Meninggalkan Dunia yang Fana

Ketika Abu Hurairah Meninggalkan Dunia yang Fana

Loading...

Ketika Abu Hurairah Meninggalkan Dunia yang Fana – Kita sedang menghadapi zaman di mana kematian tampak tidak menakutkan. Bahkan tak sedikit yang menganggap remeh kematian, mengira bahwa usai maut tiba kehidupan akan berakhir, tak ada kehidupan lain yang menanti, sesederhana itu. Anak-anak mulai melupakan orang tuanya, mengantarkannya ke tempat yang tak pantas. Kemerosotan moral tersebut terpampang jelas di hadapan kita, layaknya kematian yang tak pernah bertanya apakah kita sudah siap atau belum.

Padahal sejatinya, kematian telah jelas, begitu pun kehidupan setelahnya. Hilangnya akhlak membuat generasi masa kini membuat mereka lupa akan kehidupan abadi adalah kehidupan setelah mati. Tak banyak yang belajar dari kisah-kisah orang terdahulu. Tak peduli kaya miskin, terhormat terhina, semua akan menemukan ajalnya di waktu yang telah ditetapkan.

Kematian setiap makhluk yang bernyawa dari kehidupan dunia yang fana dinamakan kiamat sughra. dunia itu fana artinya tidak kekal, akhirat yang kekal. Dunia beserta isinya akan hancur, karena semua makhluk pasti akan hancur. Setiap yang diciptakan pasti akan musnah.

Orang-orang terdahulu kita, Rasulullah, para sahabat, para tabi’in, dan generasi seterusnya telah lebih dulu memulai perjalanan panjang. Apa yang tersisa? Tak ada, hanya amal dan nama mereka yang bisa kita kenang. Dunia yang fana akan ditinggalkan, Harta? Tahta? Semua lenyap tak berdaya. Hal ini menggambarkan firman Allah, bahwa mati adalah benar adanya.

Salah sekali jika ada yang berpikir mati adalah akhir segalanya, tak ada balasan atas perbuatan baik dan buruk ketika di dunia, sehingga membuat orang-orang berperilaku semaunya. Akhlak sudah tak lagi dipedulikan, halal haram sudah tak lagi penting, hingga mati atau tidak adalah hal yang sama bagi mereka.

Mereka lupa, bahwa Fir’aun pernah duduk di atas tahta tertinggi di kerajaannya, namun Allah menghancurkannya dan mengabadikan kesombongannya. Tidakkah itu menjadi pelajaran berarti bagi kita, bahwa mati adalah sesuatu yang pasti? Lagi pula, Allah telah menyebutkan alasan penciptaan manusia dengan jelas, tidakkah hati kita bisa menerimanya?

Jika saja penciptaan kita hanya sekedar untuk makan, bukankah binatang juga makan? Saya jadi teringat akan kisah Abu Hurairah tatkala akan menghadapi ajalnya. Dengan keutamaan yang terus menerus bertambah, sahabat Rasul ini juga cepat atau lambat pasti akan menemui kematian yang sudah digariskan padanya.

Abu Hurairah adalah sahabat Rasulullah yang namanya sudah tidak asing bagi kita, karena beliau adalah sahabat yang menerima hadis paling banyak dari Rasulullah, sehingga tidak heran jika namanya sering kita temukan tatkala membaca sebuah hadis. Abu Hurairah hidup dalam kesederhanaan tatkala memilih Islam, bahkan beliau pernah sampai jatuh pingsan hanya karena kelaparan.

Beliau telah mengikuti banyak perang bersama Rasulullah. Tatkala usianya telah mendekati 80-an, setelah banyak menyelesaikan misi yang berat dan amanah yang besar, menyampaikan risalah-risalah baginda Rasul dan menyebarkannya, mengajarkannya, beliau bersiap-siap menghampiri kematian.

Tatkala di atas ranjangnya, Abu Hurairah menanti kematian. Ia menangis saat itu. Beberapa sahabatnya yang berada di dekatnya berada bertanya,

“Apa gerangan yang membuat engkau menangis wahai Abu Hurairah?” kemudian beliau menjawab,

Loading...

“Sesungguhnya, Aku tidaklah sedang menangisi dunia fana yang masih akan kalian huni ini. Aku menangis, karena akan nada perjalanan jauh yang sangat panjang yang akan kulalui, dan kalian juga pasti akan menghadapinya. Bagaimana Aku akan menghadapi perjalanan tersebut, padahal amalku sangatlah sedikit? Kini Aku tengah berada di antara dua jurang, surgakah atau neraka. Ntahlah, ntah di mana Aku akan berjalan di antara keduanya.”

Kemudian beliau berwasiat kepada yang masih hidup di sekelilingnya,

 “Ketika ajalku telah tiba, janganlah kalian meratapi kepergianku, karena Rasulullah tidak pernah meratapi kepergian siapa pun.”

Bahkan tatkala ada yang mendoakan kesembuhannya, Abu Hurairah berkata,

“Jangan, sungguh Aku rindu bertemu dengan Rabbku.”

Beliau saja dengan amal yang segudang mengatakan ‘amalnya sedikit’, lantas apa kabar kita yang masih suka bermaksiat? Ingatlah bahwa dunia ini hanyalah fana belaka. Namun, kita juga harus tetap ingat Rahmat dan Pengampunan Allah Swt. juga tak terbatas. Mumpung jalan taubat masih terbuka mari segera menuju keindahan hakiki yang penuh ridla Allah Swt. (maglearning.id).

Loading...

Tinggalkan Balasan