Peningkatan Daya Saing Perekonomian Indonesia

Upaya Peningkatan Daya Saing Perekonomian Indonesia

Loading...

Upaya Peningkatan Daya Saing Perekonomian Indonesia – Peringkat daya saing yang dikeluarkan oleh World Economic Forum (WEF) memperlihatkan bahwa daya saing Indonesia relatif rendah dibandingkan dengan empat negara ASEAN lainnya (Singapura, Malaysia, Brunei, dan Thailand) dan juga China, seperti tampak pada Tabel 1. Daya saing Indonesia juga mengalami kemerosotan selama periode 2010-2012, dari urutan 40 menjadi 50.

Dalam tahun 2012, daya saing Indonesia berada di bawah Singapura (urutan 2), Malaysia (urutan 25), Brunei (urutan 28), China (29) dan Thailand (urutan 38). Rendahnya daya saing Indonesia terkait dengan beberapa faktor yang menjadi penghambat daya saing, antara lain korupsi, birokrasi pemerintah yang tidak efisien, infrastruktur yang tidak memadai, kualitas tenaga kerja yang rendah, etos kerja yang buruk, dan masalah perpajakan.  

Daya Saing Ekonomi Indonesia

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2011 dan 2012 adalah yang terbesar dibandingkan lima negara ASEAN yang lain. Lihat Tabel 2. Dalam dua tahun tersebut, ekonomi Indonesia tumbuh masing-masing sebesar 6,5% dan 6,1%. Sementara lima Negara ASEAN yang lain mengalami pertumbuhan di bawah angka 6%. Namun, IMF memproyeksikan bahwa pada tahun 2013, ekonomi Thailand akan tumbuh sebesar 7,5% melebihi Indonesia sebesar 6,6%. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di bawah China yang mengalami pertumbuhan di atas 8% pada tahun 2011 dan 2012.

Tabel 1. Peringkat Daya Saing Negara ASEAN dan China

Negara201020112012
Indonesia404450
Malaysia262125
Singapura322
Thailand383938
Filipina857565
Brunei282828

Dari sisi inflasi, tampak bahwa Indonesia kurang berhasil dalam pengendalian harga, ditunjukkan dengan inflasi yang relatif tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN yang lain. Lihat Tabel 2. Dalam tahun 2011 dan 2012, inflasi di Indonesia mencapai 5,4% dan 6,2%, lebih tinggi dibandingkan inflasi di Thailand, Malaysia, Filipina, Singapura dan China. Dalam tahun 2012, inflasi di Thailand sebesar 3,9%, Malaysia sebesar 2,7%, Filipina sebesar 3,4%, dan Singapura sebesar 3,5%, dan China sebesar 3,3%. Namun, inflasi di Indonesia masih lebih randah daripada di Vietnam yang mencapai angka 12,6% pada tahun 2012.

Pengendalian harga yang kurang berhasil di Indonesia, antara lain terkait dengan fakta bahwa sebagian komoditas di tingkat distributor dikelola dalam pasar oligopolis, bahkan cenderung kartel, seperti di sektor pertanian. Hal ini yang sering kali menimbulkan lonjakan harga yang luar biasa besar pada beberapa komoditi seperti bawang merah, bawang putih, cabai, dan komoditi lainnya. Selain itu,  Kemampuan pemerintah mengendalikan harga sampai saat ini sangat lemah, karena tidak diimbangi dengan infrastruktur lembaga dan kelembagaan yang mapan (Yustika, 2013).

Pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi yang dicapai oleh Indonesia tidak diikuti oleh penyerapan tenaga kerja yang memadai, terbukti dengan masih relatif tingginya pengangguran di Indonesia. Pada tahun 2012, tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 6,4%, lebih tinggi dibandingkan Thailand sebesar 0,7%, Malaysia sebesar 3,1%, Vietnam sebesar 4,5%, Singapura sebesar 2,1% dan China sebesar 2,3%. Lihat Tabel 2. Hal ini menunjukkan kegagalan pemerintah dalam upaya menciptakan lapangan kerja.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak diikuti dengan elastisitas menciptakan lapangan kerja yang tinggi. Namun demikian, tingkat pengangguran di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan di Filipina yang mencapai angka sebesar 7,0% pada tahun 2012.

