Materi IPA Kelas 6 Tema 6 Subtema 3 “Pubertas Laki-laki dan Perempuan”

IPA Kelas 6 Tema 6 Subtema 3 “Pubertas Laki-laki dan Perempuan”

Halo jumpa lagi dengan modul BDR online dari maglearning.id. Kali ini kita akan mempelajari materi IPA Kelas 6 Tema 6 Subtema 3 dengan kajian tentang Pubertas Laki-laki dan Perempuan.

Pengertian Masa Pubertas

Masa remaja awal atau masa pra puber adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa remaja sebenarnya (masa pubertas), dimana seorang anak yang telah besar (puber = anak besar) ini sudah ingin berlaku seperti orang dewasa tetapi dirinya belum siap termasuk kelompok orang dewasa.

Masa pubertas“ (berasal dari bahasa latin “pubescere”, artinya mendapat rambut kemaluan), yakni masa awal terjadinya pematangan seksual. Dalam rangkaian proses perkembangan seseorang, masa puber tidak mempunyai tempat yang jelas.

Sulit membedakan antara masa puber dengan masa remaja karena masa puber adalah bagian dari masa remaja dan pubertas sering dijadikan sebagai pertanda awal seseorang memasuki masa remaja. Ketika seorang anak mengalami pubertas, berarti dia anggap sudah memasuki masa remaja, yakni masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.

Meskipun sering tidak mempunyai tempat yang jelas dalam rangkaian proses perkembangan manusia, masa pubertas mempunyai arti khusus dalam kehidupan seseorang. Betapa tidak, pada masa pubertas inilah terjadi perubahan-perubahan besar dan dramatis dalam perkembangan seorang anak, baik dalam pertumbuhan atau perkembangan fisik, kognitif, maupun dalam perkembangan psikososial anak.

Waktu datangnya masa pubertas tidak dapat diketahui secara pasti. Ada anak-anak yang memulai masa pubertasnya pada usia yang lebih awal dan ada pula yang lebih belakangan.

Biasanya, anak perempuan mulai memasuki masa pubertas lebih awal 2 tahun dibandingkan dengan anak laki-laki. Menurut sejumlah ahli perkembangan, pada anak perempuan pubertas terjadi sekitar usia 10 tahun, sedangkan pada anak laki-laki terjadi pada usia sekitar 12 tahun.

Kematangan atas jenis kelamin tersebut, banyak tergantung dengan iklim, lingkungan budaya setempat, bangsa dan lain-lain, sehingga peristiwa ini tiap-tiap bangsa di dunia sering kali terjadi perbedaan waktunya yang mencolok.

Contoh bagi Indonesia dan Perancis terjadi pada usia 13-14 tahun (karena adanya kesamaan iklim). Tetapi di negeri panas, Arab Saudi umur 11-12 dan di Malabar pada umur 8-9, di negeri dingin Siberia pada umur 17-19 tahun.

Batasan usia remaja awal (pra puber) yang umum digunakan para ahli antara umur 12-15 tahun. Tetapi menurut Monks, Knoers dan Haditono (2001) batasan usia pra puber antara umur 10-13 tahun.

Pubertas Laki-laki dan Perempuan (IPA Kelas 6 Tema 6 Subtema 3)

Ciri-Ciri Primer

Ciri-ciri primer disini maksudnya ialah ciri-ciri yang menunjukkan pada organ tubuh secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi. Ciri-ciri primer pria dan wanita berbeda. Adapun ciri-ciri primer tersebut yaitu :

a.         Bagi laki-laki ditandai dengan keluarnya sperma pertama kali yang dikenal dengan “mimpi basah”

Hal ini dipengaruhi oleh hormon perangsang yang diproduksi oleh kelenjar bawah otak (pituitary gland). Hormon ini merangsang testis sehingga testis menghasilkan hormon testosteron dan androgen serta spermatozoa.

b.        Bagi perempuan ditandai dengan menstruasi (menarche)

Yaitu menstruasi yang pertama kali dialami oleh seorang gadis. Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan indung telur (ovarium) yang terletak dalam rongga perut wanita bagian bawah, di dekat uterus yang berfungsi memproduksi sel-sel telur dan hormon-hormon estrogen dan progesteron.

