Keseimbangan Dalam Pasar Monopoli

Keseimbangan Dalam Pasar Monopoli dan Kekuatannya

Loading...

Keseimbangan dalam pasar monopoli juga sangat terkait dengan analisa rugi laba. Walaupun beroperasi di pasar monopoli, perusahaan tetap saja bisa mengalami kerugian. Namun, ya sebagian besar perusahaan akan mengalami keuntungan, terutama dalam jangka panjang.

Kali ini kita akan membahas kapan perusahaan mengalami kerugian dan kapan mendapatkan keuntungan. Sebenarnya konsep ini tidak jauh berbeda dengan konsep keseimbangan perusahaan pada pasar persaingan sempurna.

Selain membahas tentang keseimbangan dalam hal rugi laba, kita juga akan menganalisa kekuatan monopolistik dan strategi diskriminasi harga yang bisa dilakukan oleh perusahaan. Mari kita mulai.

Keseimbangan perusahaan dalam pasar Monopoli

Seperti telah saya singgung di atas, perusahaan monopolistik juga sebagaimana pada pasar persaingan sempurna akan memperoleh laba maksimal, laba normal, rugi minimal, dan rugi maksimal dalam kondisi tertentu. Berikut ini adalah berbagai kemungkinan kondisi tersebut.

1. Laba maksimal

Kurva Laba Maksimal Dalam Pasar Monopoli
Kurva Laba Maksimal Dalam Pasar Monopoli

Perpotongan MR dengan MC (keseimbangan perusahaan) terjadi pada saat output sebanyak Q unit. Harga per unit sebesar OP dan biaya per unit sebesar OC.

Total pendapatan sebesar OPRQ, sedangkan biaya yang dikeluarkan sebesar OCSQ. Sehingga laba yang diperoleh sebesar PCSR (daerah yang diarsir). Laba sebesar PCSR adalah laba ekonomi.

Laba ini adalah laba maksimal atau keuntungan maksimum yang diperoleh perusahaan pada posisi keseimbangan dalam pasar monopoli. Laba maksimal diperoleh karena pada posisi keseimbangan perusahaan AC lebih rendah dibanding dengan AR.

2. Laba Normal

Kurva Laba Normal Dalam Pasar Monopoli
Kurva Laba Normal Dalam Pasar Monopoli

Perpotongan MR dengan MC atau posisi keseimbangan perusahaan di pasar monopoli terjadi pada saat output sebanyak Q unit. Harga per unit sebesar OP atau OC dan biaya per unit sebesar OP atau OC. Total pendapatan besarnya sama dengan total biaya yaitu sebesar OPRQ atau OPCQ sedangkan biaya yang dikeluarkan sebesar OCRQ.

Sehingga, perusahaan dalam posisi Break Event Point (BEP) dan disebut laba normal. Laba normal ini terjadi ketika MR sama dengan MC dan AR sama dengan AC.

Mengapa dalam posisi BEP disebut sebagai laba normal? Padahal kan penerimaan sama dengan biaya alias impas. Perlu diketahui bahwa dalam biaya sudah termasuk gaji karyawan, gaji/keuntungan pengusaha juga biaya modal atau bunga. Jadi dalam biaya tersebut sudah ada pendapatan pengusaha, sehingga disebut dengan laba normal.

3. Rugi Minimal

Kurva Rugi Minimal Pada Pasar Monopoli
Kurva Rugi Minimal Pada Pasar Monopoli

Walaupun dalam pasar monopoli, perusahaan juga bisa mengalami kerugian. Misalkan ditunjukkan pada kurva dia atas. Dengan biaya produksi OCSQ yang lebih besar dari pendapatan yang diterima yaitu sebesar OPRQ. Kerugian yang dialami sebesar PCSR disebut rugi minimal.

Kerugian ini dialami perusahaan karena biaya variabel rata-rata (AVC) berada di bawah pendapatan rata-rata artinya biaya tersebut masih bisa ditutupi oleh pendapatan perusahaan, sehingga perusahaan masih bisa bertahan dan meneruskan operasi/kegiatan usahanya. Keadaan seperti ini dinamakan rugi minimal.

4. Rugi Maksimal

Kurva Rugi Maksimal Pada Monopoli
Kurva Rugi Maksimal Pada Monopoli

Keadaan seperti pada kurva di atas, walaupun berposisi sebagai monopolis, perusahaan lebih baik menutup usahanya karena pendapatan yang diperoleh (OPEQ) tidak dapat menutup biaya total produksi baik itu biaya variabel total atau biaya tetap total (OCDQ).

Perusahaan menderita rugi sebesar PCDE yang disebut dengan rugi maksimal. Bila diteruskan maka tidak akan lama lagi perusahaan akan bangkrut dan gulung tikar.

