Belajar tatap muka atau dari rumah saja

Belajar tatap muka atau dari rumah saja?

Loading...

Belajar tatap muka atau dari rumah saja? mana yang paling efektif? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering ditanyakan oleh banyak kalangan masyarakat. Tidak hanya pelaku dunia pendidikan saja. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini.

Belakangan, akibat pandemi yang melanda dunia, belajar dari rumah menjadi semakin banyak dibahas. Pembelajaran online semakin naik daun. Juga tidak sedikit yang gagap bahkan hampir menyerah. Banyak sekali yang rindu pembelajaran tatap muka, dan hanya sebagian kecil saja yang tidak, termasuk.

Mengapa demikian? bukan berarti saya tidak suka pembelajaran tatap muka. Hanya saja kondisinya belum memungkinkan, karena risiko yang masih tinggi. Peluang munculnya dampak negatif lebih besar dibandingkan manfaat positifnya. Toh, saat ini Anda bisa berjumpa dengan saya lewat tulisan ini. Kalau tidak ada pandemi mungkin saja tulisan ini tidak akan hadir di hadapan Anda.

Kita kembali ke pertanyaan belajar tatap muka atau dari rumah saja? agar lebih komprehensif kita mulai dengan membahas apa itu belajar dan apa tujuan belajar di sekolah.

Belajar di sekolah adalah proses yang kompleks. Begitu pula dengan tujuan belajar di sekolah. Ada banyak sekali baik dari sisi individu dan dari sisi di luar individu siswa. Dari sisi individu siswa, bisa saja bertujuan untuk memperbaiki kehidupan agar lebih layak, ingin pandai, hanya ingin menyenangkan orang tua, mendapat pekerjaan, dan lain sebagainya.

Dari sisi eksternal siswa bisa datang dari bermacam-macam arah. Misalnya tujuan orang tua, tujuan guru, tujuan kepala sekolah, tujuan dinas pendidikan, tujuan pemerintah daerah, dan masih banyak lagi. Tujuan-tujuan itu ada yang sejalan dan ada pula yang bertentangan.

Tapi, sebenarnya apa itu belajar? Pertimbangkan definisi berikut ini dan implikasinya pada masing-masing pembelajaran:

  • Belajar adalah proses memperoleh pengetahuan atau keterampilan melalui studi, pengalaman, atau pengajaran.
  • Belajar adalah pengalaman yang menghasilkan perubahan perilaku yang relatif permanen.
  • Belajar adalah perubahan fungsi saraf sebagai konsekuensi dari pengalaman.
  • Belajar adalah proses kognitif untuk memperoleh keterampilan atau pengetahuan.
  • Belajar adalah peningkatan jumlah aturan dan konsep respons dalam memori sistem cerdas.

Definisi mana yang cocok dengan keyakinan Anda? Sekarang tanyakan pada diri Anda, bagaimana Anda bisa belajar? Pikirkan sesuatu yang Anda lakukan dengan baik. Luangkan waktu sebentar untuk menganalisis keterampilan atau perilaku tersebut. Bagaimana Anda mengembangkan keahlian Anda? Bagaimana Anda tumbuh dari pemula menjadi mahir atau ahli di bidang Anda?

Anda mungkin tidak mengembangkan keterampilan tingkat tinggi hanya dengan diberi tahu cara menyelesaikan tugas. Sebaliknya, Anda mungkin memiliki model, umpan balik, dukungan teman sebaya, dan banyak latihan. Seiring waktu, Anda mengembangkan keahlian Anda.

Anda mungkin telah memperluas keahlian itu lebih jauh dengan membagikannya kepada orang lain. Seperti kata orang bahwa “mengajar sebenarnya adalah belajar”. Model yang menjelaskan jenis proses pembelajaran ini disebut pelepasan bertahap dari kerangka pembelajaran bertanggung jawab.

Kerangka Pelepasan Bertahap dari Pembelajaran Bertanggung Jawab

Pelepasan bertahap dari kerangka pembelajaran bertanggung jawab sengaja menggeser beban kognitif dari guru sebagai model, menuju tanggung jawab bersama guru dan siswa, kemudian berakhir pada praktik dan aplikasi independen oleh siswa itu sendiri (Pearson & Gallagher, 1983). Ini berarti bahwa guru bergerak dari mengasumsikan “semua tanggung jawab untuk melakukan tugas. . . ke situasi di mana siswa memikul semua tanggung jawab belajarnya sendiri”(Duke & Pearson, 2002).

