Pembelajaran Contextual Teaching and Learning: Komponen dan Karakteristik

Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Seorang guru yang mengajari peserta didiknya bukan contoh masyarakat belajar karena komunikasi hanya terjadi satu arah, yaitu informasi hanya datang dari guru kearah peserta didik. Tidak ada arus informasi yang perlu dipelajari guru yang datang dari arah peserta didik.

Dalam masyarakat belajar, dua kelompok (atau lebih) yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar satu sama lain. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar member informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya.

5. Pemodelan (Modeling)

Dalam pendekatan pembelajaran Contextual Teaching & Learning (CTL), guru bukan satu-satunya model. Pemodelan dapat dirancang dengan melibatkan peserta didik. Seorang peserta didik bisa ditunjuk untuk memodelkan sesuatu berdasarkan pengalaman yang diketahuinya.

6. Refleksi (Reflection)

Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Peserta didik mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.

7. Penilaian Autentik (Authentic Assessment)

Asesmen adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar peserta didik. Kemudian data itu digunakan untuk membangun pembelajaran yang lebih baik.

Gambaran perkembangan belajar peserta didik perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa peserta didik mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasi bahwa peserta didik mengalami hambatan atau kemacetan (stuck) dalam belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat agar peserta didik terbebas dari kemacetan belajar.

Pembelajaran CTL mengasumsikan bahwa secara natural pikiran mencari makna konteks sesuai dengan situasi nyata di lingkungan seseorang, dan itu dapat terjadi melalui pencarian hubungan yang masuk akal dan bermanfaat. Pemaduan materi pembelajaran dengan konteks keseharian peserta didik di dalam pembelajaran konteks akan menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang mendalam di mana peserta didik kaya akan pemahaman masalah dan cara untuk menyelesaikannya.

Peserta didik mampu secara mandiri menggunakan pengetahuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah baru dan belum pernah dihadapi, serta memiliki tanggung jawab yang lebih terhadap belajarnya seiring dengan peningkatan pengalaman dan pengetahuan mereka. Dengan pembelajaran CTL ini mereka tidak akan lagi gagap dalam menghadapi dinamisnya perubahan dunia.

Karakteristik pembelajaran CTL

Setiap pendekatan atau model pembelajaran pasti memiliki karakteristik khusus yang membedakan dengan pendekatan atau model pembelajaran lainnya. Tak terkecuali pembelajaran CTL. Ada lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan pembelajaran CTL:

  1. Dalam CTL, pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh peserta didik adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
  2. Pembelajaran yang kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya.
  3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
  4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge), artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan peserta didik, sehingga tampak perubahan perilaku peserta didik.
  5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.

Demikianlah bahasan singkat kami tentang pengertian, komponen dan karakteristik Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). Sampai ketemu di pembahasan tentang CTL selanjutnya. (maglearning.id)

2 comments

Tinggalkan Balasan