Progesteron berfungsi untuk mematangkan sel telur, sedangkan estrogen mempengaruhi pertumbuhan sifat-sifat kewanitaan pada tubuh seseorang atau mengatur siklus haid atau menstruasi.

2.        Ciri-Ciri Sekunder

Ciri-ciri sekunder adalah ciri-ciri jasmaniah yang tidak langsung berhubungan dengan proses reproduksi, namun merupakan tanda-tanda yang membedakan laki-laki dan perempuan. Adapun ciri-ciri sekundernya, yaitu :

a.         Bagi laki-laki

  1. Tumbuh suburnya rambut, janggut, kumis dan lainnya. Sudah lazimnya dalam kehidupan ditemukan seorang anak yang baru menginjak remaja ini ditandai dengan tumbuhnya bulu-bulu halus di sebagian tubuh, seperti janggut, kumis dan lain sebagainya. Hal ini terjadi karena rangsangan kelenjar endokrin yang bermuara di dalam darah.
  2. Selaput suara semakin besar dan berat.
  3. Wajah anak-anak sudah mulai hilang, seperti dahi yang semula sempit sekarang menjadi lebih luas, mulut lebar, bibir lebih menjadi penuh.
  4. Terjadi percepatan pertumbuhan otot sehingga terjadi pengurangan lemak dalam tubuh.
  5. Perkembangan otot anak laki-laki lebih cepat dari anak perempuan, karena lebih banyak memiliki jaringan otot sehingga anak laki-laki lebih kuat daripada anak perempuan.

b.        Bagi perempuan

  1. Pinggul semakin besar
  2. Payudara mulai membesar
  3. Suara menjadi lebih halus (merdu), bulat dan tinggi.
  4. Tumbuh rambut di bagian-bagian tertentu dialat kelamin.
  5. Kulit semakin halus.

3.        Ciri-ciri Tersier

Cir-ciri tersier merupakan ciri-ciri yang berakibat dari dua ciri-ciri di atas. Diantaranya sebagai berikut.

  1. Perubahan sikap dan perilaku
  2. Munculnya perasaan-perasaan negatif pada diri anak
  3. Ingin melepas diri dari orang tua
  4. Anak ingin menyamakan dirinya dengan orang dewasa

Perkembangan Masa Pubertas

1.        Perkembangan Fisik

Secara umum terjadi pertumbuhan dan perkembangan fisik yang sangat pesat dalam masa remaja awal (12 / 13 tahun). Menurut Dr. Zakiah Darajadjat, bahwa diantara hal yang kurang menyenangkan remaja adalah adanya beberapa bagian tubuh yang cepat pertumbuhannya, sehingga mendahului bagian yang lain seperti kaki, tangan, hidung yang mengakibatkan cemasnya remaja melihat wajah dan tubuhnya yang kurang bagus.

Perubahan Tubuh Pada Masa Puber

 Selama pertumbuhan pesat masa puber, terjadi empat perubahan fisik penting di mana tubuh anak dewasa yaitu perubahan ukuran tubuh, perubahan proporsi tubuh, perkembangan ciri-ciri seks primer dan perkembangan ciri-ciri seks sekunder.

1)        Perubahan ukuran tubuh

Perubahan fisik utama pada masa puber adalah perubahan ukuran tubuh dalam tinggi dan berat badan. Rata-rata tinggi anak laki-laki adalah sekitar 59 atau 60 inch (150 atau 152 cm) sedangkan tinggi anak perempuan sekitar 54 atau 55 inch (137 atau 140 cm).

Karena penambahan tinggi anak laki-laki dan anak perempuan selama masa remaja sekitar 9 atau 10 inch (22,5 atau 25 cm) dan pertumbuhan relatif sedikit, maka perempuan pada akhirnya lebih pendek dibanding laki-laki.

