PAI Kelas 9 BAB 4 Akikah dan Kurban Menumbuhkan Kepedulian Umat

PAI Kelas 9 BAB 4 Akikah dan Kurban Menumbuhkan Kepedulian Umat

Loading...

Modul BDR online PAI Kelas 9 BAB 4 kali ini membahas tentang Akikah dan Kurban Menumbuhkan Kepedulian Umat. Jumlah nikmat yang diberikan Allah Swt. kepada seluruh hambanya tak terhingga nilainya. Allah Swt. mengaruniakan rezeki kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya tanpa terkecuali.

Bahkan, kepada mereka yang ingkar dan durhaka kepada Allah Swt. sekalipun juga diberi kesempatan hidup yang sama dengan orang yang beriman. Lalu apa yang membedakan mereka? Orang-orang yang beriman akan mendapatkan karunia di dunia dan akhirat, sedangkan orang-orang yang ingkar akan mendapat siksa di akhirat kelak.

Sudah sepantasnya kita senantiasa bersyukur kepada Allah Swt. karena dia telah memberikan berbagai nikmat, maka di antaranya berupa sumber makanan bagi kita, baik yang berasal dari tumbuhan maupun hewan.

Sebagai salah satu bentuk rasa syukur, marilah kita ikuti ketentuan Allah Swt. mengenai tata cara mengonsumsi makanan dan minuman tersebut.

Sebelum mengonsumsi daging hewan perlu dilakukan penyembelihan terlebih dahulu. Penyembelihan tersebut bukan bertujuan untuk menyakiti hewan, tetapi justru sebaliknya untuk memperlakukan hewan dengan baik.

Ketentuan dan Tata Cara Penyembelihan Hewan

Mengapa hewan yang akan dikonsumsi harus disembelih terlebih dahulu? Islam mengajarkan setiap hewan yang akan dikonsumsi harus disembelih sesuai ketentuan syariat Islam.

Daging hewan yang sudah disembelih akan menjadi sehat untuk dikonsumsi. Namun, perlu diketahui ada dua jenis hewan yang halal dikonsumsi tanpa disembelih terlebih dahulu, yaitu ikan dan belalang.

Penyembelihan hewan harus dilakukan dengan cara yang baik dan benar sesuai ajaran Rasulullah saw. Penyembelihan hewan tidak sama dengan sekedar mematikan. Kalau mematikan hewan bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, misalnya ditusuk, dicekik, diracun, atau dipukul.

Sedangkan penyembelihan dilakukan dengan cara dan ketentuan tertentu sesuai syariat. Hewan yang sudah disembelih akan menjadi baik, sehat, serta halal untuk dikonsumsi.

Sebagai orang beriman kita harus menyembelih hewan dengan baik dan benar, sebab penyembelihan yang tidak baik dan benar akan mengakibatkan hewan tersebut tidak halal untuk dikonsumsi.

A. Ketentuan Penyembelihan

Penyembelihan hewan akan berlangsung apabila terdapat orang yang menyembelih, binatang yang akan disembelih, alat penyembelihan, dan prosesnya. Penyembelihan yang disyariatkan dalam ajaran Islam adalah yang masing-masing memenuhi ketentuan-ketentuan berikut.

1) Ketentuan orang yang menyembelih

Ketentuan yang harus dipenuhi seorang penyembelih adalah:

  1. Penyembelih beragama Islam. Hukum penyembelihan menjadi tidak sah jika dilakukan oleh orang kafir (ingkar kepada Allah Swt.), orang musyrik (menyekutukan Allah Swt.), maupun orang yang murtad (keluar dari agama Islam).
  2. Menyembelih dengan sengaja. Seorang penyembelih harus dalam keadaan sadar dan sengaja menyembelih.
  3. Penyembelih baligh dan berakal. Tidak sah sembelihan orang yang belum baligh dan orang yang akalnya tidak waras, misalnya gila.
  4. Penyembelih membaca basmalah. Selain membaca basmalah, penyembelih juga disunnahkan membaca salawat dan takbir tiga kali.

2) Ketentuan hewan yang akan disembelih

Ketentuan hewan yang akan disembelih adalah sebagai berikut.

  1. Hewan dalam keadaan masih hidup. Tidak sah hukumnya menyembelih hewan yang sudah mati. Adapun hewan yang terluka, tercekik, terpukul, terjatuh, ditanduk oleh binatang lain atau yang diserang binatang buas apabila kita mendapatkannya belum mati, lalu kita sembelih, maka hukumnya halal dimakan.
  2. Hewan tersebut termasuk jenis hewan yang halal. Hewan yang haram dikonsumsi seperti tikus, katak, babi, anjing dan kera tidak sah disembelih. Dengan kata lain, meskipun disembelih hukumnya tetap haram dikonsumsi.

