APA ITU PENELITIAN FENOMENOLOGI?

Pendekatan fenomenologi berhubungan dengan pemahaman tentang bagaimana keseharian seseorang sebagai obyek penelitian dan tentang dunia kehidupan seseorang. Pendekatan ini membahas tentang pengalaman nyata apa yang telah dilalui seseorang dan bagaimana orang tersebut dapat memaknai pengalaman tersebut. Studi ini bertujuan untuk menginterpretasikan tindakan sosial seseorang dan orang lain sebagai sesuatu yang bermakna.

Studi fenomenologi ini merupakan salah satu model yang ada dalam metode penelitian kualitatif. Penelitian ini akan berdiskusi tentang suatu objek kajian dangan memahami inti pengalaman dari suatu fenomena. Peneliti akan mengkaji secara mendalam tentang sebuah isu sentral dari struktur utama suatu objek kajian dan selalu bertanya “bagaimana pengalaman utama yang akan dijelaskan informan tentang subjek kajian penelitian”.

Peneliti mulai mengkaji ide yang menggambarkan tema utama. Kemudian peneliti menginterpretasikan apa yang dialami oleh informan, melihat bagaimana mereka melalui suatu pengalaman, kehidupan dan memperlihatkan fenomena serta mencari makna dari pengalaman informan.

Penelitian fenomenologi mencoba mengungkap atau menjelaskan makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Fenomenologi harus dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji dan peneliti bebas untuk menganalisi data yang diperoleh.

Penelitian fenomenologi ini sebenarnya mempertahankan tentang esensi dari sebuah pengalaman itu sendiri. Istilah esensi tidak menggambarkan apa arti sebuah fenomena, namun menggambarkan makna yang telah kita peroleh dari kejadian-kejadian di dunia.

Apa Yang Dibahas dalam Fenomenologi?

Fenomenologi membahas pertanyaan tentang pengalaman manusia yang umum. Seorang peneliti fenomenologi diminta untuk mempelajari suatu hal, misalnya integrasi anak-anak berkebutuhan khusus ke kelas reguler yang saat ini mulai banyak diterapkan di Indonesia melalui pendidikan inklusi. Analisis akan berfokus pada pertanyaan sebagai berikut:

  • “Bagaimana arti pengalaman ini bagi pihak-pihak yang terlibat: anak-anak berkebutuhan khusus, siswa lain, dan guru”.
  • “Apakah rencana integrasi itu merupakan masalah yang penting; bagaimana para siswa dan guru mengalaminya”.
  • “Sebuah studi fenomenologis berfokus pada esensi atau struktur sebuah pengalaman”.

Peneliti fenomenologi biasanya tertarik untuk menunjukkan bagaimana makna kompleks dibangun dari hal-hal sederhana melalui pengalaman langsung. Dalam proses penelitian fenomenologis, peneliti harus terlebih dahulu mengidentifikasi sebuah masalah yang ada untuk lebih memahami tema-tema atau konteks-konteks sebagai dasar penyebab munculnya fenomena.

Teknik pengumpulan data yang digunakan biasanya adalah melalui wawancara. Data wawancara biasanya dikumpulkan dari orang-orang yang telah mengalami fenomena tersebut, namun sumber data lainnya dapat digunakan seperti pengamatan, seni, puisi, musik, jurnal, drama, film, dan novel.

Pertanyaan utama dalam pendekatan ini adalah “Pengalaman apa yang telah responden alami berhubungan dengan fenomena yang telah disuguhkan oleh peneliti?”. Untuk teknik analisis dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi pernyataan atau sitasi yang tidak penting (disebut horisontalisasi) dan dari kelompok makna dan tema yang berkembang.

Ada dua teknik untuk mendeskripsikan penelitian fenomenologi ini. Teknik yang pertama yaitu teknik deskripsi tekstual yang digunakan untuk menjelaskan apa yang dialami, sedangkan teknik kedua adalah teknik deskripsi struktural digunakan untuk menjelaskan konteks yang memengaruhi pengalaman, bagaimana pengalaman itu bisa didapat, dalam kondisi dan situasi apa pengalaman tersebut didapat.

Loading...

