Teori Konstruktivisme Piaget, Penjelasan Ringkas

Teori Konstruktivisme Piaget, Penjelasan Ringkas !

Loading...

Teori Konstruktivisme Piaget, Penjelasan Ringkas ! – Jean Piaget, dikenal sebagai salah satu tokoh konstruktivisme, khususnya terkait dengan konstruktivistik kognitif. Tokoh lainnya adalah Lev Vygotsky yang merupakan tokoh konstruktifistik sosial dan dilengakpi oleh Jerome Bruner yang dinilai sebagai tokoh konstruktifistik modern. 

Kali ini saya ingin membahas secara ringkas tentang konsep dasar bagaimana suatu pengetahuan dibangun menurut teori Jean Piaget. Dia adalah orang Rusia yang berkebangsaan Amerika.

Konsep Teori Konstruktivisme Piaget

Konsep sederhana Piaget adalah bahwa setiap orang telah memiliki apa yang disebut dengan skemata, kemudian karena ada proses asimilasi dan akomodasi menyebabkan pengetahuan terbangun secara terus menerus.

Kita coba pahami konsep ini dengan melihat skenario hubungan antara skemata awal, kemudian mengalami proses asimilasi, terjadi disequilibrium, menjadi skemata baru, kemudian terjadi proses akomodasi, disequilibrium lagi dan akhirnya terbangun skemata baru, begitu seterusnya.

INILAH SKENARIONYA:

Suatu malam, sang Ibu menunjukkan gambar Anjing menceritakan tentang Anjing tersebut kepada anaknya yang bernama Jaka. Sang  Ibu menunjukkan bahwa seperti di gambar inilah yang bernama Anjing, memiliki ciri punya kaki empat, berekor dan bertelinga.

Pada saat itu, si Jaka membentuk pengetahuan yang dinamakan skemata awal dalam benaknya bahwa anjing adalah seperti dalam gambar berkaki empat, bertelinga dua dan memiliki ekor.

Besok paginya, si Jaka berjalan did epan rumah Abet, temannya. Dia melihat bahwa anjingnya si Abet tidak hanya memiliki ciri seperti apa yang ada dalam skemata awal dia setelah diceritakan oleh ibunya. Ia melihat bahwa Anjingnya si Abet di samping berkaki empat, memiliki dua telinga dan berekor satu, tapi juga suka menjilat-jilat dan menggonggong.

Pada saat itulah, timbul dalam pemikiran si Jaka apa yang dinamakan “disequilibrium” alias kebingungan atau bertanya-tanya sebenarnya Anjing itu seperti apa yang ada dalam gambar atau seperti realitas yang dia lihat saat itu. Inilah yang dinamakan bagian dari proses asimilasi.

Pada saat inilah si Jaka sedang mengalami proses asimilasi yaitu membangun pengetahuan tentang anjing dengan mengaitkan antara skemata awal (setelah ditunjukkan gambar dan cerita dari sang Ibu) dengan Anjing dalam realitas sebenarnya. Kemudian ia mempertegas konsep anjing dengan menanyakan kembali ke Ibunya untuk klarifikasi bahwa Anjing itu tidak hanya berkaki empat, bertelinga dua dan berekor, tapi juga menggonggong, suka menjilat, jinak, dan seterusnya. Ketika ia mendapat reinforcement dari sang Ibu bahwa itulah anjing, maka terbentuklah skemata baru (pengetahuan baru) pada diri si Jaka tentang Anjing.

Keesokan harinya, si Jaka melihat binatang lain yaitu kucing yang memiliki ciri mirip dengan Anjing, berkaki empat, bertelinga dua dan berekor. Pada saat itu, secara internal dalam benaknya membangun pengetahuan baru dan bertanya apakah ini Anjing? Di sinilah dia mengalami proses konstruksi pengetahuan lebih jauh, yang oleh Jean Piaget dinamakan sebagai proses akomodasi.

Dalam konteks ini si Jaka sudah punya skemata awal bahwa anjing itu berkaki empat, bertelinga dua, berekor, menggonggong, suka menjilat. Tapi setelah melihat binatang lain, yaitu kucing, ia bingung (terjadi proses disequilibrium) dimana ternyata binatang yang ditemuinya tersebut, memiliki kaki empat, bertelinga dua, berekor, menjilat, jinak, tapi tidak menggonggong (malah bersuara, “Meoooong”), bahkan suka lari memanjat pohon.