Bagi anak laki-laki, permulaan periode pertumbuhan pesat tinggi tubuh dimulai rata-rata pada usia 12,8 tahun dan rata-rata berakhir pada 15,3 tahun, dengan puncaknya pada empat belas tahun. Peningkatan tinggi badan yang terbesar terjadi setahun sesudah dimulainya masa puber.

Sesudahnya, pertumbuhan menurun dan berlangsung lambat sampai usia dua puluh atau dua puluh satu tahun. Karena periode pertumbuhan yang lebih lama, anak laki-laki lebih tinggi daripada anak perempuan pada saat sudah matang.

Pertambahan berat tidak hanya karna lemak, tetapi juga karena tulang dan jaringan otot bertambah besar. Jadi, meskipun anak puber dengan pesat bertambah berat, tetapi sering kali kelihatannya kurus dan kering. Pertambahan berat yang paling besar pada anak perempuan terjadi sesaat sebelum dan sesudah menstruasi.

Setelah itu pertambahan berat badan hanya sedikit. Bagi anak laki-laki, pertambahan berat badan maksimum terjadi setahun atau dua tahun setelah anak perempuan dan mencapai puncaknya pada usia enam belas tahun, setelah itu pertambahan berat badan hanya sedikit.

Percepatan pertumbuhan berat badan juga terjadi dalam penambahan berat badan, yakni sekitar 13 Kg bagi anak laki-laki dan 10 Kg bagi anak perempuan. Pertumbuhan ini lebih mudah dipengaruhi melalui diet, latihan dan gaya hidup umumnya.

Kegemukan selama masa puber bagi anak laki-laki dan anak perempuan tidaklah aneh. Antara usia sepuluh dan dua belas tahun, di sekitar permulaan terjadinya pertumbuhan pesat, anak cenderung menumpuk lemak di perut, di sekitar puting susu, di pinggul dan paha, di pipi, leher dan rahang.

Lemak ini biasanya hilang setelah kematangan masa puber dan pertumbuhan pesat tinggi badan dimulai, meskipun ada yang menetap sampai dua tahun lebih selama awal masa puber.

2)        Perubahan Proporsi Tubuh

Perubahan fisik pokok yang kedua adalah perubahan proporsi tubuh. Daerah-daerah tubuh tertentu yang tadinya terlampau kecil, sekarang menjadi terlampau besar karena kematangan tercapai lebih cepat dari daerah-daerah tubuh yang lain. Ini tampak jelas pada hidung, kaki dan tangan.

Barulah pada bagian akhir masa remaja seluruh daerah tubuh mencapai ukuran dewasa, meskipun perubahan besar terjadi sebelum masa puber usai.

Badan yang kurus dan panjang mulai melebar di bagian pinggul dan bahu, dan ukuran pinggang berkembang. Pada mulanya ukuran pinggang tampak tinggi karena kaki menjadi lebih panjang dari badan. Dengan bertambah panjangnya badan, ukuran pinggang berkurang sehingga memberikan perbandingan tubuh dewasa. Lebar pinggul dan bahu dipengaruhi oleh usia kematangan.

Anak laki-laki yang lebih cepat matang biasanya mempunyai pinggul yang lebih lebar daripada anak yang lebih lambat matang, dan anak perempuan yang lebih lambat matang mempunyai pinggul yang sedikit lebih besar daripada anak yang cepat matang.

Tidak lama sebelum masa puber, tungkai kaki lebih panjang daripada badan dan keadaan ini bertahan sampai sekitar usia lima belas tahun. Pada anak yang lambat matang, pertumbuhan tungkai kaki berlangsung lebih lama daripada anak yang cepat matang, sehingga tungkai kaki lebih panjang.

Tungkai kaki anak yang cepat matang cenderung pendek, gemuk sedangkan tungkai kaki yang lambat matang pada umumnya lebih ramping.

