sedikit kekuatan tetapi banyak kelemahan dan beroperasi pada lingkungan dengan peluang berlimpah. Korporasi mungkin menghapuskan atau ke luar dari aktivitas di mana kemampuan korporasi kurang.

Secara bersamaan, manajemen dapat mengembangkan unit bisnis baru yang mempunyai kekuatan lebih potensial. Dalam beberapa kasus, memberikan otonomi pada unit bisnis dari birokrasi korporasi dapat menyelesaikan masalah tersembunyi.

Alternatif selain otonomi adalah dengan cara mengadakan perubahan dan perampingan. Sebagai contoh, Lexmark sebagai unit bisnis raksasa IBM yang sering dilupakan. Printer dan mesin ketiknya sering diabaikan oleh tenaga penjual IBM, mereka lebih tertarik menjual komputer karena komisi yang lebih besar.

Penjualan mesin ketik dan printer tidak pernah melebihi harapan. Akhirnya Lexmark diubah oleh IBM. Setelah menghapuskan 2000 pos kerja, manajemen Lexmark menjadikan unit-unit lebih kecil dan semi otonom, di mana setiap unit berkonsentrasi pada satu lini produk seperti printer, keyboard, penyedia printer, atau mesin ketik. Prosedur operasinya juga dimodifikasi. Pada saat CEO Lexmark di bawah pengawasan IBM, IBM mendukung manajer untuk mendapat anggaran besar dan menghabiskan semuanya, Sedangkan Lexmark memberi penghargaan pada manajer yang berhasil menekan anggaran.

Loading...

Strategi divestasi dapat diterapkan di kompartemen ini dengan alasan lain. Di antaranya, karena peluang lingkungan masih besar, unit bisnis korporasi dapat dialihkan pada unit bisnis lain yang lebih menarik. Proses divestasi dapat digunakan untuk memperkuat unit bisnis lain dalam suatu korporasi. Walaupun strategi lain (merger, integrasi horizontal, dan aliansi strategis) memungkinkan untuk diterapkan namun merupakan pilihan yang tidak disukai. Korporasi lain menginginkan partner bisnis dengan kelemahan yang sedikit.

Kompartemen H

Unit bisnis pada kompartemen H mempunyai banyak kelemahan daya saing dihadapkan pada kondisi lingkungan dengan peluang moderat. Dalam kasus ini strategi turnaround dan divestasi sering kali diterapkan, walaupun banyak tantangan dalam menerapkan strategi ini pada kompartemen G tetapi masih ada peluang yang rasional.

Strategi perubahan akan memerlukan waktu dan tenaga lebih banyak, sedangkan divestasi akan lebih sulit sebab jarang ada pembeli potensial yang mau membeli korporasi dengan tingkat harapan yang rendah. Strategi divestasi sering kali dimungkinkan tetapi nilai penjualan unit bisnis akan relatif rendah.

Kompartemen I

Skenario terburuk bagi unit bisnis ada di kompartemen I, di mana unit bisnis yang lemah ada pada lingkungan dengan tingkat ancaman tinggi. Pada situasi ini strategi likuidasi paling memungkinkan untuk dilaksanakan. Strategi perubahan maupun divestasi pun tidak layak untuk diterapkan, sebab unit bisnis dalam posisi kritis dengan fondasi rapuh, tidak akan mungkin mampu memperkuat operasi atau menjalin kerja sama.

Karena likuidasi tidak disukai oleh hampir semua pemegang saham, manajemen puncak sering menunda penutupan korporasi. Celakanya, penundaan likuidasi sering mengancam kesehatan korporasi, sebab keuntungan dari unit bisnis lain sering dikorbankan untuk mempertahankan unit bisnis yang terancam likuidasi. Jika kerugian lebih besar dari keuntungan sangat mungkin korporasi akan mengalami kebangkrutan.

LTV corporation dapat dijadikan contoh dari kasus ini. Selama bertahun-tahun mempertahankan bisnis bajanya yang tidak menguntungkan dengan melakukan subsidi. Pada tahun 1986 korporasi mengalami kerugian sebesar 3 miliar dolar dan akhirnya dinyatakan bangkrut.

Nah, demikianlah pembahasan kami tentang kerangka portofolio SWOT dalam bisnis korporasi. Semoga bermanfaat, salam belajar kapan saja dan di mana saja (maglearning.id).

Loading...
Pages ( 2 of 2 ): « Balik1 2

Tinggalkan Balasan