Strategi Mengelola Risiko Valas Perusahaan

Strategi Mengelola Risiko Valas Perusahaan

Strategi Mengelola Risiko Valas Perusahaan – Kondisi pasar yang terus mengalami perubahan menuntut bisnis untuk selalu siap dalam menghadapinya. Bagi perusahaan MNC atau perusahaan yang dalam transaksinya menggunakan mata uang asing, perubahan nilai tukar dapat mengakibatkan dampak yang signifikan. Sehingga, sangat penting bagi bisnis untuk memahami exposure yang disebabkan oleh valuta asing, dan mengelolanya dengan baik.

Risiko valas (valuta asing) bisa berasal dari beberapa sumber, antara lain transaction, translation dan economic exposures.

Transaction exposure

Transaction exposure merupakan risiko yang dihadapi oleh perusahaan ketika melakukan transaksi dengan pihak lain, baik itu supplier, pelanggan, ataupun pihak lainnya dengan menggunakan mata uang asing. Sehingga, perusahaan yang terlibat transaksi ini terekspos terhadap risiko perubahan nilai valas di masa depan. Perusahaan yang melakukan jual beli dengan denominasi mata uang asing menghadapi transaction exposure ini.

Misalnya, perusahaan importir A yang berbasis di Indonesia, punya utang ke suppliernya perusahaan B yang berbasis di AS dalam mata uang dollar. Perusahaan A mengalami ketidakpastian karena ketika mereka harus membayar utangnya di masa depan nilai tukar bisa berubah.

Operating exposure

Operating exposure, biasa disebut juga dengan economic exposure atau strategic exposure, yakni mengukur perubahan pada present value yang diterima oleh perusahaan akibat perubahan pada arus kas operasi perusahaan di masa depan, yang disebabkan oleh perubahan yang tidak terduga pada nilai tukar. Exposure ini mengakibatkan penjualan turun dari pelanggan internasional. Meskipun dampaknya tidak muncul di neraca, namun munculnya di laporan laba/rugi, sehingga kemudian mempengaruhi daya saing perusahaan di pasar.

Transaction dan operating exposure sama-sama muncul ketika adanya perubahan yang tidak terduga dalam arus kas di masa depan. Lalu apa bedanya transaction dengan operating exposure? Transaction exposure muncul dari arus kas masa depan yang kontraknya sudah disepakati sejak sekarang, sementara itu operating exposure arus kas-nya tidak terkait dengan kontrak.

Translation Exposure

Sementara itu, translation atau accounting exposure muncul karena laporan keuangan dari cabang asing yang dalam mata uang asing, harus dikonversi ke dalam reporting currency perusahaan induk untuk membuat laporan keuangan konsolidasi.. Misalnya, laporan keuangan dari cabang yang menggunakan mata uang asing dikonsolidasikan ke laporan keuangan perusahaan induk ke dalam mata uang lokal.

Translation exposure ini dapat mengakibatkan perubahan pada item-item neraca seperti utang dan piutang, juga aset dan utang jangka panjang.

 

Strategi Mengelola Risiko Valas (Foreign Exchange Risk)

Transaction exposure dapat diatasi dengan beberapa cara, antara lain contractual, operating dan financial hedge. Contractual hedge ini meliputi kontrak forward, future, dan option. Sementara itu operating dan financial hedge meliputi penggunaan risk-sharing agreement, leads & lags, swap, dan strategi lainnya yang juga digunakan untuk mengatasi operating exposure.

Forward hedge

Cara yang paling sederhana dalam menghilangkan transaction exposure adalah dengan melakukan forward hedge. Forward hedge memungkinkan perusahaan untuk mematok nilai valas untuk masa depan, yang sudah ditentukan sejak hari ini. Kontrak forward pada umumnya dilakukan dengan pihak bank sebagai counterparty.

Misalnya, sebuah perusahaan AS mengekspor ke Eropa, dan akan menerima pembayaran sebesar €50,000 dalam 90 hari ke depan. Misalnya spot rate saat ini adalah $1.2790/€, sementara 3-month forward rate adalah $1.2850/€. Dengan melakukan forward hedge, maka dalam 3 bulan mendatang perusahaan AS akan menerima €50,000 dan menukarkannya pada rate $1.2850/€, dan menerima $64,250. Dengan melakukan forward hedge berarti transaction exposure tereliminasi. Tanpa melakukan hedging, maka perusahaan terekspos oleh risiko pergerakan mata uang asing, bisa gain ataupun loss.

Futures hedge

Konsep dalam forward dan futures hedge pada dasarnya sama, yang berbeda adalah mekanismenya. Jika forward maka counterparty adalah bank, maka dalam futures ada perantara yakni clearing exchange. Kelemahan dari metode ini adalah penggunaan marked to market, sehingga dalam pergerakan harian bisa tercipta gain ataupun loss, dan jika margin tidak cukup kuat, maka bisa terkena call margin.

Money market hedge

Hedging di pasar uang yakni aktivitas lindung nilai untuk utang maupun piutang di masa depan, dengan cara mengambil posisi di pasar uang. Money market hedge meliputi aktivitas meminjam dan berinvestasi dengan mata uang yang berbeda.

Misalnya, jika sebuah perusahaan di Eropa punya piutang sebanyak $100,000, maka terekspos risiko jika nantinya Dollar melemah terhadap Euro. Untuk mengeliminasi risiko tersebut, maka perusahaan bisa mengambil pinjaman dalam Dollar, menukarnya ke Euro, kemudian berinvestasi pada pasar uang. Selanjutnya hasil pembayaran piutang tersebut akan digunakan untuk melunasi pinjaman.

