Analisa Tulisan Tangan, Benarkah Bisa Dipercaya ?

Analisa Tulisan Tangan, Benarkah Bisa Dipercaya ?

Analisa Tulisan Tangan – Kita semua sudah jarang menulis di kertas. Maklum sudah zaman canggih, jadi tulis-tulisan dikerjakan dengan komputer. Namun soal urusan tulisan tangan ternyata ada orang yang menghubung-hubungkan dengan sifat-sifat atau karakter tertentu. Benarkah demikian? Mari kita cek.

Grafologi dihubung-hubungkan dengan ajaran dari Freud dan Jung yang mengatakan kalau ketidaksadaran manusia dapat terproyeksi ke dalam berbagai hal. Mulailah orang mencocologi banyak hal yang misterius dari pikiran manusia sebagai produk alam bawah sadar ini.

Begitu juga tulisan tangan. Akarnya dari keyakinan kalau tulisan tangan manusia merupakan proyeksi dari kepribadian seseorang. Lumayan masuk akal, tulisan yang kita buat merupakan hasil koordinasi gerak motorik dan syaraf-syaraf di otak, baik pengendali motorik maupun pikiran. Jadi mungkin saja, alam bawah sadar itu ikut serta dalam sinyal-sinyal syaraf di otak dan tertuang ke kertas.

Bagaimana Analisa Tulisan Tangan Anda ?

Nama kerennya grafologi. Ia sudah kontroversial selama lebih dari satu abad. Walaupun pendukungnya menunjukkan bukti anekdotal dari ribuan kesaksian positif sebagai alasan untuk menggunakan untuk evaluasi kepribadian, sebagian besar studi empiris gagal menunjukkan keabsahan yang diklaim oleh para pendukungnya.

Di Perancis, berbagai perusahaan menggunakan aneka “ologi” untuk proses rekrutmennya, mulai dari astrologi (horoskop) hingga numerologi. Daniel Jouve, seorang konsultan rekrutmen di Paris, mengatakan kalau ia mengetahui sebuah perusahaan yang menambahkan angka plat mobil pelamar kerja dan memilih mereka yang memiliki “angka ajaib.” Dan dari sekian banyak ologi yang dipakai perusahaan, yang terbanyak digunakan adalah grafologi ini.

Dalam grafologi, keyakinan inilah yang berkembang:

  1. Orang sensitif dan berbakat seni, tulisan huruf U dan W membulat ke bawah.
  2. Orang kurang ambisius, garis horizontal di huruf T memotong garis vertikal di tengah atau agak ke atas.
  3. Orang yang sia-sia dan tidak berguna membuat lingkaran di ujung atas huruf C.
  4. Orang yang menyembunyikan sesuatu menulis huruf A dan O dengan sangat rapat.
  5. Orang yang punya catatan kriminal menulis huruf dengan banyak lingkaran dan tidak pernah lurus (contohnya huruf y dengan ujung bawah dibulatkan)
  6. Orang yang sangat menderita secara batiniah menghubungkan huruf-huruf yang seharusnya tidak berhubungan karena tarikannya jatuh ke bawah.
  7. Orang yang kekanak-kanakan tulisannya sedikit tidak beraturan.

Demikian sekilas analisa grafologi. Kita lanjutkan ya…

Analisa Kemiringan Tulisan Tangan

Grafolog menghubung-hubungkan karakter dengan kemiringan huruf, ukuran huruf, kelengkungan, kebulatan, dan bahkan tampilan non grafis seperti tekanan tulisan naik dan turun. Dalam sebagian besar sistem, kemiringan huruf sangat penting.

Miring ke kanan katanya ekstrovert (suka bergaul) sementara miring ke kiri katanya introvert (suka menyendiri). Bentuk huruf “t” terlihat penting dalam semua sistem. Buku paket grafolog karya M.N. Bunker mengandung kamus tanda khusus dan korelasinya dengan kepribadian, seperti “kebanggaan: huruf d batangnya tinggi, huruf t batangnya tidak vertikal.”

Sistem lain dari Billie Pesin Rosen mendefinisikan 16 faktor, termasuk faktor grafis seperti kemiringan, spasi dan ukuran huruf, serta tampilan global seperti irama dan tempo. Sheila Kurtz menggunakan tampilan tulisan tangan seperti kemiringan, tekanan dan pembentukan t untuk menciptakan berkas grafo subjek, yang katanya dapat mengungkapkan pola pikirnya, orientasinya pada tujuan, rasa takut, pertahanan diri, integritas dan skill sosial.

