Etika Berdagang dalam Islam

Etika Berdagang dalam Islam

Loading...

Etika Berdagang dalam Islam cukup penting kita perhatikan. Baik sebagai pedagang maupun pembeli. Berdagang merupakan sebuah aktivitas mulia yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Bahkan, beliau adalah seorang pedagang yang tersohor namanya. Profesi ini sudah dilakoni Rasulullah sejak beliau masih remaja.

Dalam Islam, berdagang tak hanya soal untung dan rugi, melainkan lebih dari itu. Dan hal ini telah dicontohkan oleh sosok mulia, baginda Rasul Muhammad saw. Ada banyak etika dalam berdagang yang meski kita pelajari dan kita aplikasikan ketika terjun di dunia bisnis.

Dalam hal ini, Rasulullah bersabda melalui Rifa’ah bin Rafi’, apakah pekerjaan yang paling afdhal (paling baik)? Rasulullah menjawab, yakni pekerjaan seseorang dari hasil tangannya sendiri, dan setiap jual beli yang mabrur.  Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bazzar kemudian dishahihkan oleh al-Hakim.

Dari hadis tersebut dapat kita lihat, bahwa Rasulullah menganjurkan setiap kita, setiap Muslim untuk berusaha keras dalam mencari rezeki Allah, dan penjelasan mengenai pekerjaan yang paling baik, yakni berdagang. Maka, dalam hal apa pun, terutama berdagang, sudah sepatutnya kita meniru etika beliau.

Sebelum mengetahui etika Rasulullah ketika berdagang, Anda harus tahu dulu, apa sih jual beli itu? Jadi, jual beli merupakan transaksi yang dilakukan oleh dua dengan cara tukar menukar, suatu barang dengan yang lainnya yang didasarkan dengan cara atau akad tertentu. Dan hukum asal dari kegiatan ini adalah diperbolehkan, halal.

Etika berbisnis Rasulullah

Etika yang sudah dilakukan Rasulullah ketika berdagang adalah akhlak yang terbaik yang pernah ada. Maka, ketika Anda menerapkan etika yang dicontohkan beliau, tentu bisnis yang Anda jalankan telah sesuai dengan ketentuan dalam Islam, sehingga semua transaksi yang terjadi sudah dijamin kebenarannya.

Nah, ada apa saja etika berdagang dalam Islam yang telah dicontohkan oleh Rasulullah? Yuk simak penjelasannya berikut.

  • Jujur

Kita tak hanya diperintahkan untuk jujur ketika berbicara, tapi harus jujur dalam berdagang. Kejujuran merupakan hal paling penting dan mendasar dalam transaksi jual beli. Tak heran jika Rasulullah mewajibkan kita untuk menerapkannya.

Rasulullah melarang keras kita untuk melakukan transaksi jual beli yang dilandaskan dengan penipuan, karena jual beli yang terdapat unsur penipuan di dalamnya tentu akan merugikan satu belah pihak.

Ada bagian yang mungkin sangat sulit untuk Anda ‘terbuka’ atau jujur dengan calon pembeli. Apa itu? Yakni kondisi barang. Berapa banyak pedagang yang menutupi cacat barang dagangannya hingga membuat pembeli kecewa? Bukankah ini juga merupakan penipuan?

Maka mulai sekarang, jelaskan kondisi barang yang Anda jual, karena jika ada cacat namun Anda tutupi itu juga bagian dari kebohongan.

  • Mengedepankan Aspek Sosial

Etika yang kedua adalah mengedepankan aspek sosial. Sebagaimana sudah dijelaskan di atas, bahwa jual beli dalam Islam bukan hanya persoalan untung dan rugi saja, seperti yang dianut oleh ekonomi kapitalis. Namun, ada banyak nilai-nilai lain yang harusnya menjadi fokus utama dalam berdagang, salah satunya ya dengan mengedepankan aspek sosial. Anda harus berusaha memberikan kemudahan semaksimal mungkin untuk orang lain yang akan membeli barang dagangan Anda. Selain itu, Anda juga sebisa mungkin harus memberikan sedekah kepada orang lain yang memang membutuhkan.

  • Amanah dan Profesional

Jadilah seorang pedagang yang amanah dan profesional. Agar dagangan Anda bisa laris, salah satu hal yang meski Anda terapkan adalah sikap amanah. Sikap ini memiliki kaitan erat dengan jujur. Jika seseorang itu jujur, maka sudah tentu ia amanah. Allah telah memerintahkan kita untuk menyampaikan amanah.

Paling tidak, tiga etika di atas harus Anda miliki ketika melakukan proses dagang. Semoga bermanfaat dan membuat kita lebih menyadari eksistensi dari berdagang. Salam belajar menyenangkan untuk siapa saja dan di mana saja (maglearning.id).

Loading...

Tinggalkan Balasan