Pola yang sama terjadi pada pertumbuhan lengan, yang pertumbuhannya mendahului pertumbuhan pesat badan, sehingga tampaknya terlalu panjang. Seperti halnya dengan pertumbuhan tungkai kaki, pertumbuhan lengan dipengaruhi oleh usia kematangan.

Anak-anak yang cepat matang yang mempunyai tungkai kaki lebih pendek daripada tungkai kaki anak yang lambat matang. Sampai pertumbuhan lengan dan tungkai kaki mendekati sempurna, barulah tercapai perbandingan yang baik dengan tangan dan kaki, yang keduanya mencapai ukurannya kematangan pada awal masa puber.

2.        Perkembangan Kognitif

Pertumbuhan otak dan perkembangan kemampuan remaja awal, pertumbuhan otak anak wanita meningkat lebih cepat dalam usia 11 tahun dibandingkan pertumbuhan otak pria, tetapi pertumbuhan otak anak pria di usia 13 tahun meningkat 2 kali lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan pertumbuhan otak anak perempuan seusianya.

Selain itu terdapat pula bukti-bukti hasil penelitian yang menyimpulkan hal yang menyangkut pola dan cara berpikir remaja cenderung mengikuti orang dewasa yang telah menunjukkan kemampuan berpikirnya. Ini mengisyaratkan adanya sisi positif dari perkembangan kemampuan psikis remaja awal. Sisi positif pertumbuhan otak dan perkembangan kemampuan berpikir remaja, memanglah berimplikasi terhadap praktik-praktik pendidikan di sekolah.

Menurut teori Piaget ada dua perkembangan kognitif pada diri anak, yakni sebagai berikut.

  1. Anak sudah mulai berpikir secara abstrak dan hipotesis, anak mampu memikirkan sesuatu yang akan atau mungkin terjadi.
    1. Anak mulai berpikir secara sistematik, mampu memikirkan segala kemungkinan secara sistematik untuk memecahkan suatu masalah.

3.        Perkembangan Emosi (afektif)

Perkembangan (dua pertumbuhan) sikap, perasaan emosi, remaja awal, sikap perasaan/emosi seseorang telah ada 2 berkembang semenjak bergaul dengan lingkungan. Timbul sikap, perasaan/emosi itu (positif dan negatif) merupakan produk pengamatan dan pengalaman individu secara unik dengan benda fisik lingkungannya. Dengan orang tua dan saudara, serta pergaulan sosial yang lebih luas.

Perasaan yang sangat ditakuti remaja adalah takut dikucilkan atau tersindir dari kelompoknya. Rasa sedih merupakan sebagian emosi yang sangat menonjol dalam masa remaja awal. Sebaliknya perasaan gembira biasanya akan tampak manakala si remaja mendapat pujian, terutama pujian terhadap diri atau hasil usahanya.

4.        Perkembangan Sosial

Pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks dan perkembangan seksual remaja awal, pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks (gonads) remaja, sesungguhnya merupakan bagian integral dari pertumbuhan dan perkembangan jasmani secara menyeluruh. Lebih jauh lagi bahwa kematangan seksual dalam usia remaja awal dan paruh pertama remaja akhir mempunyai korelasi positif dengan perkembangan sosial mereka.

Hal semacam ini ditunjukkan oleh hasil penelitian James dan Moore terhadap remaja yang berusia antara 12-21 tahun dengan jumlah sampel 535 orang. Perkembangan perilaku seksual yang lebih bersangkutan dengan diri remaja, diantaranya yang sangat menonjol dan penting adalah onani atau masturbasi. Hal-hal seperti tentang seks ini tentu saja berpengaruh terhadap minat mereka pada sekolah atau pelajaran.

Pribadi diartikan sebagai organisme yang dinamis dalam sistem fisik dan psikis yang menentukan keunikan seseorang menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Remaja dengan citra dirinya, menilai diri sendiri dan menilai lingkungannya terutama lingkungan sosial misalnya remaja menyadari adanya sifat-sifat sikap sendiri yang baik dan buruk.