Grafolog memilih contoh tulisan tangan yang spontan dimana penulisnya tidak sadar kalau tulisannya akan dianalisa (itu mengapa anda kadang kalau melamar kerja diminta menulis dengan tulisan tangan). Mereka memilih teks dengan panjang tertentu, ditulis dengan alat yang sensitif tekanan dan kecepatan. Grafolog ingin sebuah teks dengan bahan biografis jika mungkin, dan mereka ingin tahu usia dan jenis kelamin penulisnya. Hasil analisa adalah deskripsi kepribadian penulis tersebut.

Sejarah Analisa Tulisan Tangan dan Penalarannya

Sejarah ringkas grafologi atau analisa tulisan tangan menunjukkan kalau disiplin ini tidak didirikan oleh mereka yang menggunakan metode ilmiah untuk menentukan korelasi antara aspek-aspek tulisan tangan dan kepribadian. Mazhab sifat berawal dari Perancis pertengahan 1800an, mengklaim  mampu mengenali kepribadian dengan atribut individual tulisan tangan (misalnya kemiringan, kelebaran tulisan, dsb). Praktisi mazhab ini tidak menawarkan dukungan atas klaim mereka, mereka semata memasangkannya begitu saja.

Topangan yang diambil grafologi berasal dari prinsip kuno kalau sesuatu yang mirip pasti berkorelasi, dan telah lama dipakai dalam astrologi (“Tahun dimana Planet Mars muncul adalah tahun penuh kekerasan dan peperangan karena Mars berwarna merah, seperti darah”). Begitu juga, grafologi, orang yang membuat tulisan cenderung menghadap ke depan adalah orang yang optimis, yaitu orang yang berpandangan ke depan.

Anda bisa melihat kacaunya penalaran ini jika mencoba mencocologikan dengan hal lain. Ambil contoh, buku ini covernya jelek, berarti pengarangnya berwajah jelek. Tidak ada hubungannya kan?

Mazhab Gestalt (bukan mazhab Gestalt dalam psikologi akademik) lahir di Jerman tahun 1910 sebagai respons pada mazhab sebelumnya. Kita menduga kalau oposisi ini akan didirikan pada apresiasi terhadap metode statistik baru untuk menguji korelasi, seperti yang dikenalkan Galton dan Pearson di Inggris, namun ternyata tidak demikian. Justru mazhab Gestalt mempertahankan keyakinan yang lebih kabur lagi. Mereka percaya kalau penafsiran grafologis harus dibuat berdasarkan tulisan tangan secara keseluruhan, sehingga memberi ruang bagi intuisi.

Mengapa tidak menggabungkan keduanya? Dan Bunker, tahun 1929, mendirikan mazhab Graphoanalysis. Kembali, gerakan ini semata memperluas kesempatan untuk analis tulisan tangan mengatakan apa pun yang terdengar masuk akal.

Kesimpulan

Analisa tulisan tangan hanyalah pseudosains. Banyak bukti ilmiah yang menunjukkan tidak adanya korelasi antara tulisan tangan dan kepribadian. Sementara itu, tidak ada usaha sama sekali bagi para pendukung analisa tulisan tangan untuk menggunakan teknik statistik yang lebih baik, seperti Spearman dan Thurstone, yang teknik analisa faktor dan korelasinya dipergunakan sekarang oleh semua ilmuwan ortodoks dalam bidang psikologi diferensial (studi variasi individu dalam bakat dan kepribadian).

Sangat tidak etis untuk menggunakan prosedur yang telah gagal berulang kali dalam uji ilmiah pada validitasnya, terutama untuk mengambil keputusan penting yang dapat menghasilkan kerugian yang tidak adil bagi orang lain. Penggunaannya dalam penerimaan pelamar pekerjaan harusnya dihentikan dan pelamar kerja dinilai dari kemampuannya, bukan dari tulisan tangannya.

Nah, demikianlah bahasan sederhana kami mengenai analisa tulisan tangan. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi di lain kesempatan (maglearning.id).

Loading...

Tinggalkan Balasan