Akal dan Bahasa Dalam Filsafat

Akal dan Bahasa Dalam Filsafat

Akal dan Bahasa Dalam Filsafat – Filsafat Bahasa adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat bahasa, sebab, asal, dan hukumnya. Hubungan bahasa dengan masalah filsafat telah lama menjadi perhatian para filsuf bahkan sejak zaman Yunani.

Para filsuf mengetahui bahwa berbagai macam problem filsafat dapat dijelaskan melalui suatu analisis bahasa. Sebagai contoh problema filsafat yang menyangkut pertanyaan, keadilan, kebaikan, kebenaran, kewajiban, hakikat ada (meta fisika) dan pertanyaan-pertanyaan fundamental lainnya dapat dijelaskan dengan menggunakan metode analisis bahasa. Tradisi inilah oleh para ahli sejarah filsafat disebut sebagai “Filsafat Analitik” yang berkembang di Eropa terutama di Inggris abad XX.

Memang semua ahli filsafat sependapat bahwa hubungan bahasa dengan filsafat sangat erat bahkan tidak dapat dipisahkan terutama dalam pengertian pokok bahwa tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep dan karena konsep tersebut terungkapkan melalui bahasa maka analisis tersebut tentunya berkaitan dengan makna bahasa yang digunakan dalam mengungkapkan konsep-konsep tersebut.

Perhatian filsuf menjadi semakin besar ketika zaman abad pertengahan yang ditandai dengan tujuh sistem utama yaitu Trivium yang meliputi gramatika, dialektika (logika), dan retorika, serta Quadrivium yang mencakup aritmetika, geometrika, astronomi dan musik. Akar-akar ilmu pengetahuan modern sudah mulai tampak. Dalam hal ini bahasa juga sudah mengarah kepada pengembangan linguistik sehingga pemikiran-pemikiran filosofisnya merupakan dasar pijak linguistik tersebut.

Olek sebab itu, melalui tulisan ini kami berusaha untuk membahas secara detail mengenai akal dan bahasa dalam filsafat itu sendiri. Agar akal maupun bahasa itu jelas definisi ataupun penjelasan mengenai keduanya tersebut.

 

Pengertian Akal

Akal menurut alquran Neurosains , lebih khususnya menurut pengertian pra-Islam yaitu bahwa Memperhatikan alam sekitarnya dengan otak , yang dimana otak adalah organ tubuh akal. Artinya  akal itu sendiri terdapat di dalam otak seseorang yang digunakan untuk berpikir dan berdasarkan pemikiran itu maka lahirlah suatu ide atau gagasan mengenai suatu masalah yang dipikirkan.

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa Allah menciptakan manusia itu berbeda berdasarkan akalnya dengan makhluk hidup lainnya seperti hewan dan tumbuhan. Dan akal itu sendiri diciptakan Allah untuk manusia agar digunakan untuk berpikir.

Ilustrasi mengenai akal bisa kita gambarkan dengan penggilingan padi yaitu :

Besi    ==> OTAK

Mesin ==> AKAL

Beras ==> PIKIRAN

 

Artinya : jika hanya besi tanpa digerakkan oleh mesin maka disebut tumpukan besi bukan mesin penggiling, sebab besi tersebut akan dapat bekerja dan menghasilkan beras apabila ada mesinnya. Begitu pula dengan otak, jika akal tidak dapat berfungsi untuk mengolah suatu pikiran maka pikiran tersebut tidak akan pernah ada. Dan otak tanpa akal pun tidak bisa bekerja sesuai fungsinya.

Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa akal ibaratnya mesin yang sangat dibutuhkan untuk menghasilkan suatu pikiran. Tanpa akal maka segala Sesuatu itu tidak dapat terselesaikan.

 

Pengertian Filsafat Bahasa

Filsafat Bahasa adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat bahasa, sebab, asal, dan hukumnya. Adapun bahasa itu sebagai alat untuk menyatakan atau menyampaikan suatu pikiran yang merupakan hasil dari kerja akal di dalam otak.

Berdasarkan hal tersebut Perhatian filsuf terhadap bahasa pun semakin besar. Mereka sadar bahwa dalam kenyataannya banyak persoalan-persoalan filsafat, konsep-konsep filosofis akan menjadi jelas dengan menggunakan analisis bahasa.

Tokoh-tokoh filsafat analitika bahasa hadir dengan terapi analitika bahasanya untuk mengatasi kelemahan kekaburan, kekacauan yang selama ini ada dalam berbagai macam konsep filosofis. Berbeda dengan perkembangan filosofis bahasa di Inggris, di Perancis terdapat suatu perubahan yang sangat radikal. F. de Saussure telah meletakkan dasar-dasar filosofis terhadap linguistik.