Setelah memeriksa deskripsi dan pengalaman peneliti itu sendiri, deskripsi komposit atau ringkas ditulis untuk menyampaikan esensi keseluruhan dari fenomena tersebut. Ini juga disebut sebagai struktur esensial atau invarian.

Berikut ini adalah contoh topik yang banyak dipelajari oleh studi fenomenologi:

  1. Arti penuaan
  2. Bagaimana anak memikirkan lingkungan
  3. Kecemasan matematika
  4. Pengalaman insomnia
  5. Malu
  6. Sakit kronis
  7. Kekecewaan dalam hubungan guru-murid
  8. Perundungan
  9. Kesendirian
  10. Pengalaman belajar bahasa asing

Responden dan Metode Pengumpulan Data

Dalam memilih responden untuk studi fenomenologis ini dipilih melalui pengalaman mereka yang telah terlebih dahulu diselidiki oleh peneliti. Dan sebagai peneliti, kita juga harus memilih responden yang ekstrovert, responden dapat berbagi pemikiran dan perasaan mereka tentang pengalman yang mereka alami.

Yang membedakan dalam metode pengumpulan data di studi fenomenologis adalah wawancara pribadi dan wawancara tidak terstruktur. Wawancara yang dilakukan bisa saja memakan waktu yang panjang bisa 1 atau 2 jam dalam sekali wawancara dan mungkin saja bisa lebih dari satu wawancara dengan masing-masing responden. Dalam pengambilan data, biasanya peneliti mewawancari 10 sampai 25 responden yang berasal dari satu kelompok atau kelompok yang berbeda.

Manusia adalah satu-satunya alat pengumpulan data yang cukup beragam dan cukup kompleks untuk menangkap elemen penting dari pengalaman manusia. Karena pentingnya wawancara dalam penelitian ini, maka pertanyaan yang digunakan perlu difokuskan pada makna dan dirancang untuk mendapatkan “esensi” pengalaman dari perspektif para peserta. Dalam mewawancarai para peserta pewawancara dituntut harus dapat mendengarkan, bertanya bila diperlukan, dan mendorong responden untuk memperluas dan menguraikan ingatan mereka tentang pengalaman tersebut.

Sebelum melakukan wawancara biasanya para peneliti fenomenologi mengeksplorasi pengalaman mereka sendiri yang berkaitan dengan topik yang diminati sebelum melakukan wawancara, tujuannya untuk meningkatkan asumsi mereka sendiri dan juga untuk memancing ingatan responden agar peneliti mendapatkan informasi lebih banyak.

Loading...

Konsep bracketing digunakan dalam penelitian fenomenologis yang melibatkan para peneliti dengan sengaja menyisihkan pengalamannya sendiri, menangguhkan keyakinannya sendiri untuk mengambil perspektif baru berdasarkan data yang didapatkan dari orang-orang yang mengalami fenomena tersebut. Istilah ini dipinjam dari matematika dan digunakan oleh Husserl, “Bapak Fenomenologi” yang merupakan seorang matematikawan.

Dari analisis data wawancara tersebut, kemudian peneliti menulis deskripsi pengalaman peserta dan bagaimana pengalaman yang dirasakan. Hal ini dilakukan melalui proses yang disebut reduksi. Reduksi ini dapat dikatakan sebagai cara untuk menghubungkan. Hal ini adalah perangkat fenomenologis yang bertujuan untuk membawa aspek makna ke dalam fokus penelitian kita.

Fenomenologi tidak sama dengan fenomenografi, walaupun perbedaannya sulit dipahami oleh para peneliti pemula. Fenomenografi berakar pada serangkaian studi pembelajaran di kalangan mahasiswa di tahun 1970an tentang mengapa beberapa siswa lebih baik belajar daripada melakukan hal yang lain.

Fenomenologi berakar pada metode filosofis dan melibatkan pemahaman tentang inti fenomena, sedangkan fenomenografi memiliki orientasi empiris yang berbeda yang berfokus pada penyelidikan pengalaman orang lain dan persepsi selanjutnya tentang fenomena tersebut dan hubungan mereka pada fenomena tersebut. Kedua pendekatan tersebut sama-sama menyelidiki pengalaman manusia.

Tinggalkan Balasan