3) Ketentuan alat penyembelih

Alat yang digunakan untuk menyembelih hendaknya memenuhi ketentuan sebagai berikut.

  1. Tajam dan dapat melukai. Ketajaman alat dimaksudkan agar proses penyembelihan berlangsung cepat sehingga hewan tersebut segera mati. Boleh terbuat dari besi, baja, bambu, atau apa saja yang bisa tajam.
  2. Tidak terbuat dari tulang, kuku, atau gigi.

4) Ketentuan proses menyembelih

Agar proses penyembelihan menjadi sah maka harus memenuhi ketentuan sebagai berikut.

  1. Penyembelihan dilakukan pada bagian leher hewan hingga terputus saluran makanan, pernapasan, dan dua urat lehernya.
  2. Pada waktu menyembelih hewan, orang yang menyembelih harus memastikan bahwa ia sudah memotong / memutuskan bagian-bagian berikut.
    • tenggorokan (saluran pernafasan);
    • saluran makanan;
    • dua urat leher yang ada di sekitar tenggorokan.

Bila ketiga bagian tersebut sudah putus, maka penyembelihan menjadi sah.

Tata Cara Penyembelihan Hewan

Cara penyembelihan hewan ada dua macam, yaitu penyembelihan secara tradisional dan penyembelihan mekanik (modern).

Penyembelihan tradisional adalah penyembelihan hewan menggunakan alat sederhana, seperti pisau, parang, pedang, dan sebagainya. Sedangkan penyembelihan mekanik atau modern adalah penyembelihan menggunakan mesin pemotong hewan.

Untuk memahami kedua macam cara penyembelihan tersebut, bacalah dengan cermat uraian berikut ini.

1) Tata Cara Penyembelihan Secara Tradisional

Cara penyembelihan tradisional adalah sebagai berikut.

  1. Menyiapkan lubang penampung darah.
  2. Hewan yang akan disembelih dihadapkan kiblat, lambung kiri di bawah.
  3. Kaki hewan dipegang kuat-kuat atau diikat, kepalanya ditekan ke bawah.
  4. Leher hewan diletakkan di atas lubang penampung darah yang sudah disiapkan
  5. Berniat menyembelih.
  6. Membaca basmalah, shalawat nabi, dan takbir tiga kali.
  7. Arahkan pisau (alat penyembelih) pada bagian leher hewan.

Sembelihlah sampai terputus tenggorokan, saluran makanan, dan urat lehernya.

Dalam proses penyembelihan ada hal-hal yang disunnahkan, yaitu:

  • mengasah alat menyembelih setajam mungkin,
  • menghadapkan hewan sembelihan ke arah kiblat, dan
  • menyembelih di pangkal leher.

Sedangkan hal-hal yang makruh dalam penyembelihan yaitu:

  • menyembelih dengan alat yang kurang tajam,
  • menyembelih dari arah belakang leher,
  • menyembelih sampai putus seluruh batang lehernya, serta
  • menguliti dan memotong bagian tubuh sebelum hewan itu benar-benar mati.

2) Tata Cara Penyembelihan secara Mekanik

Penyembelihan mekanik dilakukan agar penyembelihan bisa lebih cepat. Penyembelihan seperti ini biasanya dilakukan di tempat khusus penyembelihan hewan atau RPH (Rumah Penyembelihan Hewan).

Adapun tata cara penyembelihan secara mekanik, yaitu sebagaimana berikut.

  1. Memastikan mesin pemotong hewan dalam keadaan baik.
  2. Menyiapkan hewan-hewan yang akan disembelih pada tempat pemotongan.
  3. Penyembelih (operator mesin) berniat untuk menyembelih.
  4. Membaca basmalah, salawat nabi, dan takbir tiga kali.
  5. Lakukan penyembelihan dengan menghidupkan mesin pemotong.

Bagaimana hukum mengonsumsi hewan yang disembelih secara mekanik menggunakan mesin? Hukum daging hasil sembelihan secara mekanik adalah halal apabila syarat-syarat dan ketentuan tersebut terpenuhi.

Lalu bagaimana hukum mengonsumsi daging hewan hasil berburu? Hukumnya halal apabila ketika akan berburu membaca asma Allah Swt. Berburu hewan liar seperti rusa atau kijang dilakukan dengan cara melukai bagian tubuh mana saja yang dapat mengalirkan darah dan menjadikannya mati.

