ekonomi internasional dan cakupannya

Ekonomi Internasional dan Cakupannya

Loading...

Ekonomi Internasional dan Cakupannya – Topik apa saja sih yang dipelajari dalam Ekonomi Internasional? Pertanyaan sering keluar dari beberapa orang yang baru mulai untuk belajar ekonomi internasional. Tentu saja ilmu ekonomi internasional adalah bagian dari ilmu ekonomi, khususnya ekonomi makro.

Pada dasarnya apa yang dipelajari dalam ekonomi internasional tidak jauh dari masalah pokok ekonomi pada umumnya, terutama pandangan para pakar ekonomi modern. Hanya saja lebih banyak terkait dengan dunia internasional atau rumah tangga luar negeri.

Ilmu ekonomi internasional juga menggunakan metode analisis fundamental yang sama dengan cabang ekonomi lainnya, karena motif dan perilaku individu dalam perdagangan internasional tentu juga sama dengan dalam transaksi domestik.

Jadi, ekonomi internasional adalah cabang ilmu yang membahas tentang apa sih? Subjek studi ekonomi internasional terdiri dari masalah-masalah yang diangkat dari masalah-masalah khusus interaksi ekonomi antara negara-negara yang berdaulat. Ekonomi internasional dan cakupannya ada tujuh tema bahasan utama dalam studi ekonomi internasional, yaitu:

  1. The gains from trade. Keuntungan apa yang didapatkan dari perdagangan internasional.
  2. The pattern of trade. Pola perdagangan yang dilakukan antar negara.
  3. Protectionism. Berapa banyak yang perlu diperdagangkan?
  4. The balance of payments. Neraca pembayaran.
  5. Exchange rate determination. Penentuan nilai tukar.
  6. International policy coordination. Koordinasi kebijakan internasional.
  7. The international capital market. Pasar modal internasional.

Kita akan bahas satu persatu cakupan bahasan ekonomi internasional secara ringkas.

1. Keuntungan apa yang didapatkan dari perdagangan internasional

Mungkin satu-satunya pemahaman yang paling penting dalam semua bahasan dalam ekonomi internasional adalah bahwa ada keuntungan dari perdagangan internasional yang dilakukan oleh masing-masing negara. Yaitu, ketika negara-negara menjual barang dan jasa satu sama lain, pertukaran ini hampir selalu dengan motif untuk keuntungan bersama.

Ternyata keuntungan perdagangan internasional bisa jauh lebih besar daripada yang dibayangkan kebanyakan orang. Ada sebuah kesalahpahaman umum bahwa perdagangan internasional berbahaya jika ada perbedaan signifikan antara negara yang berdagang dalam hal produktivitas atau upah.

Di satu sisi, para pebisnis di negara yang kurang berteknologi maju, seperti Indonesia atau India misalnya, sering kali khawatir bahwa dengan membuka ekonomi mereka untuk pasar internasional akan membawa bencana karena industrinya tidak akan mampu bersaing.

Di sisi lain, orang-orang di negara-negara yang berteknologi maju di mana para pekerja mendapatkan upah tinggi sering takut bahwa perdagangan dengan negara-negara yang kurang maju dan berupah rendah akan menurunkan standar hidup mereka.

2. Pola perdagangan

Para ekonom tidak dapat mendiskusikan efek perdagangan internasional atau merekomendasikan perubahan kebijakan pemerintah terhadap perdagangan dengan keyakinan apa pun kecuali mereka mengetahui teori mereka cukup baik untuk menjelaskan perdagangan internasional yang sebenarnya diamati. Akibatnya, upaya untuk menjelaskan pola perdagangan internasional, yaitu siapa menjual apa  dan kepada siapa, telah menjadi perhatian utama para ekonom internasional.

Beberapa aspek pola perdagangan mudah dimengerti. Iklim dan sumber daya dengan jelas menjelaskan mengapa Brasil mengekspor kopi dan Arab Saudi mengekspor minyak. Namun, sebagian besar pola perdagangan lebih halus. Mengapa Jepang mengekspor mobil, sedangkan Amerika Serikat mengekspor pesawat?

