Kekuasaan Dalam Organisasi

KEKUASAAN DALAM ORGANISASI

Loading...

Kekuasaan Dalam Organisasi – Untuk mempengaruhi perilaku yang lain, seorang pemimpin mutlak harus memiliki kekuasaan. Kali ini kita akan membahas pentingnya memperoleh kekuasaan dan kemudian tentang teknik atau cara-cara apa saja yang digunakan oleh seorang pemimpin dalam menggunakan kekuasaannya.  

Bagaimana menggunakan kekuasaan dalam organisasi dapat efektif penting untuk menerapkan strategi yang tepat dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Dalam persaingan bisnis modern efektivitas adalah kunci memenangkannya.

Peranan Kekuasaan

Meskipun gambaran populer dari seorang CEO adalah seorang individu yang mempunyai kekuasaan besar, atau sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam organisasi, persepsi ini jauh dari kebenaran. Pada kenyataannya, setiap saat seorang manajer mencoba untuk naik ke tingkat yang lebih  tinggi pada jenjang hierarki dalam sebuah organisasi, ia menjadi lebih tergantung pada orang lain, bukannya malah kurang.

Dalam beberapa pengertian, CEO adalah para manajer yang paling bergantung dalam sebuah organisasi, karena seberapa baik atau buruknya prestasi CEO bergantung pada pelaksanaan yang telah dilakukan oleh keseluruhan anggota organisasi. Hal ini tidaklah bermaksud untuk mengatakan bahwa CEO tidak memiliki kekuasaan  formal untuk mempengaruhi  sikap/perilaku karyawan, karena jelas-jelas mereka memilikinya. Namun untuk menekankan bahwa  mencoba mengontrol sikap orang lain seorang diri lewat kekuasaan formal mempunyai keterbatasan tersendiri.

Keterbatasan yang pertama adalah bahwa CEO akan segera memahami bahwa tidak semua orang dalam organisasi masa sekarang secara pasif menerima dan secara antusias melaksanakan sebuah perintah dari atasan secara konstan sebagaimana mestinya. Para bawahan bisa saja menolak perintah tersebut, dengan cara halus mengacuhkannya, kasak-kusuk mempertanyakannya, atau bahkan meninggalkannya sama sekali.

Robert H. Miles, seorang peneliti manajemen menggaris bawahi bahwa :”Penggunaan kekuasaan secara kasar tidak akan mendapat dukungan seperti yang terjadi 25 tahun yang lalu, tidak ada orang yang mampu bertahan di dalamnya.”

Yang kedua, CEO selalu bergantung pada sekelompok individual yang tidak memiliki  kekuasaan formal. Contoh-contoh yang umum termasuk para anggota dari dewan direksi, pelanggan, serta anggota-anggota berpengaruh dari perwakilan pemerintah.

Selanjutnya penerapan strategi yang efektif menghendaki para CEO untuk mempengaruhi  sikap pekerja yang lain yang mengacu pada kekuasaan formal namun bisa juga sebaliknya. Dalam pengertian selanjutnya CEO harus memiliki kekuasaan di atas orang-orang di mana ia bergantung.

Dengan kekuasaan, kita mengacu kepada kemampuan untuk mempengaruhi sikap pekerja lainnya. Selain daripada kekuasaan formal atau kontrol terhadap keseluruhan sumber penghasilan dari penghargaan.

Ada banyak hal yang menentukan bagaimana kekuasaan bisa efektif digunakan untuk mengelola dan mengendalikan organisasi. Ulasan di bawah ini akan menjelaskan bagaimana para manajer utama memanfaatkan kekuasaan untuk menerapkan strategi-strategi organisasi.

Teknik Menggunakan Kekuasaan Dalam Organisasi

Para manajer tingkat atas dapat menggunakan kekuasaan  yang dimilikinya dalam berbagai cara sebagaimana yang digambarkan dalam gambar di bawah ini. Sesi ini akan membahas teknik-teknik yang umum digunakan oleh para CEO dan manajer level atas lainnya dalam menerapkan strategi-strategi organisasi.

Gambar Teknik Menggunakan Kekuasaan Dalam Organisasi
Gambar Teknik Menggunakan Kekuasaan Dalam Organisasi

Keahlian

Sumber terbesar kekuasaan bagi kebanyakan manajer level atas adalah keahlian. Para manajer secara umum menetapkan dasar kekuasaan ini lewat prestasi yang terlihat. Semakin besar prestasi  yang dicapai semakin banyak kekuasaan dari manajer yang bisa diperhitungkan.