Moral adalah standar yang muncul dari agama dan lingkungan sosial remaja, memberikan konsep yang baik dan buruk, patut atau tidak, layak dan tidak layak secara mutlak.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan perkembangan sosial anak pada usia ini terlihat pada hal-hal berikut ini.

  1. Perubahan sikap dan perilaku, sebagaimana yang diistilahkan oleh Psikolog David Elkind dengan egosentrisme yakni kecenderungan remaja untuk menerima dunia dari perspektifnya sendiri.
  2. Munculnya perasaan-perasaan negatif pada diri anak
  3. Ingin melepas diri dari orang tua.
  4. Anak ingin menyamakan dirinya dengan orang dewasa.

Masalah yang Terjadi Pada Masa Puber (IPA Kelas 6 Tema 6 Subtema 3)

1.        Masalah Fisik

Hal yang dikhawatirkan adalah bentuk badan yang terlalu gemuk, kurus, pendek, tinggi. Wajah yang kurang tampan atau cantik.

a)        Gemuk dan Kurus

Pada masa ini lazimnya bagi anak-anak sekarang gemuk menjadi permasalahan dalam hidupnya, sehingga timbullah inisiatif yang sebenarnya merugikan bagi diri seorang anak. Seperti apa yang dikenal dengan istilah diet kata orang sekarang, yang salahnya dalam hal ini ialah terkadang anak-anak salam dalam memahami diet tersebut, sehingga untuk diet anak terkadang menahan-nahan makan.

Inilah yang berbahaya bagi seorang anak, yang diet karena makan yang tidak teratur sehingga menimbulkan bahaya yang kedua yaitu kurus, juga jadi masalah dalam kehidupan seorang anak. Jika diet atau kurusnya karena mengurangi pola makan.

b)        Pendek dan Tinggi

Pendek sering mengakibatkan timbulnya cemoohan dari teman-teman seorang anak, sehingga bahayanya berdampak pada psikologisnya.

2.        Masalah Psikologi

Dapat dimengerti bahwa akibat yang luas dari masa puber pada keadaan fisik anak juga mempengaruhi sikap dan perilaku. Namun ada bukti yang menunjukkan bahwa perubahan dalam sikap dan perilaku yang terjadi pada saat ini lebih merupakan akibat dari perubahan sosial daripada perubahan kelenjar yang berpengaruh pada keseimbangan tubuh.

Semakin sedikit simpati dan pengertian yang diterima anak puber dari orang tua, kakak-adik, guru-guru dan teman-teman, dan semakin besarnya harapan sosial pada periode ini, semakin besar akibat psikologis dari perubahan-perubahan fisik.

Perubahan masa puber terhadap sikap dan perilaku yang paling umum, paling serius, dan paling kuat seperti dipaparkan di bawah ini.

1.        Ingin Menyendiri

Kalau perubahan pada masa puber mulai terjadi anak-anak biasanya menarik diri dari teman-temannya dan dari berbagai kegiatan keluarga dan sering bertengkar dengan teman-teman dan anggota keluarga. Gejala menarik diri ini mencakup ketidakinginan berkomunikasi dengan orang-orang lain.

2.        Bosan

Anak puber bosan dengan permainan yang sebelumnya amat digemari, tugas-tugas sekolah, kegiatan sosial dan kehidupan pada umumnya. Akibatnya, anak sedikit sekali bekerja sehingga prestasi di berbagai bidang cenderung menurun.

3.        Inkoordinasi

Pertumbuhan pesat dan tidak seimbang mempengaruhi pola koordinasi gerakan dan anak akan merasa kikuk dan janggal selama beberapa waktu. Setelah pertumbuhan melambat, koordinasi akan membaik secara bertahap.

4.        Antagonisme sosial

Anak puber sering kali tidak mau bekerja sama, sering membantah dan menentang. Permusuhan terbuka antara dua jenis kelamin berlainan di ungkapkan dalam kritik dan komentar-komentar yang merendahkan. Dengan berlanjutnya masa puber, anak kemudian menjadi lebih ramah, lebih dapat bekerja sama dan lebih sabar kepada orang lain.