Pelepasan bertahap ini dapat terjadi selama sehari, seminggu, sebulan, atau setahun. Graves dan Fitzgerald (2003) mencatat bahwa “pembelajaran yang efektif sering kali mengikuti perkembangan di mana guru secara bertahap melakukan lebih sedikit pekerjaan dan siswa secara bertahap mengambil tanggung jawab yang semakin banyak untuk pembelajaran mereka sendiri. Melalui proses ini secara bertahap mengasumsikan tanggung jawab lebih dan lebih untuk pembelajaran mereka, bahwa siswa menjadi pelajar yang kompeten secara mandiri”.

Pelepasan bertahap dalam kerangka tanggung jawab ini awalnya dikembangkan untuk pembelajaran membaca, mencerminkan persimpangan beberapa teori belajar, termasuk:

  • Piaget (1952) bekerja pada struktur dan skema kognitif.
  • Vygotsky (1962, 1978) bekerja pada zona perkembangan proksimal.
  • Bandura (1965) tentang perhatian, retensi, reproduksi, dan motivasi.
  • Wood, Bruner, dan Ross (1976) bekerja pada pembelajaran scaffolding.

Secara keseluruhan, teori-teori ini menyarankan bahwa pembelajaran terjadi melalui interaksi dengan orang lain. Ketika interaksi ini disengaja, maka pembelajaran khusus terjadi.

Sayangnya, upaya terbaru untuk menerapkan pelepasan kerangka tanggung jawab secara bertahap membatasi interaksi ini pada pertukaran orang dewasa dan anak: Saya melakukannya; kami melakukannya bersama; Anda melakukannya.

Tetapi model tiga fase ini menghilangkan komponen yang benar-benar vital: siswa belajar melalui kolaborasi dengan teman sebayanya, atau fase Anda melakukannya bersama. Meskipun efektivitas pembelajaran sebaya telah dibuktikan dengan pelajar bahasa Inggris (Zhang & Dougherty Stahl, 2011), siswa dengan disabilitas (Grenier, Dyson, & Yeaton, 2005), dan pelajar diidentifikasi sebagai siswa yang berbakat (Patrick, Bangel, & Jeon, 2005).

Model implementasi yang lebih lengkap untuk pelepasan tanggung jawab secara bertahap mengakui sifat pembelajaran rekursif dan memiliki siklus guru dengan sengaja melalui pengaturan tujuan dan pembelajaran terbimbing, pembelajaran kolaboratif, dan pembelajaran pengalaman mandiri.

Pada Gambar di atas, menunjukkan peta fase pembelajaran ini, yang menunjukkan bagian tanggung jawab yang dimiliki siswa dan guru di masing-masing fase.

Tidak disarankan bahwa setiap pembelajaran harus selalu dimulai dengan pembelajaran terfokus pada guru (penetapan tujuan dan pemodelan) sebelum melanjutkan ke pembelajaran terbimbing, kemudian ke pembelajaran kolaboratif, dan akhirnya ke tugas independen (Grant, Lapp, Fisher, Johnson, & Frey, 2012).

Guru bisa menyusun ulang fase-fase ini. Misalnya, memulai dari pembelajaran dengan tugas independen, seperti siswa melakukan pengamatan, membuat resume, atau membuat kelompok siswa dan melakukan penyelidikan secara kolaboratif sebelum memberikan model kepada guru.

Belajar tatap muka atau dari rumah, mana yang lebih baik?

Nah, sekarang kita sudah mendapatkan sedikit gambaran tentang bagaimana posisi pembelajaran tatap muka dan pembelajaran dari rumah. Bila melihat fase-fase belajar tadi justru belajar dari rumah adalah komponen belajar yang terpenting dan tidak tergantikan.

Belajar tatap muka di sekolah bisa digantikan dengan tatap maya menggunakan media pembelajaran komunikatif. Misalnya menggunakan video konferensi atau bentuk komunikasi asinkron. Dengan catatan dalam kondisi yang siap dan media yang digunakan reliabel.

Hanya saja kita belum terbiasa dengan pembelajaran seperti ini. Kita belum pernah menggunakan kerangka pembelajaran bertanggung jawab. Pelepasan tanggung jawab belajar secara gradual harus dimulai. Sekaranglah waktu yang tepat agar siswa punya tanggung jawab yang lebih tinggi terhadap pembelajarannya sendiri.

Lalu bagaimana dengan fase-fase pelepasan tanggung jawab itu? Jangan khawatir, kita akan bahas sedikit demi sedikit. Doakan saya ada waktu untuk menulisnya ya, sampai di sini dulu jangan lupa jaga kesehatan dan salam belajar menyenangkan kapan saja dan di mana saja (maglearning.id).

Loading...

3 comments

Tinggalkan Balasan