PEMROSESAN MENTAL AKTIF DALAM PEMBELAJARAN

Pemrosesan mental aktif (active mental processing) atau sering juga disebut proses mental yang aktif merupakan salah satu prinsip pembelajaran yang sangat penting untuk diketahui oleh setiap pendidik. Prinsip ini bermula dari percobaan yang dilakukan oleh Turnure dan koleganya pada tahun 1976 yang meneliti bagaimana anak-anak muda menambah pengetahuan mereka.

Penelitian ini mengeksplorasi beberapa variabel yang mempengaruhi kemungkinan anak-anak menyimpan informasi yang telah diberikan. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui kegiatan mental mana yang berbeda dan paling efektif dalam proses pembelajaran.

Semua anak yang berpartisipasi dalam penelitian ini diperlihatkan ilustrasi/gambar benda-benda yang sudah akrab bagi mereka, seperti gambar sepeda atau semangka. Dalam satu kondisi percobaan, anak-anak hanya diminta mengatakan nama-nama dari benda itu. Dua item ditampilkan secara bersamaan, dan setiap anak ditunjukkan 21 pasang gambar. Setelah itu, setiap anak ditunjukkan hanya satu gambar dari masing-masing pasangan, dan ditanya apakah ia dapat mengingat barang apa yang dipasangkan dengan gambar tersebut.

Ternyata dalam percobaan ini anak-anak mengingat sangat sedikit dari informasi yang telah diberikan. Anak-anak ini hanya dapat mengingat rata-rata hanya satu item dari 21 item. Dengan demikian hanya melihat item bukanlah prosedur yang efektif untuk membantu siswa mengingat. Sesuatu yang lain harus terjadi bila yang diinginkan adalah banyaknya informasi yang diberikan harus disimpan oleh siswa, sehingga informasi tersebut dapat dipanggil kembali saat mereka membutuhkannya.

Belajar adalah proses aktif (proses mental yang aktif) dan bukan pasif. Jika siswa memainkan peran yang lebih aktif maka pembelajaran semakin berkualitas. Seseorang bisa saja lebih aktif memperhatikan informasi yang disajikan daripada oarang lain, yang mungkin saja tidak memperhatikannya sama sekali. Tetapi seperti hasil penelitian di atas, memperhatikan saja tidak cukup untuk menjamin pembelajaran berjalan optimal.

Loading...

Turnure dkk. melanjutkan penelitiannya dengan meminta beberapa anak untuk melakukan berbagai jenis kegiatan mental sehubungan dengan ilustrasi/gambar yang ditunjukkan kepada mereka. Dalam salah satu kondisi percobaan, anak-anak diminta untuk membuat kalimat yang menyatukan dua objek yang ditunjukkan dalam gambar. Misalnya, jika satu gambar yang memperlihatkan sebatang sabun dan dipasangkan dengan gambar sepatu, kalimat penghubung yang sesuai misalnya adalah “Sabun ada di dalam sepatu” atau “Sabun untuk mencuci sepatu”.

Kelompok eksperimen lain, anak-anak didorong untuk aktif secara mental, tetapi kali ini aktivitas mereka adalah menjawab pertanyaan tentang objek yang digambarkan, bukan membuat kalimat yang menghubungkan. Anak-anak dalam kelopok ini diberikan pertanyaan yang mendorong mereka untuk memikirkan kemungkinan hubungan kedua benda yang ditunjukkan dalam ilustrasi. Misalnya, ketika gambar sepatu dan sebatang sabun dipasangkan, pertanyaannya mungkin “Mengapa sabun ada di dalam sepatu?”, Atau “Mengapa sepatu disabun?”.

Para peneliti ini menemukan bahwa melakukan aktivitas mental menyebabkan peningkatan substansial dalam jumlah objek yang dapat diingat anak-anak. Anak-anak dalam kelompok yang membuat kalimat dengan menggabungkan dengan objek mengingat rata-rata delapan item dari 21. Anak-anak yang menjawab pertanyaan tentang pasangan objek mengingat rata-rata 16 item benar dari 21.

Loading...

Penelitian ini membuktikan bahwa anak-anak yang didorong untuk lebih aktif terlibat dengan informasi baru daripada sekadar mengidentifikasi objek yang mereka lihat menyimpan lebih banyak informasi daripada anak-anak lainnya. Mereka mengingat hingga enam belas kali lebih banyak dari objek yang telah ditunjukkan.

Temuan ini menunjukkan prinsip penting, yaitu bahwa pembelajaran dapat dibuat jauh lebih efektif hanya dengan mendorong individu untuk mengambil sikap yang lebih aktif. Dengan demikian jika kita ingin memaksimalkan pembelajaran, pastikan bahwa individu berperan aktif dalam proses pembelajaran. Bukan hanya anak-anak yang mendapat manfaat dari mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran, orang dewasa juga mampu meretensi informasi selama periode waktu yang lama dan jauh lebih akurat ketika mereka didorong untuk mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran. Prinsip pemrosesan mental aktif ini hanya awal dalam pembelajaran, namun awal yang baik.

Masih ada dua prinsip lagi yang perlu kita perhatikan dalam membangun sebuah proses pembelajaran yang berkualitas. Kedua prinsip itu adalah Membuat koneksi yang bermakna dan Pengulangan atau remedial. Nah, ikuti artikel-artikel selanjutnya ya….. cek saja artikel-artikel yang terkait di kategori PENDIDIKAN. Selamat Belajar….

One comment

Tinggalkan Balasan