Akikah

Akikah secara bahasa artinya adalah memutus atau melubangi. Secara syariat makna akikah adalah menyembelih kambing/domba sebagai tanda syukur kepada Allah Swt. atas lahirnya anak, baik laki-laki atau perempuan. Akikah yang paling utama dilaksanakan pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Pada hari itu pula seorang bayi dicukur rambutnya dan diberi nama yang baik.

Jika pada hari ketujuh tersebut seorang ayah belum mampu melaksanakan akikah untuk anaknya, maka akikah boleh dilakukan pada saat dia mampu sebelum anak tersebut dewasa.

Sayyidah Aisyah r.a. dan Imam Ahmad berpendapat bahwa akikah bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, hari keempat belas, ataupun hari kedua puluh satu. Jika pada hari-hari itu juga belum mampu maka boleh dilakukan kapan saja saat yang bersangkutan sudah mampu.

Hukum Akikah

Hukum akikah adalah sunah muakad. Sunah muakad artinya sunah yang sangat dianjurkan. Sebaiknya pelaksanaan penyembelihan dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran anak tersebut.

Akikah berbeda dengan penyembelihan pada umumnya. Bila penyembelihan biasa tujuannya utamanya sekedar untuk dikonsumsi (dimakan), sedangkan akikah mempunyai tujuan yang khusus, yaitu sebagai wujud syukur kepada Allah Swt. atas kelahiran seorang anak.

Ketentuan Hewan Akikah

Mayoritas ulama sepakat bahwa hewan yang digunakan untuk akikah adalah kambing/domba. Untuk anak laki-laki sebanyak 2 ekor kambing/domba dan untuk anak perempuan satu ekor kambing/domba. Adapun syarat kambing/domba akikah yaitu:

  1. kambing/domba itu harus dalam keadaan sehat, tidak kurus, dan tidak cacat, serta
  2. kambing/domba itu sudah berumur satu tahun lebih (sudah pernah berganti gigi).

Pembagian Daging Akikah

Ketentuan pembagian daging akikah berbeda dengan pembagian daging kurban. Dalam hal ini daging akikah diberikan dalam kondisi yang sudah dimasak.

Orang tua anak boleh memakannya, menghadiahkan sebagian dagingnya kepada sahabat-sahabatnya, dan menyedekahkan sebagian lagi kepada kaum muslimin. Boleh juga mengundang kerabat dan tetangga untuk menyantapnya, serta boleh juga disedekahkan semuanya.

Hikmah Pelaksanaan Akikah

Pelaksanaan akikah mengandung banyak hikmah, di antaranya adalah seperti berikut ini.

  1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad saw.
  2. Membebaskan anak dari ketergadaian.
  3. Ibadah akikah mengandung unsur perlindungan dari setan yang dapat mengganggu anak yang terlahir itu. Dengan demikian anak yang telah ditunaikan akikahnya dengan rida dan pertolongan Allah Swt. akan lebih terlindungi dari gangguan setan yang sering mengganggu anak-anak.
  4. Dengan rida dan pertolongan Allah Swt., akikah dapat menghindarkan anak dari musibah, keburukan moral, dan penderitaan.
  5. Merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah Swt. sekaligus sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang dianugerahkan Allah Swt. dengan lahirnya sang anak.
  6. Akikah sebagai sarana menampakkan rasa gembira dalam melaksanakan syariat Islam.
  7. Memperkuat tali silaturahim di antara anggota masyarakat.

Kurban

Dalam istilah ilmu fikih hewan kurban biasa disebut dengan nama al-udhiyah yang bentuk jamaknya al-adahi. Secara bahasa kurban berasal dari kata “qarraba” yang berarti dekat. Secara syariat kurban artinya ibadah dalam bentuk melaksanakan penyembelihan hewan tertentu atas dasar perintah Allah Swt. dan petunjuk Rasulullah saw. dengan harapan dapat mendekatkan diri kepada-Nya.

Hukum Kurban

Pelaksanaan kurban hukumnya sunnah muakkad, artinya sangat dianjurkan. Bagi yang mampu dianjurkan untuk melaksanakan kurban. Orang yang mampu berkurban namun tidak melakukannya, maka hukum baginya adalah makruh (tidak disukai oleh Allah Swt. dan Rasul-Nya).

