Berbagai Perspektif tentang Belajar

Belajar (learning) merupakan proses pengembangan individu dengan menambah pengetahuan baru, keahlian, dan sikap dengan melakukan interaksi dengan informasi dan lingkungan. Lingkungan Belajar meliputi fasilitas fisik, atmosfer psikologi, metode pembelajaran, media, dan teknologi.

Penggunaan media dalam pembelajaran sangat tergantung pada bagaimana kita mempercayai bagaimana seseorang belajar. Banyak teori pembelajaran yang berkembang dalam beberapa abad terakhir. Sudut pandang teori pembelajaran yang digunakan akan sangat menentukan bagaimana keputusan pembelajaran dibuat.

Berikut akan disampaikan beberapa perspektif pembelajaran yang banyak digunakan.

PERSPEKTIF BEHAVIORIS

B. F. Skinner seorang psikolog dari Harvard university mengenalkan behaviorisme. Skinner merupakan pendukung behaviorisme namun sekaligus menyodorkan beberapa perbedaan penting, diantaranya adalah ia lebih tertarik pada perilaku yang disengaja, seperti mempelajari keahlian baru daripada perilaku reflektif yang disampaikan oleh Pavlov. Skinner menunjukkan bahwa perilaku setiap organisme dapat dibangun dengan memberikan penguatan (reinforcing) atau balasan (rewarding) pada respon yang diinginkan terhadap lingkungan.

Skinner mengembangkan teorinya yang sering disebut dengan reinforcement theory berdasarkan serangkaian percobaan pada burung merpati dan tikus. Sebuah tuas kunci yang diterangi lampu di kotak burung merpati, bila lampu dinyalakan maka burung akan mematuk tuas tersebut dan akan memicu keluarnya makanan. Dilakukan beberapa pembedaan (diskriminan) agar merpati mampu memberikan respon yang berbeda pada stimulus yang berbeda. Makanan merupakan reinforcement dalam hal ini, bila lampu yang menyala merah maka walaupun burung mematuk kunci makanan tidak akan keluar, namun sebaliknya bila lampu berwarna hijau maka jika tuas dipatuk maka akan keluar makanan. Lama kelamaan maka burung akan mematuk kunci ketika warna lampu yang menyala adalah hijau.

Skinner berfikir bahwa percobaannya pada merpati akan berlaku pula pada manusia, terutama dalam hal prosedur stimulus dan respon. Hasil pemikiran Skinner ini adalah munculnya pembelajaran terprogram yang merupakan teknik untuk mengarahkan pebelajar pada serangkaian tahapan proses pembelajaran untuk mencapai kinerja/hasil yang diharapkan.

PERSPEKTIF KOGNITIVIS

Jika behavioris menolak berspekulasi tentang proses internal terjadi pada seseorang/organisme ketika sedang belajar, maka kognitivis justru bertolak pada kondisi internal seseorang dalam proses belajarnya. Behavioris hanya menggantungkan pada perilaku yang bisa diamati, sehingga hasilnya hanya bisa menjelaskan sesuatu yang simpel dalam proses pembelajaran. Dengan demikian behavioris mempunyai keterbatasan dan hanya sedikit berkontribusi pada pembelajaran tingkat tinggi (higher level skill). Misalnya, behaviorisme akan kesulitan untuk menyimpulkan bagaimana pebelajar memproses informasi, padahal ini sangat penting untuk digunakan untuk merancang pembelajaran dengan tujuan menghadirkan kemampuan pemecahan masalah.

Kognitivis mempunyai kontribusi yang besar pada teori belajar dan desain pembelajaran dengan menawarkan model bagaimana pebelajar menerima, memproses, dan memanipulasi informasi. Jika behavioris secara sederhana menerapkan bagaimana memperkuat respon terhadap stimulus, maka kognitivis membuat model mental dari memori jangka pendek dan jangka panjangnya. Informasi baru akan disimpan dalam memori jangka pendek, dimana akan dipanggil lagi sehingga akan disimpan dalam memori jangka panjang. Jika informasi tidak dipanggil, maka informasi itu akan memudar dan lama kelamaan akan menghilang dari memori jangka pendek.