Total perdagangan Indonesia (ekspor + impor)  dengan Intra-ASEAN dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Dalam periode 2004-2012 dicapai peningkatan hampir 4 (empat) kali lipat dari 24,5 Milyar USD pada tahun 2004 menjadi 95,9  Milyar USD pada tahun 2012. Pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 20,64% selama periode tersebut.

Konsentrasi perdagangan Indonesia terbesar berlangsung dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand, masing-masing 43,6 milyar USD; 23,8 milyar USD dan 17,9 milyar USD. Nilai perdagangan Indonesia dengan Laos, Myanmar, dan Vietnam relatif kecil. Namun demikian, nilai perdagangan Indonesia dengan Laos, Myanmar, dan Vietnam meningkat secara signifikan, di mana masing-masing mengalami pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 53,52%; 30,77%, dan 24,49%.

Tabel 2. Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan  Tingkat Pengangguran Negara ASEAN dan China (%)

Peningkatan nilai total perdagangan Indonesia dengan negara intra ASEAN, disertai dengan peningkatan ekspor, dengan rata-rata per tahun sebesar 15,81% selama periode 2004-2012,  seperti tampak di Tabel 3. Selama periode tersebut, ekspor Indonesia meningkat dari 12,99 milyar USD pada tahun 2004  menjadi 40,4 milyar USD pada tahun 2012 atau meningkat lebih dari tiga kali lipat.

Ekspor Indonesia ke negara ASEAN terkonsentrasi di negara Singapura, Malaysia, dan Thailand, di mana ketiga negara tersebut menyerap lebih dari 50% total ekspor. Namun demikian, peningkatan ekspor per tahun terbesar terjadi ke Laos sebesar 50,47%; disusul Myanmar sebesar 33,11%; dan Vietnam sebesar 19,76%.

Sementara itu, impor Indonesia dari negara-negara ASEAN meningkat lebih besar daripada peningkatan ekspor. Selama periode 2004-2012 impor  Indonesia dari negara-negara ASEAN meningkat dari 11,5 milyar USD pada tahun 2004 menjadi 55,5 milyar USD pada tahun 2012 atau mengalami peningkatan hampir lima kali lipat (Lihat Tabel 4). Impor terbesar berasal dari Singapura, disusul Malaysia, dan Thailand.

Total impor Indonesia dari ketiga negara tersebut mencapai lebih dari 48 milyar USD pada tahun 2012. Peningkatan impor terbesar berasal dari Laos dengan trend rata-rata per tahun sebesar 341.23%, disusul Brunei Darusalam sebesar 39.69%; Kamboja sebesar 38.08% dan Vietnam sebesar 34.18%.

Pertumbuhan impor yang lebih besar daripada ekspor, menyebabkan neraca perdagangan Indonesia dengan negara-negara ASEAN mengalami defisit sejak tahun 2005 hingga 2012. Neraca perdagangan Indonesia dengan negara-negara ASEAN pada tahun 2004 masih surplus sebesar 1,5 milyar USD. Namun,  sejak  tahun  2005  mengalami  defisit  yang  semakin membengkak dari 1,2 milyar USD pada tahun 2005 menjadi 15,1 milyar USD pada tahun 2012. Defisit terbesar dialami oleh Indonesia terhadap Singapura sebesar 11,3 milyar USD, disusul dengan Thailand sebesar 4,9 milyar USD pada tahun 2012.

Halaman selanjutnya ……. (Peningkatan Daya Saing Perekonomian Indonesia)

Loading...
Pages ( 1 of 2 ): 1 2Lanjut ยป

Tinggalkan Balasan