Metode Penafsiran Al-Qur’an

Metode Penafsiran Al-Qur’an di Masa Rasulullah

Loading...

Metode Penafsiran Al-Qur’an di Masa Rasulullah – Apabila kita mencoba untuk melihat sejarah ke belakang, maka sebenarnya ayat-ayat Al-Quran telah ditafsirkan langsung pada zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Namun, penafsiran ayat-ayat Al-Quran di zaman Rasulullah tentu cukup terbatas.

Hal ini karena memang para sahabat Rasulullah mempunyai pemahaman yang cukup baik ataupun sangat baik dalam memahami ayat-ayat Al-Quran. Sehingga di zaman tersebut Al-Quran tidak terlalu ditafsirkan secara rinci, mereka hanya akan menanyakan tafsir sebuah surah kepada Rasulullah apabila mereka merasa ada sesuatu yang memang kurang dipahami, atau sulit untuk dimengerti, atau yang dianggap masih mengganjal.

Hal tersebut adalah salah satu keuntungan mereka sebagai sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang tatkala mereka bingung maka mereka bisa langsung menanyakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sementara kita merupakan orang yang memang tidak dipilih Allah  hidup semasa dengan beliau.  Bahkan, jarak antara masa kita dengan Rasulullah terbilang sangat jauh yakni 14 abad atau setara dengan 1400 tahun.

Setelah Rasulullah wafat, para sahabat wafat, para tabiin wafat, para tabiut tabiin wafat, metode penafsiran Al-Qur’an kemudian menjadi sebuah perhatian yang sangat serius. Dan hal ini bisa kita temukan dari berbagai karya hasil pemikiran para ulama dari abad ke abad, dan sampai kini bahkan tafsir Al-quran tidak hanya di tuliskan oleh mereka oleh para ulama yang memang berasal dari Negara Arab, seperti Persia, Arab, Maroko, ataupun negara-negara yang lainnya, tapi juga bisa kita temukan ditulis oleh ulama-ulama yang ada di Indonesia. Contohnya adalah Profesor Quraish Shihab.

Loading...

Semua ayat di dalam Alquran mempunyai tafsirnya sendiri-sendiri, yang dapat kita selami melalui kegiatan mengeja kata berbagai kitab tafsir yang memang telah ditulis oleh ulama-ulama kita terdahulu. misalnya adalah tafsir Quran surah alalaq ayat 1-5 kita tentu sudah tidak asing lagi dengan surah satu ini. Atau, kita juga bisa membaca tafsir QS. apa pun, sebab tiap ayat di dalam Al-Quran mempunyai makna terdalamnya masing-masing.

Jadi, sampai sini kita telah paham, bahwa perbedaan yang paling mendasar metode penafsiran Al-Qur’an antara kita dengan para sahabat Rasulullah adalah dari segi penafsiran Al-Quran. Mereka bisa langsung bertanya kepada Rasulullah tatkala bingung tentang penjelasan sebuah ayat Al-Quran, sementara kita? Kita tentu sudah tidak lagi bisa bertanya kepada beliau, sehingga tatkala kita sedang bingung akan tafsir sebuah ayat di dalam al-Quran, maka kita hanya bisa membaca kitab tafsir yang telah ditulis oleh para ulama kita.

Selain itu, sifat para sahabat telah dijamin oleh Allah, yakni ‘Adil. Dalam istilah hadis, ‘Adil atau ‘Adalah merupakan sebuah sikap, sifat yang berkaitan dengan agamanya. Mereka sudah dijamin pribadinya oleh Allah, yakni orang-orang yang siap berjuang bersama Rasulullah dalam menegakkan Islam, mereka adalah orang-orang yang siap mati demi Islam, mereka adalah orang yang mempunyai akhlak luar biasa, dan selalu berusaha untuk mengikuti apa pun yang telah disampaikan Allah dan Rasulullah.

Loading...

Hal ini tentu sangat berbeda dengan kita. Kita adalah manusia biasa yang tak ada jaminan, bahwa kita mempunyai kepribadian yang baik sebagaimana Allah telah menjamin kepribadian sahabat Rasulullah.

Itulah dia pembahasan singkat tentang metode penafsiran Al-Qur’an dan juga perbedaan kita dengan para sahabat Rasulullah. Semoga bermanfaat, dan membuat kita semakin berusaha untuk memperbaiki diri, mendalami ilmu agama, dan mencintai Rasulullah beserta para sahabatnya yang luar biasa.

Akhir kata, mohon maaf bila ada salah dan selamat belajar di mana saja kapan saja. Wassalam (maglearning.id).

Loading...

Tinggalkan Balasan