5.        Emosi yang meninggi

Kemurungan, merajuk, ledakan amarah dan kecenderungan untuk menangis karena hasutan yang sangat kecil merupakan ciri-ciri bagian awal masa puber. Pada masa ini anak merasa khawatir, gelisah dan cepat marah. Sedih, mudah marah suasana hati yang negatif sangat sering terjadi selama masa prahaid dan awal periode haid. Dengan semakin matangnya keadaan fisik, ketegangan mulai berkurang dan anak sudah mulai mampu mengendalikan emosinya.

6.        Hilangnya kepercayaan diri

Anak-anak yang tadinya sangat yakin pada diri sendiri, sekarang menjadi kurang percaya diri dan takut akan kegagalan karena daya tahan fisik menurun dan karena kritik yang bertubi-tubi dari orang tua dan teman-temannya. Banyak anak laki-laki dan perempuan setelah masa puber mempunyai perasaan rendah diri.

7.        Terlalu sederhana

Perubahan tubuh yang terjadi selama masa puber menyebabkan anak menjadi sangat sederhana dalam segala penampilannya karena takut orang lain akan memperhatikan perubahan yang dialaminya dan memberi komentar yang buruk.

Pada umumnya pengaruh masa puber lebih banyak pada anak perempuan dari pada anak laki-laki, sebagian disebabkan karena anak perempuan biasanya lebih cepat matang dari pada anak laki-laki dan sebagian karena banyak hambatan-hambatan sosial mulai di tekankan pada perilaku anak perempuan justru pada saat anak perempuan mencoba untuk membebaskan diri dari berbagai pembatasan.

Karena mencapai masa puber lebih dulu, anak perempuan lebih cepat menunjukkan tanda-tanda perilaku yang mengganggu dari pada anak laki-laki. Tetapi perilaku anak perempuan lebih cepat stabil dari pada anak laki-laki dan anak perempuan mulai berperilaku seperti sebelum masa puber.

Sementara itu, akibat psikologis juga timbul karena kebingungan yang berasal dari harapan sosial orang tua, guru dan orang lainnya. Anak laki-laki dan perempuan diharapkan berbuat sesuai dengan standar-standar yang pantas untuk usia mereka.

Hal ini relatif mudah kalau pola perilaku mereka terletak pada tingkat perkembangan yang sesuai. Namun anak yang kematangannya belum siap untuk memenuhi harapan-harapan sosial menurut usianya cenderung mengalami masalah.

Video Materi IPA Kelas 6 Tema 6 Subtema 3 “Pubertas Laki-laki dan Perempuan”

Video pembelajaran tematik muatan Materi IPA Kelas 6 Tema 6 Subtema 3 tentang Pubertas Laki-laki dan Perempuan di atas bisa kamu manfaatkan untuk memperjelas pemahaman kamu tentang materi ini. Jadi silakan pilih gaya belajar kamu ya….

Latihan Soal Materi IPA Kelas 6 Tema 6 Subtema 3 “Pubertas Laki-laki dan Perempuan”

Setelah mempelajari materi modul BDR Materi IPA Kelas 6 Tema 6 Subtema 3 tentang Pubertas Laki-laki dan Perempuan di atas silakan uji hasil belajar kamu menggunakan kuis online interaktif dengan link di bawah ini:

https://quizizz.com/join/quiz/5dd4b0460415b9001be5617d/start

Latihan Soal Materi IPA Kelas 6 Tema 6 Subtema 3 “Pubertas Laki-laki dan Perempuan”

Demikianlah modul online materi IPA Kelas 6 Tema 6 Subtema 3 tentang Pubertas Laki-laki dan Perempuan yang bisa kami sajikan. Semoga bermanfaat, selamat belajar dengan menyenangkan (maglearning.id).

Loading...

Tinggalkan Balasan