Keunggulan Absolut dan Keunggulan Komparatif

Keunggulan Absolut dan Keunggulan Komparatif dalam Perdagangan Internasional

Loading...

Keunggulan absolut dan keunggulan komparatif merupakan konsep kunci dari perdagangan internasional. Sebelum Adam Smith, yaitu pada era zaman Merkantilis banyak negara berpandangan bahwa peran perdagangan internasional harus dominan. Mereka selalu menekankan keinginan surplus ekspor dalam perdagangan internasional sebagai sarana memperoleh keuntungan untuk menambah kekayaan negara. Di masa itu keuntungan yang berharga menurut mereka adalah berbentuk logam mulia.

Seiring berjalannya waktu, konsep ini baik kekayaan, peran perdagangan, dan seluruh pemikiran ekonomi sistem Merkantilis dikritisi oleh penulis seperti David Hume dan Adam Smith. Konsep Smith tentang keunggulan absolut sangat berperan dalam mengubah pandangan tentang sifat dan potensi keuntungan dari perdagangan internasional. Kesadaran bahwa semua negara bisa mendapatkan keuntungan secara bersamaan dari perdagangan memiliki pengaruh besar pada pemikiran klasik dan kebijakan perdagangan.

Keunggulan Absolut dalam Perdagangan Internasional

Ide keunggulan absolut pertama kali dinyatakan Adam Smith dalam “Wealth of Nations” yang diterbitkan pada tahun 1776. Adam Smith (1937) menyatakan sebagai berikut: “Jika sebuah negara asing dapat memasok kami dengan komoditas lebih murah daripada kita sendiri yang membuatnya, lebih baik membelinya dari mereka dengan beberapa bagian dari hasil industri kita sendiri, bekerja dengan cara di mana kita memiliki beberapa keuntungan”.

Keunggulan absolut mengacu pada kemungkinan bahwa, karena adanya perbedaan kondisi sumberdaya/input, satu negara dapat menghasilkan suatu produk dengan harga lebih rendah dari negara lain. Dalam hal ini, contohnya kasus produk beras, di mana fakta bahwa Vietnam dapat memproduksi beras lebih murah daripada Jepang. Situasi ini yang membuat  beras diekspor dari Vietnam ke Jepang. Hal ini dalam ekonomi internasional disebut sebagai keuntungan dari perdagangan (gains from trade), yang sama-sama menguntungkan baik bagi Vietnam maupun bagi Jepang. Keuntungan inilah yang memotivasi negara untuk mengambil bagian dalam hubungan perdagangan internasional.

Beras diproduksi di banyak negara, tetapi untuk menyederhanakan, dimisalkan hanya Vietnam dan Jepang yang memproduksinya dalam rangka penyederhanaan analisis pasar beras internasional yang timbul antara dua negara ini. Lebih khusus, diasumsikan bahwa kondisi permintaan yang persis sama di kedua negara. Artinya, tidak ada perbedaan dalam preferensi, pendapatan, atau cara merespons permintaan terhadap perubahan harga di Vietnam dan Jepang. Ini berarti bahwa kurva permintaan beras di kedua negara yang persis sama, seperti digambarkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Kurva permintaan beras di pasar Vietnam dan Jepang
Gambar 1. Kurva permintaan beras di pasar Vietnam dan Jepang

Alasan penyederhanaan asumsi sisi permintaan adalah bahwa perdagangan sering muncul karena perbedaan kondisi penawaran daripada kondisi permintaan. Memang, sebagian besar bidang teori perdagangan didasarkan pada berbagai penjelasan pada perbedaan sisi penawaran antara negara satu dengan negara lainnya. Oleh karena itu, bisa dilihat kondisi penawaran beras yang berbeda antara di Vietnam dan di Jepang. Secara khusus, diasumsikan bahwa kurva penawaran untuk Vietnam lebih jauh ke kanan dari kurva penawaran di Jepang, yang berarti bahwa pada setiap harga, Vietnam menawarkan beras lebih banyak dibandingkan Jepang.

Perbedaan tersebut bisa terjadi kemungkinannya adalah bahwa Vietnam menghasilkan padi menggunakan teknologi lebih tinggi daripada Jepang sehingga produktivitas tenaga kerja dalam produksi beras di Vietnam lebih tinggi daripada di Jepang. Kemungkinan ini pada kenyataannya tidak relevan dengan produksi beras di kedua negara ini. Kemungkinan lain adalah bahwa harga input yang digunakan dalam produksi padi lebih rendah di Vietnam daripada di Jepang. Hal ini mencerminkan kenyataan bahwa Vietnam lebih diberkahi dengan faktor-faktor produksi padi yang berlimpah (tersedia lahan dan tenaga kerja pertanian) daripada Jepang. Faktor inilah yang relevan dalam kasus ini.

Gambar 2. Keunggulan absolut di pasar beras
Gambar 2. Keunggulan absolut di pasar beras

Situasi ini digambarkan pada Gambar 2. Kurva penawaran miring ke atas mencerminkan hubungan positif antara harga dan kuantitas yang ditawarkan. Perbedaan kondisi penawaran di mana posisi kurva penawaran Vietnam jauh ke kanan dari kurva penawaran Jepang. Persimpangan dari kurva penawaran dan permintaan menentukan harga keseimbangan beras di dua pasar. Kedua harga ditulis sebagai PV dan PJ pada gambar. Karena tidak ada perdagangan yang terlibat, dua harga ini dikenal dalam ekonomi internasional sebagai hargaautarki. Autarki adalah situasi di mana sebuah negara tidak memiliki hubungan ekonomi dengan negara-negara lain.

Gambar 2. menggambarkan situasi di mana harga autarki beras lebih rendah di Vietnam daripada di Jepang. yaitu:

PV < PJ

Dalam teori perdagangan internasional, situasi ini ditafsirkan di mana Vietnam yang memiliki keunggulan absolut dalam produksi beras vis`a-vis Jepang. keunggulan absolut ini mencerminkan perbedaan kondisi penawaran di kedua negara. Adanya keunggulan absolut membuat perdagangan internasional dimungkinkan.

Jika kedua negara keluar dari autarki dan memulai perdagangan, harga beras dunia PW akan berada di antara dua harga autarki, sebagai berikut:

PV < PW< PJ

Halaman selanjutnya…… (Keunggulan Absolut dan Keunggulan Komparatif)

Loading...
Pages ( 1 of 3 ): 1 23Lanjut ยป

One comment

Tinggalkan Balasan