Metode Penelitian Evaluatif

Evaluasi adalah proses yang digunakan untuk menentukan apa yang telah terjadi atau selama diberikan kegiatan di sebuah institusi. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat apakah suatu program tertentu sudah bekerja, apakah tujuan sebuah institusi berhasil dicapai sesuai dengan yang telah ditetapkan, atau apakah niat awal sedang dilaksanakan dengan baik.

Penelitian evaluatif biasanya bertujuan untuk melakukan evaluasi utilitas sosial, keinginan, atau efektivitas dari suatu proses, produk, atau program, dan juga terkadang termasuk rekomendasi tindakan.

Penelitian di sekolah biasanya merupakan studi evaluasi. Misalnya evaluasi produk dan program pendidikan untuk menentukan keefektifannya dalam mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Penelitian ini seringkali menghasilkan rekomendasi konstruktif untuk dilaksanakan dalam meningkatkan efektivitas atau pencapaian tujuan.

Studi Evaluatif

Berbagai asosiasi profesional di Amerika Serikat dan Kanada (termasuk AERA dan APA) membentuk Komite Bersama Standar Evaluasi Pendidikan yang menerbitkan Standar Program Evaluasi. Ada 30 standar untuk melakukan evaluasi pendidikan yang dibagi menjadi “empat atribut penting yaitu: utilitas, kelayakan, kepatutan, dan akurasi.

Standar utilitas mempunyai tujuh standar sebagai pedoman evaluasi yang mendorong institusi menjadi informatif, tepat waktu, dan berpengaruh. Bagaimana institusi memperkenalkan diri kepada audiens mereka, memastikan kebutuhan informasi audiens mereka, rencana, dan laporan informasi yang relevan dengan jelas.

Standar kelayakan memperhitungkan bahwa evaluasi dilakukan dalam suatu pengaturan yang alami. Karena itu desain evaluasi harus bisa dioperasikan dalam pengaturan lapangan, dan tidak boleh menggunakan banyak sumber daya, materi, personil, atau waktu.

Standar Kepatutan mencerminkan fakta bahwa evaluasi mempengaruhi banyak orang dengan  berbagai cara. Standar-standar ini dimaksudkan untuk melindungi hak-hak individu.

 

Studi Sekolah

Studi sekolah secara tradisional disebut dengan survei sekolah, biasanya merupakan penilaian dan studi evaluasi. Tujuan studi ini adalah untuk mengumpulkan informasi terperinci untuk menilai efektivitas fasilitas instruksional, kurikulum, pengajaran dan pengawasan personil, serta penerapan sumber daya keuangan. Biasanya, setelah evaluasi diri oleh staf sekolah, evaluator berkunjung mengevaluasi karakteristik lembaga sesuai dengan panduan lembaga. Evaluasi ini dilakukan oleh sekolah untuk menentukan status dan kecukupan mereka. Evaluasi survei ini seringkali dilakukan oleh asesor dari universitas di suatu daerah.

 

Evaluasi Program

Penggunaan studi evaluasi yang paling umum adalah untuk menentukan efektivitas program. Pada penjelasn studi sekolah di atas adalah evaluasi hanya dari sisi organisasi. Evaluasi program lebih fokus pada efektivitas program. Meskipun evaluasi efektivitas program berfokus pada pencapaian hasil yang telah ditargetkan, namun memungkinkan untuk menghasilkan temukan yang tidak diinginkan. Evaluasi program mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

  1. Apa tujuan dan sasaran program yang sedang dievaluasi?
  2. Apa hasil yang diharapkan dari program ini?
  3. Apakah hasil yang diharapkan dari program tercapai?
  4. Apakah ada hasil lain yang tidak diinginkan dari program, dan, jika ya, apakah positif atau negatif?
  5. Apakah hasil dari program cukup untuk menjamin keberlanjutan?
Loading...

Ini adalah pertanyaan dasar yang harus dijawab di semua evaluasi program. Siapa yang menjawab setiap pertanyaan ini mungkin berbeda, tergantung siapa melakukan evaluasi dan tingkat keterlibatan administrator program. Misalnya yang menjawab pertanyaan 3 dan 4 adalah orang luar, evaluator mendapatkan informasi tentang pertanyaan 1 dan 2 dari staf program, dan pertanyaan 5 adalah lembaga pendanaan.