Pada awal abad ke-19, ekonom Inggris David Ricardo memberikan penjelasan tentang perdagangan dalam kaitannya dengan perbedaan internasional dalam produktivitas tenaga kerja, yaitu tentang konsep keunggulan komparatif. Penjelasan ini tetap menjadi wawasan yang kokoh. Namun, pada abad ke-20, penjelasan alternatif juga diajukan. Salah satu penjelasan yang paling berpengaruh, tetapi masih kontroversial, menghubungkan pola perdagangan dengan interaksi antara pasokan relatif sumber daya nasional seperti modal, tenaga kerja, dan tanah di satu sisi dan penggunaan relatif dari faktor-faktor ini dalam produksi barang yang berbeda di lain sisi.

3. Proteksionisme atau Berapa banyak yang perlu diperdagangkan?

Jika motif mendapatkan keuntungan dari perdagangan internasional adalah konsep teoritis yang paling penting dalam ekonomi internasional, maka perdebatan yang tampaknya tetap abadi adalah tentang berapa banyak perdagangan yang diperbolehkan atau yang menguntungkan. Ini adalah tema kebijakan yang paling penting.

Sejak munculnya negara-bangsa modern pada abad ke-16, pemerintah telah mengkhawatirkan pengaruh persaingan internasional terhadap kemakmuran industri dalam negeri dan telah mencoba melindungi industri dari persaingan asing dengan membatasi impor atau membantu mereka dalam persaingan dunia (proteksionisme). Salah satunya dengan memberi subsidi ekspor.

Misi ekonomi internasional yang paling konsisten adalah menganalisis dampak dari apa yang disebut kebijakan proteksionis ini, dan biasanya, meskipun tidak selalu, mengkritik proteksionisme dan menunjukkan keuntungan dari perdagangan internasional yang lebih bebas.

Perdebatan tentang berapa banyak perdagangan yang diizinkan mengambil arah baru di tahun 1990-an. Setelah Perang Dunia II, negara-negara demokrasi maju, yang dipimpin oleh Amerika Serikat, menjalankan kebijakan yang luas untuk menghilangkan hambatan perdagangan internasional; kebijakan ini mencerminkan pandangan bahwa perdagangan bebas tidak hanya merupakan kekuatan untuk kemakmuran tetapi juga untuk mempromosikan perdamaian dunia. Pada paruh pertama tahun 1990-an, beberapa perjanjian perdagangan bebas utama dinegosiasikan.

4. Neraca pembayaran

Pada tahun 1998, China dan Korea Selatan mengalami surplus perdagangan yang besar, masing-masing sekitar USD 40 miliar. Dalam kasus China, surplus perdagangan tidak luar biasa. Negara itu telah mengalami surplus besar selama beberapa tahun, memicu keluhan dari negara lain, termasuk Amerika Serikat, bahwa China tidak bermain sesuai aturan.

Jadi, apakah baik untuk menjalankan surplus perdagangan dan buruk untuk menjalankan defisit perdagangan? Tidak menurut orang Korea Selatan: Surplus perdagangan mereka dipaksakan oleh krisis ekonomi dan keuangan, dan mereka sangat tidak menyukai perlunya menjalankan surplus itu.

Perbandingan ini menyoroti fakta bahwa neraca pembayaran suatu negara harus ditempatkan dalam konteks analisis ekonomi untuk memahami artinya. Ini muncul dalam berbagai konteks khusus: dalam membahas investasi langsung asing oleh perusahaan multinasional (MNC), dalam menghubungkan transaksi internasional dengan akuntansi pendapatan nasional, dan dalam membahas hampir setiap aspek kebijakan moneter internasional.

5. Penentuan nilai tukar

Perbedaan utama antara ekonomi internasional dan bidang ekonomi lainnya adalah bahwa negara-negara biasanya memiliki mata uang mereka sendiri. Dan seperti yang diilustrasikan oleh nilai tukar euro atau dolar Amerika, nilai relatif mata uang dapat berubah seiring waktu, bahkan terkadang secara drastis.

Karena alasan historis, studi tentang penentuan nilai tukar merupakan bagian yang relatif baru dalam ekonomi internasional. Untuk sebagian besar sejarah ekonomi modern, nilai tukar ditentukan oleh tindakan pemerintah daripada ditentukan di pasar. Sebelum Perang Dunia I, nilai mata uang utama dunia ditetapkan dalam bentuk emas; untuk satu generasi setelah Perang Dunia II, nilai sebagian besar mata uang ditetapkan dalam dolar AS. Analisis sistem moneter internasional yang menetapkan nilai tukar tetap menjadi subjek penting.

Halaman selanjutnya …….. (Ekonomi Internasional dan cakupannya)

Loading...
Pages ( 1 of 2 ): 1 2Lanjut ยป

Tinggalkan Balasan