Pebelajar mengkombinasikan informasi dan keahlian dalam memori jangka panjang untuk mengembangkan strategi-strategi kognitif atau keahlian ketika berhadapan dengan tugas-tugas atau masalah yang kompleks. Kognitivis mempunyai pandangan yang lebih luas tentang persepsi belajar independen. Pebelajar lebih tidak tergantung pada program pembelajaran atau lingkungan belajar. Program pembelajaran didesain sedemikian rupa agar pebelajar mampu merancang strategi kognitifnya menggunakan sumber belajar yang tersedia.

Psikolog Swiss Jean Piaget menggambarkan bagaimana seorang psikolog kognitif memandang proses mental individual digunakan dalam merespon lingkungan yang ada di sekitarnya. Ada tiga konsep mental yang bekerja menurut Piaget yaitu: skemata, asimilasi, dan akomodasi.

Skemata. Skemata berasal dari kata schemata yang merupakan bentuk jamak dari schema, yaitu struktur-struktur mental yang disusun oleh individu dari persepsinya terhadap lingkungan. Skemata diadaptasi, diperbaiki atau bisa juga diganti sejalan dengan proses pengembangan mental dan pembelajaran. Skemata ini digunakan untuk untuk mengidentifikasi, memroses, dan menyimpan informasi yang masuk dan juga sebagai dasar gagasan kategori individual untuk digunakan dalam mengklasifikasi informasi-informasi dan pengalaman spesifik. Misalnya, anak-anak belajar dengan cara yang berbeda dengan orang tuanya. Seorang anak akan membedakan antara anjing dan kucing baru kemudian seiring berjalannya waktu mereka dapat mengetahui perbedaan varietas dari anjing. Pembedaan ini berdasarkan pengalaman yang akan menyusun skemata. Struktur-struktur kognitif ini dapat berubah melalui proses asimilasi dan akomodasi yang didorong atau diinisiasi oleh proses pembelajaran atau pengajaran.

Asimilasi. Asimilasi merupakan proses kognitif dimana pebelajar mengintegrasikan informasi-informasi dan pengalaman baru dengan skemata yang sudah ada. Piaget mengambil istilah biologi yang merujuk pada proses dimana sebuah organisme memakan makanan, mencernanya, dan kemudian mengasimilasi atau merubahnya ke format yang dibutuhkan oleh tubuh. Dalam pembelajaran, asimilasi dihasilkan dari pengalaman. Dengan adanya pengalaman-pengalaman baru, skema berkembang namun tidak mengubah struktur dasar skema tersebut.

Melalui proses asimilasi pebelajar mencoba untuk menempatkan konsep baru pada skemata yang sudah ada. Pengalaman belajar dapat berupa pengalaman langsung dan natural dalam kehidupan sehari-hari. Namun dengan adanya proses pembelajaran guru atau instruktur dapat merancang pengalaman belajar para siswa menggunakan media dan atau metode pembelajaran. Di sini dapat dipahami bagaimana peran media pembelajaran dapat memberikan kontribusi pada pembentukan skemata.

Loading...

Akomodasi. Akomodasi merupakan proses memodifikasi skemata yang sudah ada atau membentuk skemata baru. Skemata yang dibentuk atau diubah oleh pebelajar dewasa dan pebelajar anak-anak pasti sangat berbeda karena perbedaan pengalaman diantara keduanya. Skemata yang dibentuk oleh pebelajar dewasa akan lebih kompleks dari hasil elaborasi yang jangkauan pengalaman yang lebih luas.

Ketika pebelajar menemukan konsep atau pengalaman baru mereka akan berusaha melakukan asimilasi dengan skemata yang sudah ada. Bila konsep atau pengalaman baru ini tidak sesuai dengan skemata yang ada maka ada dua respon yang mungkin dilakukan oleh pebelajar yaitu: Pebelajar dapat membuat satu skema baru dengan penempatan stimulus baru, atau skemata yang sudah ada dimodifikasi sehingga stimulus baru dapat diserasikan. Kedua proses ini merupakan proses akomodasi.

Dalam pembelajaran di sekolah guru bertanggungjawab untuk menyediakan pengalaman belajar dengan hasil yang diharapkan adalah siswa mampu membentuk skemata baru atau memodifikasi skemata yang sudah ada. Seiring dengan berjalannya waktu maka skemata ini akan terus berkembang.

PERSPEKTIF KONSTRUKTIVIS

Konstruktivis merupakan gerakan yang mengembangkan pemikiran/kepercayaan kognitivis. Yaitu dengan lebih menekankan pada arti sebuah pengalaman sebagai esensi dari belajar itu sendiri. Pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan konsep kognitivis, hanya saja sedikit bergeser dari pebelajar yang pasif menerima transfer informasi menjadi pebelajar yang aktif memecahkan masalah.