Pandangannya tentang hakikat bahasa telah membuka cakrawala baru bagi ilmu bahasa yang sebelumnya hanya berkiblat pada tradisi Yunani. Secara keseluruhan filsafat bahasa dapat dikelompokkan atas dua pengertian.

  1. Perhatian filsuf terhadap bahasa dalam menganalisis, memecahkan dan menjelaskan problem-problem dan konsep-konsep filosofis.
  2. Perhatian filsuf terhadap bahasa sebagai objek materi yaitu membahas dan mencari hakikat bahasa yang pada gilirannya menjadi paradigma bagi perkembangan aliran dari teori-teori linguistik. (Kaelan, 1998).

 

Berdasarkan pengertian di atas bahasa sebagai sarana analisis para filsuf dalam memecahkan, memahami dan menjelaskan konsep-konsep, problem-problem filsafat (bahasa sebagai subjek). Dan yang kedua bahasa sebagai objek material filsafat, sehingga filsafat bahasa membahas hakikat bahasa itu sendiri. Hakikat bahasa sebagai substansi dan bentuk yaitu bahwa bahasa di samping memiliki makna sebagai ungkapan pikiran manusia juga memiliki unsur fisis yaitu struktur bahasa.

Berbicara mengenai struktur bahasa maka termasuk ke dalam peran bahasa itu sendiri sehingga Adapun Peranan Filsafat Bahasa Dalam Pengembangan Ilmu Bahasa yaitu ;

Dimana  telah dibicarakan tentang pengertian filsafat bahasa, dan juga sudah diuraikan mengenai hubungan filsafat dengan bahasa sangat erat, atau sangat penting. Begitu juga peranan (kegunaan) filsafat bahasa, sangat penting dalam pengembangan ilmu bahasa. Kegunaan (peranan) filsafat bahasa itu sangat penting pada pengembangan ilmu bahasa karena filsafat bahasa itu adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat bahasa, sebab, asal, dan hukumnya.

Jadi pengetahuan dan penyelidikan itu terfokus kepada hakikat bahasa, juga sudah termasuk perkembangannya. Pada dasarnya perkembangan filsafat analitika bahasa meliputi tiga aliran yang pokok yaitu atomisme logis, positivisme logis, dan filsafat bahasa biasa.

Aliran filsafat bahasa biasa inilah yang memiliki bentuk yang paling kuat bilamana dibandingkan dengan aliran yang lain, dan memiliki pengaruh yang sangat luas, baik di Inggris, Jerman dan Perancis maupun di Amerika. Aliran ini dipelopori oleh Wittgenstein.

Aliran filsafat bahasa biasa juga mempunyai kelemahan-kelemahan antara lain , yaitu ;

  1. Kekaburan makna
  2. Bergantung pada konteks
  3. Penuh dengan emosi
  4. Menyesatkan

 

Untuk mengatasi kelemahan dan demi kejelasan kebenaran konsep-konsep filosofis maka perlu dilakukan suatu pembaharuan bahasa, yaitu perlu diwujudkan suatu bahasa yang sarat dengan logika sehingga ungkapan-ungkapan bahasa dalam filsafat kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan. Kelompok filsuf ini adalah Bertrand Russell. Menurut kelompok filsuf ini tugas filsafat yaitu membangun dan mengembangkan bahasa yang dapat mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam bahasa sehari-hari ini.

Dengan suatu kerangka bahasa yang sedemikian itu kita dapat memahami dan mengerti tentang hakikat fakta-fakta atau kenyataan-kenyataan. Dasar tentang struktur metafisis dan realitas kenyataan dunia yang menjadi perhatian yang terpenting adalah usaha untuk membangun dan memperbaharui bahasa itu membuktikan bahwa perhatian filsafat itu memang berkenaan dengan konsepsi umum tentang bahasa serta makna yang terkandung di dalamnya.

Sebagai suatu bidang filsafat khusus, filsafat bahasa mempunyai kekhususannya, yaitu masalah yang dibahas berkenaan dengan bahasa. Jadi peranan filsafat bahasa jelas sangat penting, atau berpengaruh terhadap pengembangan ilmu bahasa. Namun berbeda dengan ilmu bahasa atau lingkungan yang membahas ucapan tata bahasa, dan kosa kata, filsafat bahasa lebih berkenaan dengan arti kata atau arti bahasa (semantik). Masalah pokok yang dibahas dalam filsafat bahasa lebih berkenaan dengan bagaimana suatu ungkapan.

Bahasa itu mempunyai arti, sehingga analisa filsafat tidak lagi dimengerti atau tidak lagi dianggap harus didasarkan pada logika teknis, baik logika formal maupun matematik, tetapi berfilsafat didasarkan pada penggunaan bahasa biasa. Oleh karena itu mempelajari bahasa biasa menjadi syarat mutlak bila ingin membicarakan masalah-masalah filsafat, karena bahasa merupakan alat dasar dan utama untuk berfilsafat.

