Perspektif Perilaku Kepemimpinan yang Efektif

Perspektif Perilaku Kepemimpinan yang Efektif

Loading...

Perspektif Perilaku Kepemimpinan yang Efektif – Beberapa literatur yang menjelaskan mengenai Behavioral Perspectif of Leadership mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Ohio State University. Dimana penelitian tersebut berusaha untuk mengidentifikasi perilaku kepemimpinan yang efektif.

Para peneliti mengumpulkan sebuah daftar mengenai kurang lebih 1800 contoh dari perilaku kepemimpinan, kemudian mengurangi daftar tersebut sampai 150 hal yang kelihatannya merupakan contoh yang baik mengenai fungsi-fungsi kepemimpinan yang penting. Analisis faktor dari jawaban kuesioner memberi indikasi bahwa para bawahan memandang perilaku atasannya pertama-tama dalam kaitannya dengan dua dimensi yaitu consideration dan initiating structure. (Wood J., Wallace, J., Zeffane, R.M., Schermerhorn. 2001).

Pemimpin yang memiliki consideration yang tinggi biasanya merupakan seorang pemimpin yang sensitif akan perasaan orang-orang disekitarnya, pemimpin tersebut selalu mencoba untuk membuat segalanya baik bagi para bawahannya, mendengarkan keluhan dan pendapat bawahan dan memperlakukan bawahan secara merata, memperlihatkan perhatian yang baik atas kebutuhan bawahan. Steven L. Mcshane mengartikan consideration sebagai people oriented behavior dimana perilaku tersebut biasanya mempunyai hubungan dengan tingkat kepuasan kerja yang tinggi dari bawahan, tingkat absen dan perputaran tenaga kerja yang rendah.

Akan tetapi, para karyawan yang berada dibawah kepemimpinan people oriented leader cenderung memiliki tingkat kinerja yang lebih rendah dibandingkan kepemimpinan task oriented leader. Sebaliknya, pemimpin yang memiliki initiating structure yang tinggi sangat memberi perhatian pada menekankan persyaratan pekerjaaan, pengendalian yang ketat atas agenda-agenda kerja dan memacu karyawan untuk memaksimalkan kapasitas kinerja. Gaya kepemimpinan ini memberi penekanan tinggi pada produktivitas para karyawan (Steven L. Mcshane mengartikan initiating structure sebagai task oriented behavior).

Task oriented leader mungkin saja dapat meningkatkan tingkat produktifitas dan didukung oleh kelompok orang yang menginginkan dipimpin oleh pemimpin yang memiliki ketegasan dan kejelasan dalam meraih kesuksesan goals organisasi akan tetapi pada beberapa hal task oriented leader dapat menyebabkan rendahnya tingkat kepuasan kerja, tingginya tingkat absensi dan perputaran tenaga kerja.

Para ahli perilaku kepemimpinan menemukan bahwa kedua gaya kepemimpinan tersebut relatif berdiri sendiri. Seorang pemimpin dapat saja memiliki consideration yang tinggi dan initiating structure yang rendah atau sebaliknya, beberapa pemimpin memiliki consideration dan initiating structure yang tinggi atau bahkan rendah pada kedua hal tersebut.

Berdasarkan Perspektif perilaku kepemimpinan yang efektif, kepemimpinan merupakan perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama (Yulk 2001). Perilaku individu sebagai pemimpin mengambarkan kombinasi yang konsisten dari falsafah, keterampilan, sifat, dan sikap yang mendasari perilaku seorang pemimpin. Dengan demikian, kepemimpinan sebagai perilaku dan strategi yang merupakan hasil kombinasi dari falsafah, keterampilan, sifat, sikap, yang sering diterapkan seorang pemimpin dalam berinteraksi dengan orang lain, dalam mengambil keputusan, dan dalam melaksanakan kegiatan pengendalian (Veithzal rivai 2004).

Pendekatan perilaku berusaha menentukan apa yang dilakukan para pemimpin efektif (Perilaku Kepemimpinan yang efektif), misalnya bagaimana mereka mendelegasikan tugas, berkomunikasi dan memotivasi bawahan. Pendekatan perilaku memusatkan perhatian pada dua aspek utama kepemimpinan, yaitu perilaku yang berorientasi pada tugas (task-oriented behavior) dan perilaku yang berorientasi pada hubungan (relationship-oriented behavior).

Perilaku berorientasi tugas adalah suatu perilaku seorang pemimpin untuk mengatur dan merumuskan peranan-peranan dari anggota-anggota kelompok atau pengikut, menerangkan kegiatan yang harus dikerjakan oleh masing-masing anggota, kapan dilakukan, dimana melaksanakannya, dan bagaimana tugas-tugas itu harus dicapai.

Perilaku berorientasi hubungan adalah perilaku seorang pemimpin yang memelihara hubungan-hubungan antar pribadi diantara dirinya dengan anggota-anggota kelompok atau para pengikut dengan cara membuka lebar-lebar jalur komunikasi, mendelegasikan tanggung jawab, dan memberikan kesempatan pada para bawahan untuk menggunakan potensinnya

Pada akhirnya, behavioral leadership perspective menimbulkan sebuah pertanyaan penting; apakah tingkat yang tinggi pada kedua gaya kepemimpinan tersebut merupakan yang terbaik bagi berbagai situasi? Pada kenyataannya gaya kepemimpinan yang terbaik sangat bergantung pada berbagai situasi. Oleh sebab itu, studi mengenai behavioral perspective mengarah pada studi yang lebih baik lagi yang disebut contingency perspective.

Demikianlah bahasan kami tentang Perspektif Perilaku Kepemimpinan yang Efektif. Semoga bermanfaat. Salam belajar menyenangkan, kapan saja dan di mana saja (maglearning.id).

Loading...

Tinggalkan Balasan