Konstruktivis menekankan pada bagaimana pebelajar membuat interpretasi sendiri tentang dunia dari informasi yang ia dapatkan. Perspektif ini sangat berlawanan dengan behavioris dan kognitivis, dimana menurut kedua perspektif ini pemikiran siswa dapat dipetakan oleh guru, sedangkan konstruktivis berargumen bahwa siswa menempatkan pengalaman pembelajarannya dalam pengalaman pribadinya (pengalamannya sendiri) dan tujuan pembelajaran bukan mengajarkan informasi melainkan menciptakan situasi agar siswa mampu menginterpretasi informasi dari pemahamannya sendiri.

Peran pembelajaran tidak menyajikan fakta tetapi untuk memberikan jalan agar siswa mampu menyusun pengetahuan. Kaum konstruktivis percaya bahwa siswa akan belajar lebih efektif bila siswa diarahkan menggunakan tugas-tugas autentik yang terkait dengan konteks yang penuh arti. Pengukuran akhir dari pembelajaran berdasarkan pada kemampuan siswa untuk menggunakan pengetahuannya dalam memahami kehidupan nyata.

PERSPEKTIF PSIKOLOGISOSIAL

Psikologi Sosial, memandang pengaruh organisasi sosial dari kelas belajar pada pembelajaran. Bagaimanakah struktur grup dalam kelas, apakah pembelajaran independen, grup kecil, atau kelas besar? Bagaimana struktur otoritasnya?  (seberapa besar pebelajar mempunyai kendali pada pembelajarannya dan aktivitasnya sendiri? dan bagaimana struktur reward nya, apakah kerja sama lebih diutamakan dari pada kompetisi? dll)

Loading...

Robert Slavin banyak membuktikan bahwa pembelajaran kooperatif lebih efektif dan mempunyai manfaat sosial yang lebih baik bila dibandingkan dengan pembelajaran individualistik dan kompetitif. Slavin mengembangkan teknik pembelajaran kooperatif yang terdiri dari prinsip-prinsip kolaborasi grup kecil, pengajaran dengan kontrol pebelajar, dan berbasis reward pada capaian grup.

PERSPEKTIF PERKEMBANGAN

Jean Piaget mengusulkan bahwa anak-anak membangun sendiri pemahaman dan kemampuan penalaran yang semakin kompleks seiring bertambahnya usia melalui interaksi dan merefleksikan dunia fisik dan sosial mereka. Dengan demikian bisa dikatakan Piaget juga bisa disebut pelopor dalam konstruktivisme individual. Sementara itu, psikolog Rusia, Lev Vygotsky, memusatkan perhatian pada pentingnya masyarakat dan budaya untuk perkembangan anak-anak, meletakkan landasan bagi pandangan kontekstual yang dikenal sebagai teori sosiokultural.

Pandangan Piaget dan peneliti yang mengikuti jejaknya yang secara kolektif dikenal sebagai teori perkembangan kognitif. Teori ini menjelaskan bagaimana proses berpikir anak secara kualitatif berubah signifikan sesuai dengan usia dan pengalaman. Dalam perspektif semacam ini anak-anak biasanya memainkan peran aktif dalam perkembangan mereka sendiri. Mereka mencari pengalaman baru dan menarik, mencoba memahami apa yang mereka lihat dan dengar, dan secara aktif bekerja untuk merekonsiliasi ketidaksesuaian antara informasi baru dan keyakinan mereka saat ini tentang beberapa aspek. Dalam proses melakukan hal-hal ini, pemikiran anak-anak secara bertahap menjadi lebih abstrak dan sistematis.

Piaget berpendapat bahwa perkembangan kognitif anak dicirikan oleh empat tahap yang berbeda, masing-masing dengan pola pemikirannya yang unik. Setiap tahap dibangun atas pencapaian dari setiap tahapan sebelumnya, dan dengan demikian anak-anak berkembang melalui empat tahap dalam urutan invarian yang sama.

Tahapan tersebut adalah :

  1. Tahap Motor atau Sensorimotorik
  2. Tahap Pra-Operasional
  3. Tahap Operasional Kongkrit
  4. Tahap Operasional Formal

One comment

Tinggalkan Balasan