Keahlian mengacu pada kemampuan seorang manajer untuk mempengaruhi perilaku para pegawai yang lainnya karena individu-individu  ini percaya bahwa manajer mereka lebih paham akan suatu masalah, sebuah kesempatan , atau sebuah permasalahan dibandingkan dengan mereka.

Manajer-manajer yang bisa mendapatkan jabatan CEO lewat tahapan-tahapan dalam perusahaan cenderung dipandang sebagai para ahli karena demikian jelas bagi para anggota organisasi bahwa CEO  mereka menguasai bidang-bidang pekerjaan tingkat atas dan selanjutnya dianggap familier dengan tugas-tugas para pekerja.

Seorang eksekutif yang disewa dari luar perusahaan untuk menjadi CEO di perusahaan tersebut, bisa saja atau bisa juga tidak, memasuki bidang pekerjaan tersebut dengan berbekal kemampuan ahli. Bila orang tersebut dulu berasal dari sebuah perusahaan yang bergerak dalam industri yang sama, dia akan lebih dipandang sebagai seorang ahli.

Sebagai contoh, Lee Iacocca kemungkinan besar dipandang  sebagai seorang ahli oleh para pekerja Chryslern saat ia diangkat sebagai CEO di perusahaan tersebut, karena ia telah menghabiskan hampir seluruh karier pekerjaannya sebelum masa itu, di Ford, di mana ia dengan sukses menangani beragam pekerjaan.

Di lain pihak saat John Sculley menjabat sebagai CEO di perusahaan Apple Computer bidang keahliannya adalah sebagai ahli pemasaran di PepsiCo. Meskipun kebanyakan dari pengalaman pemasarannya bisa ditransfer ke dalam bisnis-bisnis PC. Seseorang bisa saja memprediksi bahwa kemampuan, keahlian yang dimilikinya akan dibatasi oleh keterbatasan  pengetahuannya mengenai komputer. Untuk mengatasi keterbatasan ini Sculley berupaya untuk mempelajari semua hal sesuai keinginannya mengenai komputer setelah ia diangkat sebagai CEO di Apple.

Peneliti manajemen Garry A. Yukl menyarankan bahwa para pemimpin yang memiliki keahlian harus memperhatikan cara bagaimana  mereka menyampaikan keahlian tersebut kepada yang lainnya. Ia memperingatkan para pemimpin tersebut  untuk menghindari tindak arogan, terlebih sikap suka merendahkan orang lain.

Sebagaimana telah digarisbawahinya, terkadang para pemimpin cakap yang mencoba untuk mengajukan usulnya kepada orang lain, “melontarkan sebuah argumen yang keras, dengan kasar menginterupsi setiap jawaban dan mengacuhkan setiap keberatan atau perhatian tanpa pertimbangan serius”

Kontrol Terhadap Informasi

Kontrol terhadap informasi mengacu pada akses seorang manajer terhadap informasi penting dan mengontrol penyampaian informasi tersebut kepada yang lainnya. Penelitian Henry Mintzberg menunjukkan bahwa CEO biasanya adalah anggota organisasi yang mendapat informasi paling banyak. CEO tersebut secara resmi terhubung dengan keseluruhan manajer kunci di organisasi tersebut.

Oleh karena masing-masing manajer ini memiliki hubungan khusus dengan CEO, maka CEO lah sosok terbaik yang dapat mengamati totalitas organisasi dan yang paling mengetahui segala sesuatu tentang aktivitas internal organisasi. CEO juga menjalin kontak dengan para relasi di luar perusahaan- di perusahaan-perusahaan lain, di agensi-agensi yang berkaitan dengan peraturan, dan sebagainya- yang memberikan sumber-sumber informasi yang tepat. Meskipun CEO bisa saja tidak menguasai segala hal, mereka tetap saja selalu lebih tahu dari yang lainnya.

Karena seorang CEO memiliki lebih banyak informasi dari pada yang lain, dis berkemampuan untuk mengintrepretasikan semua informasi dengan tujuan untuk mempengaruhi persepsi serta sikap para pegawai yang lain. Jika informasi yang diperoleh oleh atasan lebih lengkap dari pada yang diketahui oleh orang lain, tidak akan ada yang dapat mempertanyakan setiap keputusannya. Bahkan dewan direksi bisa saja dibuat tidak berdaya, karena kekuatannya yang didasarkan pada kedudukan sah bisa saja dikuasai oleh kekuatan informasi dan pengetahuan yang dimilik CEO.

Halaman selanjutnya……. (kekuasaan dalam organisasi)

Loading...
Pages ( 1 of 2 ): 1 2Lanjut ยป

Tinggalkan Balasan