Currency option hedge

Hedging menggunakan option yakni dengan menggunakan hak beli atau hak jual sejumlah mata uang asing pada tingkat harga tertentu untuk melakukan lindung nilai. Hedging options memungkinkan perusahaan untuk melindungi risiko pergerakan mata uang asing yang tidak diharapkan, juga memungkinkan perusahaan untuk menangguk untung.

Diversifikasi

Salah satu cara sebagai strategi mengelola dan mengatasi risiko valas operating exposure adalah dengan melakukan diversifikasi baik dalam hal operasi maupun finansial. Diversifikasi operasi berarti mendiversifikasikan penjualan, lokasi fasilitas produksi, serta sumber bahan baku. Sementara itu, diversifikasi finansial berarti meraih pendanaan lebih dari satu pasar modal dan lebih dari satu mata uang.

Leads & Lags

Transaction dan operating exposure dapat diperkecil dengan cara mempercepat ataupun menunda pembayaran atau penerimaan dalam mata uang asing. Lead adalah membayar lebih cepat, sementara lag adalah membayar lebih lambat. Perusahaan yang memegang soft currency (mata uang yang berpotensi depresiasi) atau punya utang denominasi dalam hard currency (mata uang yang berpotensi apresiasi) akan melakukan lead menggunakan soft currency untuk membayar hard currency secepatnya.

Sementara itu, perusahaan yang memegang hard currency atau punya utang denominasi soft currency akan melakukan lag menggunakan hard currency, dengan harapan di masa depan dia bisa membayar dengan jumlah lebih sedikit.

Risk-Sharing

Alternatif lainnya yang dalam digunakan untuk mengelola exposure adalah dengan melakukan kesepakatan risk-sharing antara kedua belah pihak antara penjual dan pembeli. Jadi, keduanya bersepakat untuk membagi dampak perubahan nilai tukar terhadap pembayaran arus kas yang bakal terjadi antar keduanya. Risk sharing ini sangat bermanfaat bagi dua pihak yang ingin menjalin hubungan kerja dalam jangka panjang.

Matching Cash Flow

Hedging yang alami dapat dilakukan dengan matching cash flow, yakni menyesuaikan antara arus kas masuk dan keluar dalam denominasi tertentu. Contohnya adalah perusahaan AS yang mengekspor ke Kanada, dan mengirim invoice dalam dollar Kanada untuk pembayaran sebulan ke depan.

Sehingga, sebulan ke depan tentu perusahaan AS ini mengalami exposure akibat ketidakpastian arus kas yang diterimanya jika nilai tukar berubah. Oleh karena itu, perusahaan AS ini dapat melakukan hedging alami dengan menyesuaikan pemasukan di masa depan ini dengan pengeluaran dalam dollar Kanada juga.

Back-to-Back Loan

Back-to-back loan, atau biasa juga disebut dengan credit swap, melibatkan dua bisnis yang berada dalam dua negara berbeda untuk saling meminjam dalam mata uang pihak lainnya untuk periode tertentu.

Misalnya, perusahaan induk di Inggris ingin berinvestasi pada afiliasinya di Belanda, sementara itu, ada pula sebuah perusahaan induk di Belanda ingin berinvestasi di Inggris. Supaya tidak terekspos terhadap risiko nilai tukar, maka perusahaan induk di Inggris dapat memberi pinjaman dalam poundsterling ke perusahaan afiliasi Belanda yang di Inggris, sementara perusahaan induk Belanda dapat memberi pinjaman dalam euro kepada perusahaan afiliasi Inggris yang terletak di Belanda.

Kedua pinjaman ini punya nilai yang setara sesuai dengan spot rate, dan punya jatuh tempo yang sama. Ketika jatuh tempo, pinjaman tersebut dikembalikan tanpa harus terekspos risiko valas.

Currency Swap

Dalam sebuah currency swap, swap dealer yang biasanya bank sepakat untuk menukar jumlah yang sama dari dua mata uang yang berbeda selama periode waktu tertentu. Jadi, misalnya perusahaan Jepang melakukan ekspor ke AS dan memperoleh pemasukan dalam bentuk dollar AS.

Supaya tidak terekspos terhadap risiko valas, maka mereka melakukan currency swap, sehingga mereka dapat menukar penerimaannya dalam bentuk dollar dengan penerimaan dalam bentuk yen. Dalam currency swap ini, biasanya pihak satu tidak mengetahui siapa pihak lawan, karena bank bertindak sebagai perantara yang mengatur semuanya.

Balance sheet hedge

Balance sheet hedge merupakan hedging neraca yang dilakukan untuk mengatasi translation atau accounting exposure. Balance sheet hedge, membutuhkan jumlah yang sama antara aset dan utang yang terekspos risiko dalam neraca konsolidasi, sehingga net exposure-nya menjadi nol. Perubahan nilai tukar dalam utang yang terekspos risiko akan mengakibatkan dampak yang sebaliknya terhadap perubahan aset yang terekspos risiko.

Strategi hedging yang dapat dilakukan untuk mengurangi translation exposure adalah:

  • meningkatkan hard-currency, atau aset yang berpotensi untuk mengalami apresiasi
  • menurunkan soft-currency, atau aset yang berpotensi untuk mengalami depresiasi
  • menurunkan utang hard-currency
  • meningkatkan utang soft-currency

 

Demikian adalah sejumlah strategi dalam mengelola dan mengatasi berbagai exposure terhadap risiko valas (valuta asing). Analisa yang mendalam diperlukan sebelum mengambil keputusan hedging, dan memilih jenis hedging. Perusahaan yang dalam kegiatannya aktif menggunakan valuta asing perlu untuk menerapkan strategi-strategi ini demi meminimalisir risiko sehingga mendukung dalam pencapaian tujuan perusahaan / organisasi.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam sukses selalu (maglearning.id).

Loading...

Tinggalkan Balasan