Ketentuan Hewan Kurban

Jenis binatang yang diperbolehkan untuk dijadikan kurban adalah unta, sapi, kerbau, kambing atau biri-biri. Adapun ketentuan hewan-hewan tersebut adalah:

  • unta yang sudah berumur 5 tahun,
  • sapi/kerbau yang sudah berumur 2 tahun,
  • kambing yang sudah berumur 2 tahun, dan
  • domba/biri-biri yang sudah berumur 1 tahun atau telah berganti gigi.

Menurut para ulama, tidak sah kecuali dengan jenis hewan-hewan tersebut di atas. Di samping memenuhi ketentuan umur, binatang-binatang itu harus sehat dan organ tubuhnya lengkap, tanduknya tidak patah, tidak buta matanya, tidak pincang, tidak sakit atau cacat, dan tidak kurus kering.

Ketentuan yang lain untuk jenis binatang unta, sapi, dan kerbau boleh untuk kurban sejumlah tujuh orang. Sedangkan untuk kambing dan domba hanya untuk kurbannya satu orang.

Waktu Penyembelihan Kurban

Waktu penyembelihan kurban adalah setelah salat Idul Adha (tanggal 10 bulan Zulhijjah) dan tiga hari tasyrik (11,12, dan13 bulan Zulhijjah). Penyembelihan boleh dilakukan pada siang hari atau sore hari pada hari-hari tersebut (sebelum matahari terbenam pada tanggal 13 bulan Zulhijjah). Tidak ada perbedaan waktu siang ataupun malam. Baik siang maupun malam, penyembelihan kurban sama-sama dibolehkan.

Tempat yang disunnahkan untuk menyembelih adalah tanah lapangan. Tujuannya adalah dalam rangka memberitahukan kepada kaum muslimin bahwa kurban sudah boleh dilakukan dan untuk mengajari kaum muslimin tata cara kurban yang benar.

Orang yang berkurban (Sohibul Kurban) disunnahkan untuk menyembelih hewan kurbannya sendiri, namun boleh diwakilkan kepada orang lain. Ketika menyembelih hewan kurban disunnahkan membaca doa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. berikut ini:

Doa Menyembelih Kurban

Artinya:

“Kuhadapkan muka hatiku kepada dzat yang menciptakan langit dan bumi, atas agama Ibrahim dengan keadaan lurus, dan bukanlah aku termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim). Ya Allah, segala sesuatu berasal dari-Mu, dan hanya untuk-Mu, dan dari Nabi Muhammad dan umatnya, dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar”.

Pembagian Daging Kurban

Daging kurban dibagi kepada fakir dan miskin dalam keadaan masih mentah, belum dimasak. Apabila orang yang berkurban (Sohibul Kurban) menghendaki, dia boleh mengambil daging kurban itu maksimal sepertiganya.

Hikmah Pelaksanaan Kurban

Hikmah pelaksanaan kurban antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Menghidupkan sunnah para nabi terdahulu, khususnya sunnah Nabi Ibrahim As.
  2. Untuk mendekatkan diri atau taqarrub kepada Allah Swt.
  3. Menghidupkan makna takbir di Hari Raya Idul Adha, dari tanggal 10 hingga 13 Zulhijjah.
  4. Kurban mengajarkan kepada kita untuk bersikap dermawan, tidak rakus dan tidak kikir.
  5. Kurban mendidik kita untuk peduli kepada sesama.
  6. Mendidik kita untuk membunuh sifat kebinatangan. Di antara sifat-sifat kebinatangan yang harus kita musnahkan adalah tamak, rakus, sikap ingin menang sendiri, sewenang-wenang kepada orang lain.

Video Pembelajaran PAI Kelas 9 BAB 4 Akikah dan Kurban Menumbuhkan Kepedulian Umat

Media pembelajaran video di atas bisa digunakan untuk menambah cara belajar kalian.

Asesmen Online PAI Kelas 9 BAB 4 Akikah dan Kurban Menumbuhkan Kepedulian Umat

Berikut ini adalah asesmen online PAI Kelas 9 BAB 4 Akikah dan Kurban Menumbuhkan Kepedulian Umat yang bisa kalian gunakan untuk mengukur sejauh mana hasil belajar mandiri.

https://quizizz.com/join/quiz/5e5e0b7fe120e1001c3c7947/start

Asesmen Online PAI Kelas 9 BAB 4 Akikah dan Kurban

Halaman Selanjutnya …… (Contoh Soal dan Jawaban PAI Kelas 9 BAB 4)

Loading...
Pages ( 1 of 2 ): 1 2Lanjut ยป

Tinggalkan Balasan