Penerapan Model Blended Learning dalam Pembelajaran

Penerapan Model Blended Learning dalam Pembelajaran

Penerapan Model Blended Learning dalam Pembelajaran – Manusia adalah makhluk yang berbeda, kodratnya demikian. Cara belajarnya berbeda pula. Dipercaya bahwa manusia belajar dengan baik melalui berbagai modalitas. Itulah sebabnya, dalam proses pembelajaran, dari dulu sampai sekarang selalu “blended”, artinya diramu sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan dengan mengombinasikan berbagai teori, strategi, metode dan media yang relevan.

Dalam konteks saat ini, blended learning bertambah luas lingkupnya tidak hanya “memb-blending” metode dan media dalam konteks pembelajaran konvensional saja tapi mengombinasikannya dengan pola pembelajaran berbasis teknologi informasi atau dikenal dengan istilah e-learning (baik secara online maupun offline).

Bagi sebagian pegiat pendidikan juga ada yang menyamakan dengan yang namanya hybrid learning. Namun, kita tidak perlu berdebat soal ini sekarang. Apa pun penyebutannya tidak jadi soal yang terpenting adalah filosofi dari blended learning ini adalah menyatukan berbagai keunggulan dari sumber daya pembelajaran sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien.

Kunci Penerapan Model Blended Learning dalam Pembelajaran

Secara sederhana Blended Learning adalah pembelajaran yang mengombinasikan antara tatap muka dengan online.

Jared M. Carmen, seorang Preseident Aglint Learning, menyebutkan lima kunci sebagai pedoman bagi kita dalam meramu resep yang tepat untuk blended learning yang akan kita lakukan. Apa sajakah gerangan? Mari kita lihat!

Kunci 1: Live Event

Pembelajaran langsung atau tatap muka (instructor-led instruction) secara sinkronous dalam waktu dan tempat yang sama (classroom) ataupun waktu sama tapi tempat  berbeda (seperti virtual classroom).  Bagi beberapa orang tertentu, pola pembelajaran langsung seperti ini masih menjadi pola utama. Namun demikian, pola pembelajaran langsung ini pun perlu didesain sedemikian rupa untuk mencapai tujuan sesuai kebutuhan. Pola ini, juga bisa saja mengombinasikan teori behaviorisme, kognitivisme dan konstruktivisme sehingga terjadi pembelajaran yang bermakna.

Kunci 2: Self-Paced Learning

Yaitu mengkombinasikan dengan pembelajaran mandiri (self-paced learning) yang memungkinkan peserta belajar belajar kapan saja, dimana saja dengan menggunakan berbagai konten (bahan belajar) yang  dirancang khusus untuk belajar mandiri baik yang bersifat text-based maupun multimedia-based (video, animasi, simulasi, gambar, audio, atau kombinasi dari kesemuanya). Bahan belajar tersebut, dalam konteks saat ini dapat didelivered secara online (via web maupun via mobile dovice dalam bentuk: streaming audio, streaming video, e-book, dll) maupun offline (dalam bentuk CD, cetak, dll).

Kunci 3: Collaboration

Melakukan kolaborasi dengan baik, baik kolaborasi pengajar, maupun kolaborasi antar peserta belajar yang kedua-duanya bisa lintas sekolah/kampus. Dengan demikian, perancang blended learning harus meramu bentuk-bentuk kolaborasi, baik kolaborasi antar teman sejawat atau kolaborasi antar peserta belajar dan pengajar melalui tool-tool komunikasi yang memungkinkan seperti chatroom, forum diskusi, email, website/webblog, listserv, mobile phone. Tentu saja kolaborasi diarahkan untuk terjadinya konstruksi pengetahuan dan keterampilan melalui proses sosial atau interaksi sosial dengan orang lain, bisa untuk pendalaman materi, problem solving, project-based learning, dll.

Kunci 4: Assessment

Tentu saja, dalam proses pembelajaran jangan lupakan cara untuk mengukur keberhasilan belajar (teknik assessment). Dalam blended learning, perancang harus mampu meramu kombinasi jenis assessmen baik yang bersifat tes maupun non-tes, atau tes yang lebih bersifat otentik (authentic assessment/portfolio) dalam bentuk project, produk dll. Disamping itu, juga pelru mempertimbangkan ramuan antara bentuk-bentuk assessmen online dan assessmen offline. Sehingga memberikan kemudahan dan fleksibilitas peserta belajar mengikuti atau melakukan assessmen tersebut.

Kunci 5: Performance Support Materials

Ini bagian yang juga jangan sampai terlupakan. Jika kita ingin mengombinasikan antara pembelajaran tatap muka dalam kelas dan tatap muka virtual, pastikan sumber daya untuk mendukung hal tersebut siap atau tidak, ada atau tidak.

Bahan belajar disiapkan dalam bentuk digital, apakah bahan belajar tersebut dapat diakses oleh peserta belajar baik secara offline (dalam bentuk CD, MP3, DVD, dll) maupun secara online (via website resemi tertentu). Atau, jika pembelajaran online dibantu dengan suatu Learning/Content Management System (LCMS), pastikan juga bahwa aplikasi sistem ini telah terinstal dengan baik, mudah diakses, dan lain sebagainya.

 

Contoh Penerapan Model Blended Learning

Blended Learning secara sederhana adalah pembelajaran yang mengombinasikan antara tatap muka dengan online. Dalam konteks perkuliahan adalah kombinasi antara kuliah tatap muka dengan online learning. Bagaimana blended learning terjadi? sebenarnya, apakah seorang dosen menerapkan blended learning atau tidak dapat dilihat dari silabusnya.

Penerapan blended learning menurut saya tidak terjadi begitu saja. Tapi, kita harus mempertimbangkan karakteristik tujuan pembelajaran yang ingin kita capai, aktivitas pembelajaran yang relevan serta memilih dan menentukan aktivitas mana yang relevan dengan konvensional dan aktivitas mana yang relevan untuk online learning.

Berikut adalah pengalaman saya dalam menerapkan blended learning. Secara umum, 1 SKS adalah 3 jam perkuliahan dalam satu minggu. Itupun terdiri dari sekian menit (60′) untuk tatap muka, 50′ untuk tugas terstruktur dan 50′ untuk tugas mandiri, kalau gak salah begitu. Nah mengacu pada sistem SKS tersebut, maka porsi blended learning kita tujukan untuk tugas terstruktur dan mandiri.

Tidak hanya itu, kita juga harus memilah dan memilih tujuan pembelajaran dan aktifitas perkuliahan seperti apa saja yang relevan dilakukan melalui online learning. Dengan demikian, kuliah tatap muka (60′) dalam seminggu itu bisa lebih difokuskan untuk pendalaman materi yang lebih bersifat, diskusi mendalam, studi kasus dan problem solving, hal-hal lain dilakukan secara online.

Mudah-mudahan pembaca dapat memberikan input, kritik dan saran. Karena, terus terang saya sedang menggali dan mencoba mencari model dan strategi yang tepat untuk penerapan model blended learning ini. (maglearning.id)

Loading...

Tinggalkan Balasan