Di dalam pengembangan bahasa banyak ditemui kata-kata yang bersinonim, ini membuktikan bahwa bahasa itu berkembang sehingga banyak kata yang bersinonim. Begitu juga akibat perkembangan bahasa itu timbul kata-kata baru, yang singkat dan tepat, dan mewakili kata-kata yang panjang, seperti kata canggih, dahulu kata canggih belum ada, sekarang timbul dan mewakili kata-kata yang panjang. Cukup kita mengatakan canggih saja, di dalam dunia modern, masa kini.

Selanjutnya kata rekayasa, dahulu kata rekayasa tidak ditemukan, sekarang timbul untuk mewakili kata-kata yang panjang yaitu penerapan kaidah-kaidah ilmu seperti perancangan, membangun, pembuatan konstruksi. Selanjutnya kata monitor atau memantau dahulu kata monitor (memantau) belum ada, sekarang timbul dan mewakili kata-kata yang panjang, yaitu mengawasi, mengamati, mengontrol, mencek dengan cermat, terutama untuk tujuan khusus.

Struktur kalimat juga berkembang sesuai dengan ilmu pengetahuan yang meningkat.

Contoh : Dahulu struktur kalimat mempunyai pokok, sebutan, objek, sekarang timbul subjek, predikat, keterangan dan ada lagi frase benda, frase kerja, dan frase keterangan. Ada lagi paradigma baru seperti kata pemimpin, dengan pimpinan, yang mempunyai makna berbeda. Pemimpin adalah orang yang memimpin, sedangkan pimpinan adalah orang yang dipimpin.

Selanjutnya kata simpulan yang benar dari kata kesimpulan. Simpulan itu adalah akhir dari pembahasan. Kata keterangan dengan terangan yang betul adalah terangan. Jadi makin banyak perubahan atau perkembangan bahasa itu akibat ilmu pengetahuan tentang bahasa yang meningkat.

Ada juga kata-kata yang timbul pada saat ini tetapi tidak diterima oleh masyarakat seperti kata sangkil dan mangkus dalam bahasa Inggris efektif dan efisien, masyarakat lebih menerima kata berhasil guna, dan berdaya guna. Begitu juga singkatan-singkatan atau akronim sering terjadi pada masyarakat masa kini.

 

Contoh :

OTISTA, Obrolan Artis dalam Berita

KISS, Kisah Seputar Selebritis

Selanjutnya masalah hukum DM (Diterangkan, Menerangkan).

Bahasa Indonesia Hukum DM

 

Contoh : Rumah putih ( D M )

Bahasa Inggris mempunyai Hukum MD

 

Contoh : White house ( M D )

Dahulu terdapat kata Sarjana Wanita ini mempunyai hukum MD, muncul paradigma baru menjadi Wanita Sarjana menjadi hukum D M

Yang betul adalah Wanita Sarjana, karena Bahasa Indonesia mempunyai Hukum DM. Ini semua karena ilmu pengetahuan yang semakin meningkat.

 

Simpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan :

  1. Otak adalah organ tubuh akal. Artinya  akal itu sendiri terdapat di dalam otak seseorang yang digunakan untuk berpikir dan berdasarkan pemikiran itu maka lahirlah suatu ide atau gagasan mengenai suatu masalah yang dipikirkan.
  2. Filsafat bahasa adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat bahasa, sebab, asal, dan hukumnya.
  3. Peranan filsafat bahasa dalam pengembangan ilmu bahasa sangat penting. Filsafat bahasa ini mempunyai kekhususannya, yaitu masalah yang dibahas berkenaan dengan bahasa, yaitu ungkapan-ungkapan bahasa yang mempunyai arti. Di dalam pengembangan bahasa peranan filsafat bahasa cukup jelas, akibat banyaknya timbul kata-kata baru, sinonim, struktur kalimat, singkatan (akronim) dan kaidah-kaidahnya. Ini semua karena ilmu pengetahuan yang semakin meningkat pada saat ini, dan banyak timbul paradigma baru.

 

Sehingga antara akal dengan bahasa itu merupakan satu kesatuan yang padu dan tak terpisahkan. Karena akal yang akan berpikir dan menghasilkan suatu ide atau gagasan yang dapat diketahui oleh orang lain melalui  bahasa yang disampaikan. Dan sebaliknya suatu ide atau gagasan dalam pikiran tanpa disampaikan melalui bahasa maka tidak akan pernah diketahui oleh orang lain. (maglearning.id).

Loading...

Tinggalkan Balasan