Evaluasi program pendidikan adalah evaluasi program berbasis sekolah, salah satu tujuannya adalah untuk mengetahui tujuan dan sasaran dari pembelajaran organisasi dan siswa secara eksplisit. Fokus dari evaluasi ini adalah pada apa yang diajarkan, bagaimana itu diajarkan, apakah materi pelajaran itu dipelajari, jika sesuai, apakah sikap dimodifikasi, dan kadang-kadang apakah informasi yang dipelajari menghasilkan perubahan perilaku.

Evaluasi program berbasis sekolah berkaitan dengan dua aspek evaluasi yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi sumatif secara umum merupakan apa yang dipikirkan kebanyakan orang tentang evaluasi ini. Tujuan utamanya adalah untuk menentukan nilai, kompetensi mengajar guru, dan membandingkan kurikulum. Guru menggunakan jenis evaluasi sumatif ini secara berkala untuk memberi nilai siswa, biasanya pada semester atau setelah bagian tertentu dalam pembelajaran.

Evaluasi formatif adalah proses evaluasi yang berkelanjutan. Tujuan utama dari evaluasi formatif ini adalah untuk menentukan tingkat penguasaan dari tugas belajar yang diberikan dan untuk menentukan bagian dari tugas yang tidak dikuasai.

 

Penilaian dan Evaluasi dalam Pemecahan Masalah

Metode penilaian dan evaluasi dapat memberikan informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Sebuah contoh bagaimana penelitian evaluasi dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan masalah pendidikan. Sebuah sekolah memiliki masalah bangunan sekolah. Secara sepintas fasilitas pendidikan yang dimiliki tampaknya tidak memadai, dan jika perkembangan saat ini berlanjut, kondisi mungkin jauh lebih buruk di masa depan. Para pengelola dan penanggung jawab lembaga menyadari masalah ini, tetapi mereka tigak mempunyai dasar yang kuat untuk bertindak. Ada tiga langkah untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Loading...

Langkah pertama melibatkan analisis sistematis dari kondisi saat ini. Berapa banyak anak-anak di usia sekolah yang ada di lingkungan tersebut? Berapa banyak anak-anak di usia prasekolah? Di mana saja mereka tinggal? Berapa ruang kelas yang sekarang ada? Seberapa memadai ruang kelas itu? Berapa ukuran kelas rata-rata? Bagaimana kondisi bangunan-bangunan tersebut? Seberapa memadai fasilitas untuk makan, perpustakaan, kesehatan, dan layanan rekreasi? Berapa anggaran tahunan saat ini? Bagaimana tarif pajak dan kemampuan masyarakat atau pemerintah untuk menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai?.

Langkah kedua memproyeksikan tujuan di masa depan. Prediksi populasi sekolah dalam 5, 10, atau 20 tahun ke depan? Di mana anak-anak akan tinggal? Berapa banyak bangunan dan ruang kelas akan dibutuhkan? Ketentuan apa yang harus ditaati terkait layanan khusus sekolah, perpustakaan, kafetaria, fasilitas olahraga, dan area bermain, untuk memenuhi tuntutan pendidikan?.

Langkah ketiga mempertimbangkan bagaimana mencapai tujuan yang telah ditetapkan di analisis pada langkah kedua. Pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab adalah sebagai berikut: Haruskah fasilitas yang ada diperluas atau dibangun bangunan baru? Jika bangunan baru diperlukan, apa yang harus disediakan? Bagaimana pendanaan dapat diperoleh? Kapan dan berapa banyak seharusnya tarif pajak dinaikkan? Kapan program konstruksi akan berlangsung?.

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut berasal dari berbagai pihak, mislanya: pengguna sekolah dan pimpinan dinas pendidikan, ahli fasilitas sekolah, organisasi sekolah, masyarakat, dan perencana keuangan publik. Tentu saja, analisis ini kebutuhan bangunan sekolah ini hanyalah satu fase dari masalah pendidikan yang lebih besar dalam menyediakan program pendidikan yang memadai untuk anak-anak besok. Masih ada masalah kurikulum, transportasi murid, dan personil sekolah, yang juga bisa dikupas menggunakan metode penilaian dan evaluasi.

Tinggalkan Balasan