Indikator kekuatan monopoli

Berada dalam pasar monopoli, sebuah perusahaan monopolis biasanya mempunyai posisi keuntungan yang signifikan. Ketika perusahaan memiliki kekuatan monopoli yang besar maka disitulah kekuatan monopolistik perusahaan sangat kuat.

Indikator kekuatan monopoli, meliputi selisih antara MC dan AR dan besarnya keuntungan super normal.

Selisih antara MC dan AR:

Makin besar selisih antara MC dan AR, maka makin besar kekuatan monopoli. Pada monopolistik AR menurun, MR turun di bawah AR dan pada tingkat equilibrium MR = MC sehingga MC di bawah AR.

Dalam hal ini elastisitas kurva AR sangat menentukan, yakni makin inelastis kurva AR makin besar selisih antara MR dan AR. Kekuatan monopoli, ditampilkan pada kurva di bawah ini.

Besarnya keuntungan super normal :

Makin kuat kedudukan monopolistik, makin besar keuntungan super normal yang dapat menghalang-halangi masuknya perusahaan-perusahan lain (entry barriers). Namun, di satu sisi akan banyak perusahaan yang mencoba mengincar pasar ini. Hanya saja kekuatan monopolistik sebuah perusahaan in cumbent sampai mampu menguasai sumberdaya yang tidak dapat diakses oleh pesaing.

Diskriminasi harga

Untuk memaksimalkan keuantungan dan tetap menjaga pangsa pasar perusahaan monopolis biasanya menerapkan diskriminasi harga. Strategi ini juga biasanya digunakan untuk kondisi pasar yang berbeda, terutama terkait dengan elsatisitas permintaannya. Keadaan ini dapat terjadi jika monopolistik menentukan harga berlainan untuk unit-unit produk yang sama.

Beberapa asumsi diskriminasi harga diantaranya adalah:

  1. Monopolistik mencari keuntungan yang maksimal sehingga ia berproduksi dimana MR = MC.
  2. Kurva permintaan pada dua pasar berlainan dan monopolistik menyamakan MC dengan masing-masing MR di kedua pasar.
  3. Pembeli di masing-masing pasar berada pada persaingan sempurna dan tidak ada hubungan antara pembeli di lain pasar.

Contoh diskriminasi harga ditampilkan dalam kurva berikut ini.

Kurva Diskriminasi Harga
Kurva Diskriminasi Harga

Tanpa diskriminasi, monopolistik akan menjual output sebesar OQn pada harga OP dimana MC = MR, dimana CAR menunjukan permintaan total yang dihadapi monopolistik. Dengan diskriminasi, maka di pasar A monopolistik akan menjual output sebesar OQ1 pada harga OP1 dan di pasar B monopolistik akan menjual output sebesar OQ2 pada harga OP2. AR1 menunjukkan permintaan di pasar in-elastis sedang AR2 menunjukkan permintaan di pasar elastis.

Jadi hakikatnya pasar (C) menunjukkan pasar total. Perbedaan penerapan diskriminasi terletak pada:

  1. Konsumen
  2. Sifat barang
  3. Jarak jauh

Konsumen:

Dalam hal ini, konsumen :

  1. Tidak mengetahui keadaan harga barang yang sama di pasar lain.
  2. Irrasional bahwa barang itu lebih baik jika harganya mahal.
  3. Menghiraukan perbedaan harga yang terlalu kecil.

Sifat barang:

Terutama barang yang bersifat jasa langsung, seperti : jasa dokter, jasa potong rambut, dan sebagainya.

Jarak jauh:

Timbul karena perbedaan harga yang tidak dapat ditembus oleh biaya-biaya pengangkutan antar beberapa tempat.

Demikianlah bahasan kami tentang keseimbangan dalam pasar monopoli. Laba atau keuntungan maksimum pasar monopoli ini sering diharapkan oleh setiap perusahaan. Untuk mencapai ini biasanya perusahaan juga memperhatikan elastisitas permintaan pada masing-masing dan kemudian menerapkan strategi diskriminasi harga.

Media Pembelajaran Interaktif

Untuk mempelajari ekonomi mikro secara cepat dan ringkas Anda juga bisa menggunakan media pembelajaran interaktif yang sudah saya kembangkan untuk Anda semua. Media ini saya sediakan dalam dua versi, yatu versi web dan versi Android. Untuk versi web hanya bisa digunakan secara online, sedangkan versi Android bisa digunakan secara offline jadi silakan install aplikasi ini terlebih dahulu di gawai Anda.

EkoMik Versi Web:

EkoMik Versi Android:

Loading...

2 comments

Tinggalkan Balasan