Kemudian si Jaka bertanya pada ibunya, “Bu ini Anjing apa?”. Ketika mendapat umban balik bahwa itu adalah binatang lain yang mirip anjing bernama kucing, maka terbangunlah pengetahuan baru pada diri si Jaka bahwa ada binatang lain yang memiliki ciri hampir sama tapi berbeda dengan anjing, yaitu kucing.

Begitulah proses ini berlangsung sepanjang ia memperoleh interaksi dengan lingkungannya (mengalami). Terjadi proses asimilasi dan akomodasi sehingga konstruksi pengetahuannya terus meningkat.

Prinsip Teori Konstruktivisme Piaget

Menurut Jean Piaget, ada dua prinsip utama tentang bagaimana pengetahuan dibangun pada diri manusia, yaitu adaptasi dan organisasi:

  • Adaptasi: Individu beradaptasi terhadap rangsangan fisik dan mental dari lingkungan melalui proses asimilasi dan akomodasi.
  • Organisasi: Pikiran diorganisasikan dalam cara yang kompleks dan terpadu. Organisasi pikiran yg paling sederhana adalah “schema” yg merupakan representasi tindakan fisik maupun mental yang dapat dilakukan terhadap obyek, peristiwa, atau fenomena.

Setelah melihat ilustrasi di atas, sekarang kita bahas apa itu skemata, asimilasi, akomodasi dan disequilibration.

Skemata adalah representasi mental terhadap serangkaian persepsi, ide, obyek dan atau tindakan. Dapat bersifat spesifik (seperti mengenali konsep anjing) maupun elaboratif (seperti mengenali perbedaan binatang serupa antara Anjing dan Kucing, atau klasifikasi aneka ragam jenis Anjing).

Asimilasi terjadi ketika anak mempersepsikan obyek atau peristiwa dengan skema yang telah ada dalam dirinya. (lihat ilustrasi ketika si Jaka ditunjukkan gambar anjing dan diceritakan ciri Anjing oleh Ibunya sampai dia memahami lebih jauh konsep Anjing setelah melihat Anjing sebenarnya).

Akomodasi adalah proses mengubah struktur mental internal terhadap realitas eksternal. Terjadi ketika skemata yang telah ada dimodifikasi atau skemata baru dibuat sebagai hasil dari pengalaman baru. Akomodasi terjadi seiring dengan adanya asimilasi, begitu pula sebaliknya ketika realita diasimilasi, maka struktur diakomodasi. (coba perhatikaan kembali ilustrasi di atas).

Equilibration adalah usaha untuk menyeimbangkan antara skemata yang telah ada dengan realitas lingkungan eksternal. Perhatikan ketika si Jaka ditunjukkan gambar dan diceritakan tentang anjing oleh ibunya, maka ia membentuk skemata awal tentang anjing, tapi ketika melihat anjing sebenarnya maka terjadi proses equilibration, yang diawali dengan keadaan disequilibrium dalam diri si Jaka dan menjadi equilibrium setelah menerima penguatan atau umpan balik dari ibunya, bahwa itulah Anjing seperti apa yang dilihat dan dialami si Jaka dalam konteks sebenarnya.

Pertanyaan berikutnya adalah, lantas apa implikasinya untuk pembelajaran? Ini dia, silakan terjemahkan sendiri ya:

  • The content of instruction needs to be consistent with the developmental level of the learner (developmentally appropriate instructiion)
  • The teacher’s role is to facilitate learning by providing a variety of experiences.
  • Provide concrete props and visual aids, such as models and/or time line
  • Use familiar examples to facilitate learning more complex ideas, such as story problems in math.
  • Allow opportunities to classify and group information with increasing complexity; use outlines and hierarchies to facilitate assimilating new information with previous knowledge.
  • Use visual aids and models.
  • Present problems that require logical analytic thinking; the use of tools such as “brain teasers” is encouraged.
  • Provide opportunities to discuss social, political, and cultural issues.
  • Teach broad concepts rather than facts, and to situate these in a context meaningful and relevant to the learner (contextual teaching learning).

Begitulah ceritanya mengenai konsep dasar teori konstruktivisme Jean Piaget. Semoga Bermanfaat, selamat belajar dan berkarya (maglearning.id).

Loading...

Tinggalkan Balasan